Kontroversi Donald Trump: Presiden AS yang Tak Percaya Perubahan Iklim
JAKARTA - Perubahan iklim jadi ancaman nyata beberapa negara di dunia. Naiknya suhu panas bumi dianggap membawa petaka besar. Nasib umat manusia menghadapi kepunahan manusia, flora, hingga fauna diramalkan kian cepat. Perubahan iklim dapat membawa dunia kelaparan.
Perubahan iklim juga jadi muara perebutan sumber daya alam -- ujung-ujungnya perang. Namun, tak semua pemimpin negara di dunia percaya dengan persoalan perubahan iklim. Ambil contoh Donald Trump. Presiden Amerika Serikat (AS) itu jutru menyakini perubahan iklim tipuan belaka, alias hoaks.
Belakangan perubahan iklim menjelma jadi isu penting. Perubahan suhu dan pola cuaca jangka panjang itu dianggap sebagai ancaman bagi eksistensi bumi dan seisinya. Perubahan iklim dianggap akan membawa banyak bencana, dari kekeringan hingga banjir.
Kondisi itu membawa banyak pulau terancam tenggelam. Petaka perubahan iklim akan terus berlanjut jika tak ditanggulangi bersama. Artinya, setiap negara punya kontribusi penting melakukan langkah mitigasi dan adaptasi.
Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim digelar. Amerika Serikat sering kali jadi aktor penting. Bahkan, jadi negara yang berani keluar banyak dana. keterlibatan AS jadi alasan banyak negara peduli dalam mengantisipasi perubahan iklim.
Semua itu berubah kala Donald Trump naik jadi pemimpin AS. Presiden AS era 2016-2021 itu secara ekstrem menganggap perubahan iklim sebagai akal-akalan ilmuwan belaka. Perubahan iklim hanya digambarkan sebagai agenda politik.
Perubahan iklim jadi isu yang kerap dilontarkan Trump dengan nada merendahkan. Kadang ia menganggap perubahan iklim tak ada. Kadang juga hanya mitos. Kadang pula tipuan. Ragam bahasa itu menegaskan bahwa perubahan iklim tak lebih dari berita bohong.
Ia membandingkan bahwa bahwa naik turunnya suhu bumi adalah hal yang biasa. Trump memandang AS pernah mengalami pemanasan dan pendinginan ekstrem pada tahun 1930-an. Ejekan akan perubahan iklim kian keras didengungkan kala salju mulai hadir AS.
관련 항목:
Ketidakpercayaan akan perubahan iklim bahkan sudah diungkapnya sebelum ia resmi jadi Presiden AS. Agenda perubahan iklim dianggapnya mahal. Namun, manfaat yang diterima AS tak pernah maksimal. AS jadi rugi. Negara lain justru untung bejibun dengan kucuran dana.
“Badai es melanda dari Texas ke Tennessee - Saya di Los Angeles dan cuacanya dingin sekali. Pemanasan global adalah tipuan yang sangat mahal,” ujar Trump dalam akun twitter/X @realDonaldTrump, 6 Desember 2013.
Abaikan Perjanjian Iklim Paris
Dunia memang mulai beramai-ramai melakukan agenda penyelamatan lingkungan hidup. Perlawanan terhadap perubahan iklim dikencangkan. Puncaknya, banyak negara bersepakat supaya dampak perubahan iklim tak terlalu parah lewat Perjanjian Iklim Paris pada 12 Desember 2015.
Amerika Serikat jadi bagian penting. Mereka jadi donatur utama. Namun, semasa Trump jadi Presiden AS semua berubah. Trump mulai beranggapan bahwa perubahan iklim hanya akal-akalan ilmuwan yang didorong uang.
Ia mulai menganggap bahwa AS tak perlu terlibat dalam Perjanjian Iklim Paris. Ia tak menyandarkan pendapatnya sesuai data mempuni. Namun, Trump mengungkapkan saja bahwa AS memiliki udara terbaik di dunia.
Pandangan itu membuat Trump mendapatkan kecaman dari mana-mana. Trump sendiri tak menganggap penting kritikan. Ia terus menganggap isu perubahan iklim dan Perjanjian Iklim Paris tak memilih urgensi tinggi.
Trump lalu memilih membawa AS keluar dari Perjanjian Iklim Paris pada 1 Juni 2017. Opsi itu dipilih Trump karena menganggap biaya besar untuk mendukung Perjanjian Iklim Paris bisa dialihkan ke hal lainnya. Trump kala itu ingin meningkatkan hajat hidup rakyat AS.
"Demi memenuhi tugas serius saya kepada AS dan warganya. AS akan menarik diri dari perjanjian iklim Paris. Namun, Saya akan memulai negosiasi untuk kembali bergabung dalam perjanjian Paris atau transaksi yang benar-benar baru, dengan persyaratan yang adil bagi AS.”
“Kami akan mulai bernegosiasi, dan kami akan melihat apakah kami dapat membuat kesepakatan yang adil. Jika kami bisa, itu bagus. Jika kami tidak bisa, itu tidak masalah," ujar Trump sebagaimana dikutip Oliver Milman laman The Guardian berjudul Donald Trump Confirms US Will Quit Paris Climate Agreement (2017).