Tak Seperti Biasanya, Harga Emas Justru Anjlok Saat Timur Tengah Memanas
JAKARTA – Harga emas yang selama ini dikenal sebagai aset aman atau safe haven justru mengalami penurunan sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada akhir Februari 2026.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan investor mengenai peran emas di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Berdasarkan laporan terbaru LPL Financial harga emas tercatat turun sekitar 11 persen sejak konflik Iran dimulai pada 28 Februari 2026.
Padahal, dalam situasi perang atau ketidakpastian global, investor umumnya beralih ke emas untuk melindungi nilai aset mereka.
Dikutip dari Forbes, Kepala Strategi Makro LPL Financial, Kristian Kerr, mengatakan penurunan harga emas bukan berarti investor kehilangan kepercayaan terhadap logam mulia tersebut.
Menurutnya, emas saat ini justru berfungsi sebagai sumber likuiditas ketika sejumlah negara membutuhkan dolar Amerika Serikat dalam jumlah besar.
Negara-negara di kawasan Teluk Persia, terutama Uni Emirat Arab, disebut mengalami tekanan pendanaan dolar setelah gangguan di Selat Hormuz menghambat ekspor minyak dan lalu lintas kapal tanker.
Menurunnya ekspor minyak membuat aliran dolar ke kawasan tersebut ikut berkurang sehingga pemerintah membutuhkan dana tunai lebih cepat dibanding menyimpan aset lindung nilai seperti emas.
Salah satu contoh terjadi di Turki. Bank sentral negara itu dilaporkan menjual dan menukar cadangan emas senilai 3 miliar dolar AS dalam satu pekan pada Maret 2026 untuk menjaga stabilitas mata uang lira di tengah tekanan lonjakan harga energi.
Situasi tersebut membuat emas sementara ini lebih banyak dijual guna memenuhi kebutuhan likuiditas dibanding dibeli sebagai aset perlindungan.
Kristian Kerr menilai tekanan terhadap harga emas kemungkinan masih akan berlanjut selama negara-negara terdampak konflik membutuhkan dolar AS untuk menjaga stabilitas ekonomi mereka.
“Negara-negara yang terdampak gangguan energi biasanya lebih fokus memulihkan pasokan bahan bakar, menstabilkan anggaran, dan mengisi kembali cadangan devisa mereka, yang semuanya membutuhkan dolar AS,” ujar Kristian Kerr.
관련 항목:
Meski harga emas mengalami penurunan, kondisi itu dinilai bukan pertanda buruk bagi logam mulia tersebut.
Sebaliknya, emas dianggap tetap menjalankan fungsinya sebagai aset yang mudah dicairkan ketika terjadi tekanan ekonomi maupun krisis geopolitik global.