Bagikan:

JAKARTA - Desainer ternama Michael Kors memulai perjalanannya di industri mode pada era 80-an, saat fashion masih menjadi dunia yang eksklusif. Kala itu, peragaan busana hanya bisa dinikmati oleh para profesional di industri ini, publik tidak pernah melihatnya secara langsung.

Namun, segalanya berubah ketika memasuki era 90-an. Supermodel membawa kepribadian dan daya tarik yang luar biasa, sementara Hollywood kala itu kehilangan sentuhan glamornya. Mode pun menjadi tempat di mana orang mencari kemewahan. Untuk pertama kalinya, dunia mode diakui sebagai bagian dari budaya pop.

Di saat yang sama, batas negara dalam dunia mode mulai memudar. Kors menemukan dirinya mendesain untuk Céline di Paris, sementara desainer lain seperti John Galliano menggebrak panggung mode di Givenchy dan Dior. Mode tidak lagi terbatas oleh kebangsaan, desainer dari berbagai belahan dunia berkarya di Paris, membentuk pengaruh global yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Saat ini, fashion jauh lebih inklusif. Tidak perlu tinggal di kota besar untuk menikmati tren terbaru, siapa pun bisa menonton peragaan busana dari mana saja melalui internet. Media sosial telah mengubah cara mode dikonsumsi, dengan siklus tren yang bergerak begitu cepat.

Meski begitu, Kors tetap percaya akan pentingnya menikmati momen secara langsung. Ia masih membaca cetakan fisik, pergi ke bioskop, dan mencintai teater.

"Saya tidak ingin hidup sebagai algoritma, dan saya rasa tidak ada yang seharusnya begitu," ujar Kors, dikutip VOI dari laman Standard.co.uk pada Kamis, 20 Februari.

Kors telah menjadi bagian dari berbagai momen mode yang tak terlupakan. Saat mendesain sebagian besar pakaian Rene Russo dalam film The Thomas Crown Affair, ia ingin menampilkan perempuan berusia 30-an ke atas dengan cara yang baru, yakni tetap seksi, vital, dan berkuasa, tanpa terjebak dalam stereotip wanita karier ala 80-an.

Momen lain yang tak terlupakan adalah ketika Michelle Obama mengenakan gaun rancangan Kors dalam potret resminya sebagai Ibu Negara. Sebelumnya, para First Lady Amerika mengenakan setelan warna-warni dengan mutiara dan bros dalam potret resmi mereka. Namun, Michelle Obama tampil berbeda dengan gaun hitam tanpa lengan yang menunjukkan lengan tonenya. Hal ini menciptakan citra yang lebih modern dan penuh kepercayaan diri.

Bagi Kors, keberhasilan bukan hanya ketika orang mengenakan rancangannya, tetapi saat mereka merasa percaya diri dan nyaman dalam pakaian tersebut. Ia bahkan memiliki kebiasaan menghitung tas tangan rancangan Michael Kors setiap kali berada di bandara, sebuah validasi bahwa ia telah melakukan pekerjaannya dengan baik.

Mode terus berubah, dan aturan lama perlahan menghilang. Dulu, orang memiliki aturan ketat tentang pakaian berdasarkan waktu, tempat, dan musim. Kini, dunia bergerak dengan cepat, dan orang-orang perlu beradaptasi dengan perubahan cuaca dan gaya hidup yang dinamis.    

Menurut Michael Kors, jika ada satu item mode yang pantas untuk diinvestasikan, itu adalah jaket hitam yang luar biasa.

"Jaket hitam yang pas bisa dikenakan dengan apa saja, mulai dari jeans hingga gaun malam," katanya.

Selain itu, ia mengakui obsesinya terhadap kemeja putih dan outerwear yang istimewa, seperti mantel bordir atau mantel berbahan double-faced, yang mampu membuat pakaian sederhana terasa spesial.

Baginya, mode bukan hanya tentang penampilan, tetapi juga bagaimana seseorang merasa dalam pakaian yang dikenakannya. Ketika seseorang mengenakan sesuatu yang tepat, postur tubuh mereka berubah, kepercayaan diri meningkat, dan semangat pun terangkat.

"Orang-orang yang mengaku tidak peduli pada mode tetap harus memilih sesuatu untuk dikenakan setiap hari," ujarnya.

Di akhir, Michael Kors mengingatkan bahwa esensi sejati dari mode mewah bukan sekadar harga, tetapi bagaimana pakaian membuat seseorang merasa spesial dan menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

"Dan kemewahan terbesar dari semuanya? Waktu dan ruang." pungkasnya.