Fenomena Nilai Tukar Rupiah yang Mendadak Kuat, Kemampuan Literasi Masyarakat Kembali Diuji

JAKARTA – Akhir pekan kemarin, warga Indonesia dihebohkan dengan harga nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di Google yang tercatat di angka Rp8.170. Pengamat keamanan siber Pratama Pershada menuturkan kelalaian yang dilakukan mesin pencarian Google berpotensi merugikan masyarakat.

Pada Sabtu 1 Februari sore, nilai tukar mata uang untuk 1 dolar AS yang ditampilkan di Google menjadi perbincangan hangat warganet Indonesia di berbagai platform media sosial.

Bagaimana tidak, kurs yang ditampilkan saat itu sangat berbeda jauh dari kondisi nyata pasar saat ini, yaitu Rp16.340 per 1 dolar AS menurut Bank Indonesia pada pagi di hari yang sama.

Atas fenomena ini, Google Indonesia mengakui dan menyadari ada masalah yang memengaruhi informasi terkait nilai tukar Rupiah (IDR) di Google Search.

“Data konversi mata uang berasal dari sumber pihak ketiga. Ketika kami mengetahui ketidakakuratan, kami menghubungi penyedia data untuk memperbaiki kesalahan secepat mungkin,” demikian keterangan Google.

Data Menyesatkan

Google adalah mesin pencari internet yang hampir selalu menjadi andalan orang di seluruh dunia. Di era digital seperti sekarang, informasi nilai tukar mata uang tersedia secara real-time melalui berbagai platform, termasuk Google.

Nilai tukar rupiah yang menguat 50% membuat orang bertanya-tanya apa yang keliru. (tangkapan layar laman Google.com)

Namun ketika Google “menguatkan” nilai tukar rupiah terhadap dolar secara mendadak dan sangat signifikan, hal ini justru memicu spekulasi liar, membuat kebingungan, bahkan harapan palsu di kalangan masyarakat.

Kabar yang dengan cepat menyebar luas ini membuat akhir pekan Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso sibuk. Ia mengonfirmasi bahwa BI langsung berkoordinasi dengan Google Indonesia soal ketidaksesuaian tersebut.

Ia menegaskan, level nilai tukar rupiah Rp8.000-an per dolar AS seperti yang ditunjukkan Google bukan level yang seharusnya.

Hal ini diamini Kepala Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC Pratama Pershada. Ia menuturkan, salah satu kemungkinan penyebabnya adalah kesalahan teknis dalam sistem Google atau platform penyedia informasi nilai tukar. Seperti halnya sistem teknologi lainnya, Pratama menjelaskan, Google mengandalkan algoritma yang menarik data dari berbagai sumber.

“Jika terjadi bug atau gangguan teknis dalam proses ini, data yang disajikan bisa menjadi tidak akurat atau bahkan menyesatkan,” ujar Pratama dalam keterangan yang diterima VOI.

“Selain itu, Google mengambil data nilai tukar dari berbagai sumber eksternal, termasuk lembaga keuangan, penyedia data ekonomi, dan pasar valuta asing. Perbedaan sumber ini bisa menyebabkan variasi dalam nilai tukar yang ditampilkan,” imbuhnya.

Pengaruhi Pengambilan Keputusan

Lebih jauh, fenomena menguatnya Rupiah terhadap dolar AS bukan saja soal kekeliruan data, tapi juga bisa dipandang sebagai ujian literasi masyarakat Indonesia dalam menghadapi informasi digital.

Gedung Kantor Google (dok Google)

Perlu diakui bahwa Google, dengan segala kecanggihannya, bukan otoritas keuangan yang bertanggung jawab atas kurs mata uang. Mereka hanya menarik data dari berbagai penyedia informasi finansial, seperti yang disinggung Pratama Pershada sebelumnya.

Untuk itu, jika terjadi kesalahan dalam sumber data yang mereka gunakan atau ada gangguan dalam algoritma yang memproses informasi, maka data yang muncul di mesin pencari bisa meleset dari kenyataan.

Sayangnya, tidak semua pengguna memahami mekanisme ini. Bahkan bagi sebagian besar orang, apa yang muncul di layar Google adalah fakta mutlak yang tak terbantahkan. Mengecek ulang apa yang mereka temukan di Google sepertinya menjadi sesuatu yang tak perlu dilakukan.

Padahal, kesadaran untuk selalu membandingkan data dari berbagai sumber, memahami cara kerja sistem keuangan global, dan memiliki wawasan tentang faktor-faktor yang memengaruhi nilai tukar adalah salah satu keterampilan penting di era digital seperti sekarang ini.

“Untuk memastikan informasi nilai tukar yang benar, disarankan agar pengguna tidak hanya mengandalkan Google sebagai satu-satunya referensi,” kata Pratama.

“Mengecek kurs rupiah dari sumber resmi seperti Bank Indonesia, lembaga keuangan besar, atau layanan keuangan terpercaya seperti Bloomberg, Reuters, dan OANDA akan memberikan gambaran yang lebih akurat dan dapat diandalkan,” ia menambahkan.

Penyedia layanan digital seperti Google, menurut Pratama, harus lebih bertanggung jawab menyediakan informasi ekonomi yang akurat, terutama karena banyak orang yang mengandalkan data mereka untuk pengambilan keputusan finansial.

Ketika data yang ditampilkan tidak akurat dan berlangsung dalam waktu yang lama tanpa koreksi, hal ini dapat menimbulkan kebingungan, keresahan, bahkan kegaduhan di tengah masyarakat.

Namun di sisi lain, masyarakat juga mesti lebih kritis dalam mengonsumsi informasi, termasuk yang berkaitan dengan data keuangan karena bisa berdampak besar pada keputusan ekonomi. Kesalahan kurs rupiah yang ditampilkan Google hanyalah salah satu contoh bagaimana informasi yang tidak akurat dapat menciptakan distorsi dalam persepsi ekonomi.

“Di tengah ketidakpastian digital, kehati-hatian dalam memverifikasi informasi adalah langkah penting dalam pengambilan keputusan finansial yang lebih baik,” pungkas Pratama soal nilai tukar rupiah yang mendadak menguat di laman google.