Bagikan:

JAKARTA - Masalah sampah bukan hanya persoalan lokal, tetapi juga telah menjadi isu global yang harus segera diatasi. Sampah diproduksi setiap hari oleh setiap individu, dan jika tidak ditangani dengan baik, dapat menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Kabupaten Kudus, yang telah menghadapi permasalahan sampah selama bertahun-tahun, kini berupaya untuk mencari solusi inovatif dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk masyarakat dan sektor swasta.

Menurut Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman, dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kabupaten Kudus, Abdul Halil, tempat pembuangan akhir (TPA) di Kudus telah berusia lebih dari 30 tahun dan semakin penuh. Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah dan masyarakat mencari solusi agar permasalahan sampah ini tidak semakin memburuk.

Hal ini diungkapkannya melalui acara Inagurasi Gerakan Digital Kudus Asik dan Apresiasi 370 Mitra Pengelolaan Sampah Organik yang diselenggarakan oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) melalui gerakan Kudus Apik Resik (Kudus Asik).

"Sampah tidak bisa ditunda dan setiap orang setiap hari membuang sampah," ujar Halil, saat kunjungan ke Djarum Oasis Kretek Factory, Bacin, Kudus, Jawa Tengah pada Rabu, 26 Februari.

Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak agar pengelolaan sampah dapat berjalan efektif dan berkelanjutan. Salah satu tantangan utama dalam pengelolaan sampah adalah kebiasaan masyarakat yang masih mencampur sampah organik dan anorganik dalam satu wadah.

Pemerintah Kabupaten Kudus telah menginisiasi berbagai inovasi dalam pengelolaan sampah, salah satunya adalah program Desa Mandiri Sampah, yang telah diterapkan di Desa Kedondong, Demak, Jawa Tengah.

Program ini mendorong masyarakat desa untuk mengolah sampah mereka secara mandiri sehingga tidak semuanya berakhir di TPA. Program ini juga melibatkan sektor swasta, seperti Djarum Foundation untuk mendukung implementasinya.

Selain itu, pemerintah Kudus juga menerapkan kebijakan pemilahan sampah berdasarkan jadwal pengangkutan yang berbeda.

"Petugas kami diatur untuk mengambil sampah organik pada hari Senin, Rabu, dan Jumat, sementara sampah anorganik diambil pada hari Selasa dan Kamis," jelas Halil.

Dengan kebijakan ini, diharapkan jumlah sampah yang masuk ke TPA dapat dikurangi secara signifikan. Namun, perubahan sistem pengelolaan sampah ini tidak selalu berjalan mulus.

Masih ada masyarakat yang beranggapan bahwa membayar iuran sampah sudah cukup, tanpa perlu ikut memilah sampah dari rumah. Padahal, memilah sampah bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama demi keberlangsungan lingkungan yang lebih baik.

Deputi Program Manager Bakti Lingkungan Djarum Foundation, Redi Joko Prasetyo, menyampaikan bahwa permasalahan sampah di Kudus semakin kompleks dan membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak, termasuk swasta.

"Kunci dari penyelesaian sampah adalah pemilahan. Sampah harus dipilah dengan baik agar bisa membawa manfaat," kata Redi.

Djarum Foundation telah mengambil peran dalam menangani sampah organik, yang dianggap sebagai jenis sampah paling kotor dan sulit dikelola. Dengan memilah sampah organik secara efektif, limbah ini dapat diolah menjadi pupuk untuk mendukung penghijauan dan keberlanjutan lingkungan di Kudus.

"Sampah anorganik lebih bersih secara lingkungan dan memiliki nilai jual, baik di bank sampah maupun melalui pemulung," tambah Redi.

Salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah di Kudus adalah mengubah kebiasaan masyarakat dalam membuang sampah. Selama ini, banyak orang membuang sampah tanpa memilahnya, sehingga menyulitkan proses daur ulang dan pengolahan lebih lanjut.

"Untuk mengajak masyarakat memilah sampah dan mengubah budaya ini memang tidak mudah. Sampah yang dibuang biasanya sudah tercampur antara organik dan anorganik. Padahal, jika dipilah sejak awal, manfaatnya akan jauh lebih besar." ungkap Redi.

Dengan adanya program edukasi dan kebijakan pemilahan sampah yang ketat, diharapkan masyarakat Kudus semakin sadar akan pentingnya pengelolaan sampah yang baik. Selain mengurangi beban TPA, pemilahan sampah juga membuka peluang untuk daur ulang.