JAKARTA — Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal menilai kabar anak SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengakhiri hidupnya sebagai “pukulan berat” dan mengingatkan kasus serupa bisa berulang jika negara lambat merespons.

Ia meminta peristiwa itu tidak disederhanakan seolah hanya soal pensil, karena kemungkinan faktor lain—dari tekanan ekonomi sampai bullying—harus dibuka dengan jelas.

“Masih ada di negara kita hanya karena permasalahan kecil… kita sangat prihatin,” kata Cucun, Rabu, 4 Februari.

Dia menilai pembenahan relasi guru-murid perlu ditegaskan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, agar sekolah benar-benar peka membaca tanda-tanda masalah pada anak.

Politikus PKB ini menyebut fenomena ini tidak sesederhana alat tulis.

“Bisa jadi bukan karena masalah pensil, karena bullying dan segala macam,” ujarnya.

Karena itu, ia meminta Komisi X DPR segera mendengar langsung duduk perkara yang terjadi dan mengecek apakah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sudah mengetahui kasus tersebut.

Ia menegaskan, kasus ini tidak boleh diperlakukan sebagai insiden tunggal.

“Ini kan baru hanya satu case… bisa saja terjadi beberapa,” kata dia.

DPR, lanjutnya, mendorong langkah antisipasi dan pencegahan dari kementerian agar kejadian serupa tidak terulang.

Saat ditanya apakah perlu pendalaman oleh aparat penegak hukum, Cucun menyatakan itu “bagus” agar persoalan terang-benderang.

Ia menekankan pendalaman penting untuk memastikan publik tidak diarahkan pada satu narasi sempit, sementara akar masalahnya bisa berbeda.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)