JAKARTA - Setiap kali pergi ke salon atau memangkas rambut di rumah, potongan rambut sering kali langsung dibuang tanpa pikir panjang. Namun, tahukah Anda bahwa potongan rambut tersebut bisa dimanfaatkan menjadi pupuk alami?
Ternyata, sisa potongan rambut yang biasanya dianggap sampah bisa diubah menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman di rumah atau kebun.
Rambut manusia terdapat keratin, sebuah protein yang kaya akan nitrogen, fosfor, dan kalium. Unsur tersebut adalah elemen penting dalam pertumbuhan tanaman. Ketika potongan rambut dimanfaatkan dengan benar, ia bisa menjadi pupuk alami yang menyuburkan tanah, mendorong tanaman untuk tumbuh lebih sehat, dan membantu dalam mengurangi kebutuhan akan pupuk kimia yang berbahaya bagi lingkungan.
Rambut manusia mengandung unsur-unsur yang sangat bermanfaat untuk tanaman, terutama dalam meningkatkan kualitas tanah. Keratin yang terkandung dalam rambut membantu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan retensi air, serta menyediakan nutrisi yang dibutuhkan tanaman untuk berkembang. Ketika ditambahkan ke dalam tanah, rambut secara perlahan akan terurai dan memberikan manfaat jangka panjang, terutama dalam mempertahankan kelembapan tanah.
Pupuk dari rambut (VOI/Adelia)
Oky Andries selaku Chief Marketing Officer dari Chief Barber & Supplies Co menyebut sampah potongan rambut dapat menjadi masalah besar. Setiap hari, banyak potongan rambut yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Hal ini diungkapkan dalam acara konferensi pers KARMA Project - Kreasi Rambut Masa Depan.
"Setiap hari, potongan rambut menghasilkan sampah yang cukup banyak, sekitar 10 hingga 15 gram per orang, dan lebih banyak lagi untuk wanita karena panjang rambut mereka," ujar Oky, saat ditemui di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan pada Jumat, 21 Februari.
Dalam sebulan, jumlahnya bisa mencapai 1 kg rambut yang terbuang begitu saja. Sayangnya, sampah rambut yang terbuang ini biasanya berakhir di TPA, padahal limbah ini bisa memiliki dampak lingkungan yang serius.
"Rambut manusia berasal dari bagian tubuh yang aman untuk lingkungan, namun malah berakhir di tempat pembuangan menghasilkan gas metana, yang lebih berbahaya daripada polusi dari kendaraan mobil maupun motor," ucapnya.
Menurut Oky, rambut bisa menghasilkan suhu 25 kali lebih panas dibandingkan dengan gas metana, yang berdampak pada pemanasan global. Untuk mengatasi masalah ini, Chief Barber & Supplies Co meluncurkan KRAMA (Kreasi Rambut Masa Depan) sebuah gerakan untuk mengolah limbah rambut menjadi pupuk organik Eco Hairtilizer.
BACA JUGA:
Chief Barber & Supplies Co mengumpulkan rambut dan diberikan kepada tim Kumpulin agar rambut-rambut tersebut diolah menjadi pupuk alami. Dengan mengumpulkan rambut yang biasanya terbuang, mereka berupaya memberikan solusi yang lebih ramah lingkungan. Tim Kumpulin kemudian berkoordinasi dengan Mitra Bandotan Farm di Semarang, Jawa Tengah untuk mengolahnya menjadi pupuk Eco Hairtilizer.
"Kita mulai inisiatif dan membuka pandangan costumer pelaku bisnis dan brand harus tanggungjawab dari rambut dan sumber mata pencarian kita," ungkap Oky.
Melalui program ini, rambut yang terkumpul kemudian diproses menjadi pupuk alami yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanah.
Tanaman (VOI/Adelia)
"Rambut yang kami terima akan dicuci terlebih dahulu, kemudian dikeringkan dan digiling. Setelah itu, proses fermentasi dilakukan untuk mengubahnya menjadi pupuk yang aman dan efektif." jelas Annisa Natamiharja, Chief Operating Officer (COO) Kumpulin.
Dengan harga yang terjangkau, Eco Hairtilizer dijual dengan harga Rp8.000, lebih murah dibandingkan dengan pupuk biasa yang dijual seharga Rp15.000. Inisiatif ini tidak hanya memberikan manfaat bagi tanaman, tetapi juga berperan dalam mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA, mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, dan membantu mengurangi kebutuhan akan pupuk impor.