JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 sudah dalam proses finalisasi untuk dilaporkan kepada Bapak Presiden. Di dalam RUPTL tersebut, salah satu diantaranya adalah PLTN.

"Untuk PLTN itu kita mulai on itu 2030 atau 2032. Jadi mau tidak mau kita harus melakukan persiapan semua regulasi yang terkait dengan PLTN," ujar Bahlil dalam keterangan yang dikutip Senin, 21 April.

Menurut Bahlil, PLTN merupakan energi baru yang murah, dan bisa dimanfaatkan untuk menguatkan sistem kelistrikan nasional. Selain itu, penggunaan nuklir juga akan mengurangi pemanfaatan energi listrik berbahan bakar fosil.

Namun, ia menekankan bahwa pemanfaatan nuklir sebagai sumber pembangkit listrik harus diimbangi dengan sosialisasi kepada masyarakat secara masif sehingga masyarakat memahami pemanfaatan nuklir.

Sebelumnya Kementerian ESDM juga telah mengeluarkan aturan terkait Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) yang tertuang dalam Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 85.K/TL.01/MEM.L/2025. Aturan yang diteken pada 5 Maret yang lalu ini juga mengatur terkait Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir.

Dalam beleid anyar ini disebutkan, untuk diversifikasi pasokan tenaga listrik dan meningkatkan keandalan pasokan dari pembangkit baseload, PLTN pertama ditargetkan mulai commercial operation date pada tahun 2032.

Sementara itu terkait pemilihan lokasi pembangunan PLTN di suatu wilayah dilakukan dengan pertimbangan antara lain lokasi yang aman dari ancaman bencana geologi, daerah tidak padat penduduk, dan daerah bukan lumbung pangan.

Sementara itu pembangunan dan pengoperasian PLTN harus mensyaratkan jaminan pasokan bahan bakar nuklir dan pengelolaan limbah radioaktif.

Adapun teknologi PLTN mencakup small modular reactor (SMR), pressurized water reactor, dan teknologi PLTN lainnya yang terus berkembang.

Berdasarkan Laporan Teknis Ringkas yang diterbitkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), terdapat potensi sumber daya terukur thorium sekitar 4.729 ton dan uranium U308 sekitar 5.234 ton.

Potensi tersebut tersebar di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekitar 2.840 ton uranium U308 dan sekitar 4.729 ton thorium dan Provinsi Kalimantan Barat sekitar 2.394 ton uranium U308.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+