Diancam Trump, Iran: Jari di Pelatuk, Tapi Fokus Perdamaian Berkelanjutan
JAKARTA - Juru bicara Pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani menegaskan negaranya terbuka terhadap kesepakatan perdamaian sekaligus tak gentar terhadap ancaman, khususnya pada retorika Presiden AS Donald Trump yang berapi-api.
“Kami melawan kekuatan militer terbesar di dunia selama 40 hari, dan kami masih siap menembak dan menunggu penyelesaian melalui negosiasi,” kata jubir perempuan tersebut dikutip oleh kantor berita ISNA, Selasa 12 Mei.
Mohajerani menekankan Iran siap menanggapi ancaman tetapi fokus utama tetap pada perdamaian berkelanjutan dan diplomasi berbasis kepentingan bersama.
“Fokus utama kami adalah perdamaian abadi, dan seperti yang dikatakan pemimpin yang gugur, kami mengejar masalah diplomatik dengan tiga prinsip kehormatan, kebijaksanaan, dan kepraktisan,” sambungnya.
Sebelumnya, Trump terus menebar tekanan terhadap Iran di tengah keinginan Pemerintahan AS yang mengaku ingin menghadirkan kesepakatan dalam negosiasi AS-Iran.
Trump sempat mengancam menargetkan infrastruktur publik dan fasilitas energi, bahkan mengancam akan menghancurkan peradaban Iran, jika tidak terjadi kesepakatan dengan AS dalam waktu dekat.
Terkini, menurut laporan CNN Internasional yang mengutip para ajudan presiden, Trump pekan ini mengancam akan melanjutkan perang kembali dengan melancarkan operasi militer skala besar ke Iran.
Trump ingin damai tapi terus menggunakan diplomasi berapi-api terhadap Iran. Disebutkan Trump mulai frustasi dengan penutupan terbatas Selat Hormuz yang merupakan tindakan balasan Iran atas serangan gabungan AS-Israel dalam perang 40 hari sebelumnya.