JAKARTA - Komite Internasional Palang Merah (ICRC) pada hari Selasa menyatakan siap melanjutkan kunjungan kepada tahanan dan narapidana Palestina yang ditahan di fasilitas penahanan dan penjara Israel.

Juru bicara ICRC di Tepi Barat, Muhammad Abdullah, mengatakan kepada WAFA, "Kami menegaskan kesiapan kami untuk mulai mengunjungi tahanan dan narapidana di berbagai fasilitas penahanan dan penjara Israel."

"Kami belum memiliki tanggal pasti untuk memulai kunjungan. Kami sedang menindaklanjuti masalah ini dan menunggu keputusan untuk mengizinkan kami masuk," jelasnya, dikutip dari WAFA (1/7).

Sebelumnya, Knesset Israel pada Hari Senin gagal mengesahkan rancangan undang-undang yang bertujuan untuk mencegah perwakilan ICRC mengunjungi tahanan Palestina di penjara Israel atau memperoleh informasi tentang mereka.

Rancangan undang-undang tersebut ditolak setelah mendapat dukungan dari 36 anggota parlemen, sementara 41 anggota menentangnya.

Pemungutan suara dipengaruhi oleh boikot dari partai-partai ultra-Ortodoks di tengah perselisihan dalam koalisi pemerintahan mengenai undang-undang yang telah disepakati sebelumnya.

Abdullah mengatakan hasil tersebut menjadi pengingat penting tentang peran ICRC dalam memantau kondisi penahanan dan perlakuan terhadap tahanan sesuai dengan Konvensi Jenewa.

Diterangkannya, organisasi tersebut tetap terlibat dalam dialog dengan otoritas Israel dalam upaya untuk melanjutkan pekerjaannya di fasilitas penahanan sesegera mungkin.

Ia menunjukkan bahwa, berdasarkan Konvensi Jenewa Keempat, ICRC berhak untuk mengakses tahanan dan bertemu dengan mereka secara individual, tanpa kehadiran petugas Israel atau perwakilan lainnya.

Abdullah menekankan, sesuai dengan hukum humaniter internasional, ICRC beroperasi di lebih dari 130 konflik bersenjata di seluruh dunia, tanpa insiden apa pun yang memengaruhi pihak mana pun dalam konflik bersenjata.

"Kami adalah badan netral, dan mandat kami mengharuskan kami, serta semua pihak dalam konflik, untuk mengunjungi tempat-tempat penahanan dan bekerja untuk meringankan penderitaan warga sipil yang terjebak dalam konflik bersenjata," tandasnya.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+