Mengenal Tradisi Toron Warga Madura Saat Iduladha

JAKARTA - Jika kebanyakan umat Muslim melakukan tradisi mudik saat momen Idulfitri, lain halnya dengan orang Madura yang pulang kampung ketika Iduladha.

Masyarakat Madura yang merantau ke luar daerah hampir pasti pulang kampung di momen-momen perayaan Iduladha. Padahal tak seperti perayaan Idulfitri, libur di Lebaran Haji ini terbilang lebih singkat.

Meski demikian, orang Madura disebut akan merasa malu atau tidak enak hati jika tidak pulang kampung ketika Iduladha. Apalagi banyak warga Madura yang menyelenggarakan pesta di momen-momen Iduladha. Mulai dari acara selamatan, silaturahmi, hingga pesta pernikahan.

"Jadi mudik di Madura itu, tidak hanya Idulfitri saja, tapi saat Iduladha, Maulid Nabi, hajatan, famili haji, kelahiran, kemudian ketika ada keluarga yang wafat, maka orang Madura yang sedang merantau pasti pulang kampung," kata Budayawan Madura, Abrari Alzael. 

Sejak Zaman Penjajahan Belanda

Pulang kampung dalam tradisi Madura dikenal dengan istilah toron. Secara harfiah, kata ini memiliki arti "turun". Sedangkan dalam tradisi Madura lain, ada juga toron tana (turun tanah), yaitu ketika seorang bayi berusia sekitar tujuh bulan menginjakkan kaki ke tanah.

Istilah toron lahir tidak lepas dari aktivitas onggha, yaitu melakukan migrasi ke tempat lain yang dituju. Bagi warga Madura, syarat terjadinya onggha adalah harus melakukan perpindahan ke luar pulau atau biasa disebut merantau. Jika perpindahan itu masih berada di dalam Pulau Madura, belum bisa disebut onggha.

Dua kata tersebut memiliki arti mendalam di kalangan warga Madura. Dosen Pendidika Sejarah Universitas Negeri Surabaya Mohammad Refi Omar Ar-Razy menuturkan, ada alasan khusus mengapa orang Madura menyebut pulang kampung disebut "turun" sedangkan merantau dibilang "naik".

Refi merujuk sebuah studi sejarah, di mana seorang antropolog Belanda yang menulis tentang Madura, Huub de Jonge, menganggap Madura pada zaman kerajaan adalah sebuah negara yang posisinya berada di bawah kerajaan-kerajaan di Jawa.

Itulah sebanya, orang Madura menyebut onggha atau naik ketika pergi ke Jawa dan menyebut toron atau turun saat kembali ke Madura.

"Karena sejak masa kerajaan, Madura itu selalu menjadi wilayah yang notabene adalah vasalnya kerjaan-kerajaan di Jawa. Vasal adalah negara atau kerajaan bawaan," ucap Refi.

"Oleh sebab itu, muncul mental bahwa mereka posisinya berada di bawah Jawa sehingga ke Jawa itu onggha sedangkan ketika kembali ke Madura adalah toron," ia menambahkan.

Jembatan Suramadu

Sementara itu, menurut pengajar Ilmu Sosial dan Kepala Program Studi Ilmu Sosial di IAIN Madura, Syukrion Romadhon, sebelum adanya Jembatan Suramadu, Madura sering dianggap sebagai wilayah yang lebih rendah secara akses. Itulah sebabnya, toron dimaknai sebagai turun dari tempat tinggi ke tempat rendah.

"Sebelum ada Jembatan Suramadu, Madura dianggap sebagai subordinat dari Pulau Jawa, sehingga toron dimaknai turun dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah," Syukron menjelaskan.

Seperti yang tela disinggung sebelumnya, tradisi toron telah berlangsung selama masa penjajaha Belanda. Banyak warga Madura dikerahkan untuk proyek jalan Anyer-Panurukan oleh VOC, dan kemudian menetap di luar Madura.

Mereka disebut sebagai orang Madura Pendalungan, yaitu warga Madura yang bercampur dengan budaya Jawa.

Pengendara roda dua antre memasuki pintu tol Jembatan Suramadu di sisi Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (24/6). (ANTARA/Moch Asim)

“Di Jawa kemudian ada istilah orang Madura swasta. Artinya, orang Madura yang tinggal di Jawa, tapi tradisinya, adat dan istiadatnya masih Madura,” kata Syukron.

Selain itu, kondisi alam Madura yang kurang subur juga menjadi faktor pendorong masyarakatnya merantau. Meski demikian, mereka akan toron dengan penuh kebanggaan setelah berhasil di perantauan. Warga Madura juga sering membawa kendaraan pribadi, perhiasan, hingga membagikan uang dan oleh-oleh sebagai bentuk sedekah.

Saat Maulid Nabi, tradisi toron juga menjadi kesempatan untuk berbagi lebih besar lagi.

"Ada yang bagi-bagi beras sekarung, uang, makanan, buah-buahan, alat dapur, pakaian, dan alat-alat lainnya,” ujar Syukron menyudahi.