Bagikan:

YOGYAKARTA – Sebelum menstruasi dimulai, atau bagian dari pramenstruasi bisa sangat bervariasi gejalanya. Gejala ini dialami antara 5 hari dan dua minggu sebelum hari menstruasi. Banyak orang menyebutnya gejala PMS (pramenstruasi) yang berikut ini hal yang dialami.

1. Kram perut

Kram perut pada masa PMS disebut dismenore primer yang umum dialami. Kram dirasakan beebrapa hari menjelang menstruasi dan beberapa hari setelah menstruasi dimulai. Tingkat keparahan kram sangat bervariasi setiap perempuan. Mulai dari nyeri ringan hingga yang ekstrem sampai mengganggu aktivitas.

Kram pramenstruasi dirasa pada perut bagian bawah. Rasa nyeri kadang menjalar sampai ke punggung bawah dan paha atas. Kram ini disebabkan kontraksi rahim yang membantu melepaskan lapisan dalam rahim (endometrium) saat kehamilan tidak terjadi. Kontraksi yang menyebabkan kram ini, dipicu produksi hormon asam lemak atau prostaglandin, yang tidak hanya mengatur siklus menstruasi tetapi juga ovulasi.

Apabila kram perut dirasa sangat parah, penting untuk periksa ke dokter. Sebab kondisi yang parah bisa melibatkan kondisi tertentu pada endometriosis, stenosis serviks, adenomyosis, penyakit radang panggul, dan fibroid. Kram yang terkait dengan kondisi tersebut, dikenal sebagai dismenore sekunder.

gejala premenstruasi yang normal dialami
Ilustrasi gejala premenstruasi yang normal dialami (Freepik/sitthiphong)

2. Tumbuh jerawat

Jerawat yang berhubungan dengan mestruasi cukup umum. Sebuah studi dilansir Healthline, Selasa, 20 Mei, melaporkan hasil amatannya pada sekelompok perempuan. Laporan tersebut menemukan sekitar setengah dari perempuan partisipan penelitian tersebut mengalami peningkatan jumlah jerawat sekitar seminggu sebelum menstruasi mereka dimulai.

Jerawat sebelum menstruasi sering muncul di dagu dan garis rahang. Namun ada juga yang mengalami jerawat pada bagian lain, seperti punggung atau area lain pada tubuh. Jerawat ini, disebabkan perubahan hormon alami terkait dengan siklus reproduksi perempuan.

Saat tidak terjadi kehamilan, ketika ovulasi, kadar estrogen dan progesteron menurun sementara androgen seperti testosterone meningkat. Androgen adalah sistem yang merangsang produksi sebum, minyak yang diproduksi kelenjar di dalam kulit. Nah, jika terlalu banyak sebum, jerawat akan tumbuh namun akan menghilang menjelang akhir menstruasi atau setelah kadar estrogen dan progesteron meningkat kembali.

gejala premenstruasi yang normal dialami
Ilustrasi gejala premenstruasi yang normal dialami (Freepik/wayhomestudio)

3. Payudara nyeri

Di tengah siklus menstruasi, kadar progesteron meningkat, dan ini membuat kelenjar susu di payudara membesar dan membengkak. Perubahan ini menyebabkan rasa nyeri serta bengkak pada payudara sebelum atau selama menstruasi. Gejala ini mungkin ringan bagi sebagian orang, tetapi ada pula yang merasa tidak nyaman.

4. Kelelahan

Menjelang saat ovulasi menjelang menstruasi, tubuh bersiap mempertahankan sel telur apabila dibuahi. Jika tidak, akan mentruasi. Pada saat ini, perubahan kadar hormon sering kali menyebabkan kelelahan. Perubahan suasana hati juga mungkin akan dirasakan. Beberapa orang yang mengalami PMS, akan sulit tidur dan memperburuk kelelahan.

5. Perut kembung

Jika perut terasa penuh atau seperti terasa tidak dapat buang air besar, mungkin akibat PMS. Perut akan terasa kembung, celana denim juga lebih sulit dikancing. Ini disebabkan perubahan kadar estrogen dan progesteron yang menyebabkan tubuh menahan banyak air dan garam lebih banyak dari biasanya. Berat badan saat PMS juga dapat naik satu atau dua pon. Tetapi kembung dan naik berat badan selama PMS bukanlah hal permanen.

gejala premenstruasi yang normal dialami
Ilustrasi gejala premenstruasi yang normal dialami (Freepik/8photo)

6. Mengalami masalah usus

Karena usus sensitif terhadap perubahan hormon, seseorang yang mengalami PMS mungkin mengalami perubahan dalam kebiasaan ke kamar mandi sebelum atau selama menstruasi. Prostaglandin yang menyebabkan kontraksi rahim, juga menyebabkan kontraksi usus. Sebelum dan selama menstruasi, mungkin mengalami diare, sering buang air besar, mual, perut kembung, bahkan sembelit.

7. Sakit kepala

Hormon bertanggung jawab menghasilkan respons nyeri, maka saat merasakan sakit kepala dan migrain saat PMS, disebabkan fluktuasi hormon. Serotonin adalah neurotransmitter yang sering memicu migrain dan sakit kepala saat kadarnya berfluktuasi. Estrogen, dapat  meningkatkan kadar serotonin dan jumlah reseptor serotonin pada otak di titik-titik tertentu selama siklus menstruasi. Ini yang memicu serangan migrain.

Sebuah penelitian melaporkan lebih dari 50 persen wanita yang mengalami migrain melaporkan ada hubungannya dengan siklus menstruasi. Ini dirasakan sebelum, selama, atau segera setelah menstruasi. Ada pula wanita yang mengalami migrain saat ovulasi. Penelitian lain menemukan, migrain dialami 1,7 kali lebih mungkin saat 1 hingga 2 hari sebelum menstruasi dan 2,5 kali selama 3 hari pertama menstruasi.

8. Perubahan suasana hati

Gejala emosional saat PMS terkadang bisa lebih parah daripada gejala fisik. Bisa saja saat ini mengalami perubahan suasana hati, mudah tersinggung, sensitif, kecamasan, dan depresi. Naik turunnya suasana ini ini, karena fluktuasi kadar estrogen dan progesteron. Estrogen yang memengaruhi serotonin dan endorfin, sehingga perasaan jadi lebih sensitif. Progesteron rendah juga mungkin penyebab menangis tanpa alasan saat menstruasi.

9. Nyeri punggung bawah

Kontraksi rahim dan perut yang dipicu pelepasan prostaglandin juga dapat menyebabkan kontraksi otot punggung bawah. Rasa sakit atau terasa tertarik mungkin dirasakan. Beberapa orang merasakan nyeri punggung bawah secara signifikan selama menstruasi. Ada juga rasa nyeri yang tidak nyaman namun ringan terasa di punggung selama PMS.

10. Sulit tidur

Gejala PMS, seperti kram perut, sakit kepala, dan perubahan suasana hati dapat memengaruhi tidur. Suhu tubuh saat menstruasi akan meningkat. Suhu inti tubuh yang naik sekitar setengah derajat setelah ovulasi dan tetap tinggi saat mulai menstruasi, dapat mengganggu kemampuan beristirahat dengan nyaman.

Itulah sejumlah gejala pramenstruasi yang normal dialami. Beberapa orang, merasakan tanda PMS yang ringan dan dapat ditoleransi. Tetapi apabila gejalanya mengganggu aktivitas, pertimbangkan untuk periksa dan konsultasi ke dokter obgyn.