Bagikan:

JAKARTA - Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena umrah plus wisata semakin digemari di kalangan masyarakat Indonesia.

Umrah kini tidak hanya dilihat sebagai bentuk ibadah semata, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman spiritual yang dilengkapi dengan eksplorasi budaya di negara-negara lain seperti Turki atau negara Timur Tengah lainya.

Menariknya, tren ini justru semakin meningkat di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil dan nilai tukar mata uang asing yang tinggi. Masyarakat tetap menunjukkan semangat tinggi untuk berangkat ke tanah suci.

“Insya Allah, untuk para tamu Allah ini tidak meredup niatnya mereka untuk ke Tanah Suci karena mereka berharap bahwasannya pergi umrah ini akan melipatgandakan rezeki mereka,” ujar Annisa Zulfida Umasugi, Direktur Utama Ventour Travel, dalam gelaran Ventour Award 2025 di Jakarta, baru-baru ini. 

Menurut Annisa, umrah kian diminati karena waktu tunggu haji reguler yang bisa mencapai lebih dari 20 tahun di Indonesia. Banyak calon jemaah akhirnya beralih ke umrah sebagai solusi untuk tetap bisa menjalankan ibadah ke Tanah Suci tanpa harus menunggu terlalu lama.

“Mereka lebih memilih umrah karena percepatannya. Dan kalau ditambah dengan leisure seperti ke Turki, itu justru lebih diminati belakangan ini,” tambahnya.

Seiring dengan perubahan tren ini, pelaku industri perjalanan umrah juga mulai menyesuaikan pendekatan mereka. Edukasi kepada jamaah menjadi aspek yang semakin ditekankan baik terkait manasik, budaya lokal di Arab Saudi, hingga hal-hal praktis seperti cuaca dan etika berpakaian.

“Kita informasikan secara detail bagaimana cuaca di sana. Kalau musim panas, kita edukasi jamaah untuk membawa payung, pakaian tipis, dan juga obat-obatan,” jelas Annisa. Ia juga menambahkan pentingnya memahami norma berpakaian di Arab Saudi, “Karena mostly di Saudi Arabia culture-nya memakai warna hitam, kita tidak memaksakan mereka pakai warna lain, tapi tetap kita sampaikan informasi yang relevan.”

Sementara itu, pelaksanaan ibadah haji juga menghadapi tantangan tersendiri, khususnya terkait dengan visa Furoda jalur undangan yang memungkinkan keberangkatan tanpa antre panjang. Hingga pertengahan 2025, sistem untuk visa ini disebut belum aktif secara penuh.

“Sampai saat ini, sistem visa Furoda memang belum on. Tapi untuk haji reguler dari pemerintah, alhamdulillah sudah berjalan,” terang Annisa.

Kondisi ini membuat umrah kembali menjadi pilihan utama bagi banyak masyarakat yang ingin segera beribadah ke Tanah Suci. Ditambah dengan fleksibilitas program dan penawaran perjalanan yang kini lebih variatif, tren umrah plus wisata tampaknya akan terus berkembang di masa mendatang.