Bagikan:

JAKARTA - Otoritas kesehatan Thailand mengungkap kekhawatiran mengenai potensi lonjakan kasus COVID-19 setelah penyelenggaran Festival Songkran. Festival tersebut digelar selama 5 hari dan melibatkan kegiatan perang air.

Kekhawatiran akan lonjakan kasus COVID-19 karena faktor seperti kontak dekat selama acara perang air. Kemudian perjalanan nasional yang ekstensif saat festival berlangsung.

Kepala Departemen Virologi Klinis di Universitas Chulalongkorn, Dr. Yong Poovorawan, mengindikasikan bahwa kasus COVID-19 di Thailand sudah cenderung meningkat pada awal Apri, bertepatan dengan perayaan Songkran, dikutip dari VnExpress International, pada Kamis, 17 April 2025.

Berdasarkan studi terhadap lebih dari 8 ribu kasus COVID-19 dari tahun sebelumnya, tercatat bahwa penyebaran virus difasilitasi akan pertemuan ramai di ruang terbatas. Tak hanya itu, peningkatan juga terjadi karena naiknya mobilitas selama periode Festival Songkran.

Oleh karena itu, pengobatan terutama difokuskan pada penanganan gejala, kecuali kelompok rentan. Seperti wanita hamil, individu dengan obesitas, atau mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh terganggu.

Populasi juga disebutkan mungkin memerlukan pengobatan antivirus dan pemantauan ketat untuk mencegah komplikasi saat mengidap COVID-19 setelah mengikuti Festival Songkran.

Sementara itu, Festival Songkran merupakan perayaan tahun baru tradisional di Thailand yang snagat populer. Festival ini juga merupakan salah satu hari libur nasional terbesar di Thailand.

Festival Songkran tercatat dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO. Perayaan ini berlangsung pada pertengahan April setiap tahunnya, setelah panen padi, saat orang-orang berkumpul bersama keluarga untuk memberikan penghormatan pada orangtua, leluhur, patung Buddha, penyiraman air, pertunjukkan musik, dan berbagai pesta meriah selama kurang lebih seminggu.