JAKARTA – Bank Jakarta menyiapkan empat strategi untuk memperkuat perannya dalam pembangunan Jakarta, mulai dari memperluas akses layanan keuangan, mendukung UMKM, pembiayaan perumahan hingga menarik investasi.
Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan, tantangan Jakarta saat ini bukan lagi sekadar membangun infrastruktur atau menghadirkan teknologi baru. Menurutnya, yang perlu diperkuat adalah keterhubungan antara masyarakat, dunia usaha, investor, dan pemerintah.
“Jakarta tidak kekurangan gedung, jalan, maupun teknologi. Yang masih perlu diperkuat adalah keterhubungan antara warga dengan layanan, UMKM dengan pasar, investor dengan peluang, serta pemerintah dengan masyarakat,” kata Agus dalam Urban Talks BUMD: Katalisator Kota, Akselerator Pembangunan pada rangkaian Jakarta Future Festival 2026 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 5 Juni.
Agus menilai setiap BUMD memiliki fungsi yang berbeda dalam mendukung kehidupan perkotaan. MRT Jakarta berperan menghubungkan mobilitas warga, Transjakarta menjadi tulang punggung transportasi publik, sementara PAM Jaya mengelola layanan air bersih.
Di sektor keuangan, Bank Jakarta ingin mengambil posisi sebagai penghubung berbagai aktivitas ekonomi dan pembangunan kota.
“Bank Jakarta ingin menjadi Financial Operating System bagi Jakarta, yang menghubungkan berbagai peluang dan kebutuhan masyarakat dalam satu ekosistem keuangan yang terintegrasi,” ujarnya.
Untuk mencapai target tersebut, Bank Jakarta menempatkan perluasan inklusi keuangan sebagai salah satu fokus utama. Agus mengakui masih ada masyarakat yang belum terhubung dengan layanan keuangan formal sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih luas dan mudah dijangkau.
Selain itu, Bank Jakarta juga berupaya memperkuat pengembangan UMKM. Menurut Agus, pelaku usaha kecil tidak hanya membutuhkan akses pembiayaan, tetapi juga dukungan untuk memperluas pasar dan masuk ke ekosistem digital.
“UMKM tidak hanya membutuhkan pinjaman, tetapi juga membutuhkan kesempatan untuk berkembang dan masuk ke dalam ekosistem ekonomi yang lebih besar,” katanya.
Perseroan juga menaruh perhatian pada akses pembiayaan rumah bagi generasi muda. Agus menilai tingginya harga hunian di Jakarta menjadi tantangan yang perlu dijawab melalui skema pembiayaan yang lebih terjangkau.
“Akses pembiayaan rumah harus menjadi bagian dari strategi kota karena banyak anak muda yang kesulitan menjangkau harga rumah di Jakarta,” ucap Agus.
Di sisi lain, Bank Jakarta juga berupaya memperkuat kepercayaan investor untuk menanamkan modal di Jakarta. Sebab, pembangunan kota tidak bisa hanya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Peran Bank Jakarta bukan sekadar menghimpun dana dan menyalurkan kredit, tetapi menjadi penghubung antara warga, UMKM, pemerintah, dan investor dalam satu ekosistem kota,” tuturnya.
Agus menekankan transformasi digital yang berlangsung di Jakarta juga harus memberi manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat. Menurut dia, kemajuan teknologi tidak boleh hanya dinikmati kelompok tertentu.
“Teknologi tanpa inklusi hanya akan menciptakan kesenjangan yang semakin lebar. Karena itu, transformasi digital harus memberi manfaat bagi mereka yang selama ini tertinggal,” ujar Agus.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)