JAKARTA - Upaya pencegahan dengue di wilayah Kalimantan terus menjadi perhatian, berbagai langkah pengendalian telah dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari penguatan surveilans hingga pemberdayaan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan hingga vaksinasi, guna menekan risiko penularan demam berdarah dengue (DBD).
Pelaksanaan vaksinasi dengue secara resmi dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara dengan dukungan anggaran dari APBD Provinsi Kalimantan Utara. Kegiatan dipusatkan di Kabupaten Bulungan, tepatnya Kecamatan Tanjung Palas Utara, dan dilaksanakan di Balai Desa Panca Agung.
Program ini melibatkan kerja sama Dinas Kesehatan Kabupaten Bulungan, Puskesmas Tanjung Palas Utara, serta berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Kesehatan RI, Komite Nasional dan Komite Daerah KIPI, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Pemerintah Kabupaten Bulungan, dan lintas sektor lainnya. PT Bio Farma dan PT Takeda Innovative Medicines turut terlibat sebagai mitra pendukung.
Sebelumnya di Kalimantan Utara, dengue tercatat sebagai penyakit endemik yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. Sepanjang tahun 2024, tercatat 735 kasus dengue dengan IR 98,98 per 100.000 penduduk dan CFR sebesar 1,09%.
Kabupaten Bulungan dan Malinau menjadi wilayah dengan jumlah kasus dan kematian tertinggi. Hampir setengah dari total kasus pada tahun tersebut terjadi pada kelompok usia 6–14 tahun, dengan tren peningkatan yang masih berlanjut hingga Juli 2025.
"Semakin berkembangnya teknologi, kita perlu mempertimbangkan pendekatan yang lebih inovatif. Karena itu, program vaksinasi dengue ini kami dorong sebagai strategi yang melengkapi upaya perlindungan yang sudah ada, khususnya untuk kelompok yang paling rentan. Inisiatif ini sejalan dengan arah kebijakan nasional dan target bersama ‘Nol Kematian Akibat Dengue di Tahun 2030’," ungkap Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara, Dr. H. Usman, SKM, M.Kes.
Melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, sekolah, serta para mitra, kami yakin Kalimantan Utara dapat mengambil langkah maju yang terukur dalam melindungi masyarakat dari dengue.
BACA JUGA:
Program vaksinasi dengue ini bukan untuk menggantikan upaya yang telah berjalan, melainkan sebagai lapisan perlindungan tambahan dalam menghadapi ancaman nyata demam berdarah yang semakin meningkat seiring kondisi cuaca yang tidak menentu dan intensitas curah hujan yang mulai naik.
Vaksinasi ini diharapkan semakin memperkuat upaya pencegahan yang selama ini telah dijalankan bersama, di mana masyarakat tetap perlu disiplin menjaga kebersihan lingkungan agar nyamuk tidak berkembang biak, sambil membangun perlindungan dari dalam tubuh melalui vaksinasi.
Pada tahap awal, vaksinasi direncanakan diberikan kepada 725 anak usia 9–13 tahun atau kelas 3, 4, dan 6 pada 13 Sekolah Dasar serta kelas 7 Sekolah Menengah Pertama di Kecamatan Tanjung Palas Utara, Kabupaten Bulungan, dengan pelaksanaan yang dipersiapkan secara saksama mulai dari skrining kesehatan sebelum vaksinasi, pelaksanaan vaksinasi oleh tenaga kesehatan terlatih, hingga observasi pasca imunisasi.
Pemerintah Kabupaten Bulungan berharap program ini berjalan lancar dan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, sehingga semakin banyak anak di Bulungan yang terlindungi dari infeksi dengue yang berpotensi mengancam nyawa.
"Kami memandang penguatan pencegahan dengue membutuhkan langkah yang konsisten dan berkelanjutan, dengan edukasi yang jelas kepada para pemangku kepentingan agar program dapat dipahami dan dijalankan dengan baik. Melalui dukungan pada program publik seperti yang dimulai oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara di Kabupaten Bulungan ini, kami berharap lebih banyak masyarakat bisa mendapatkan manfaat perlindungan terhadap virus dengue," ungkapPresiden Direktur PT Bio Farma, Shadiq Akasya, menyampaikan,
Sementara itu, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, mengapresiasi kepemimpinan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara yang menjadi pelopor pelaksanaan vaksinasi dengue di Kalimantan Utara.
Inisiatif ini menambah daftar 12 wilayah di Indonesia yang telah menerapkan program vaksinasi publik untuk melindungi anak-anak dari dengue. Dengue memberikan beban besar bagi Indonesia, tidak hanya pada sistem kesehatan, tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat.
Pada tahun 2024, BPJS Kesehatan mencatat lebih dari satu juta rawat inap akibat dengue, dengan biaya mendekati Rp3 triliun, belum termasuk kasus-kasus yang dilaporkan selama terjadi wabah, dan dampak emosional serta sosial yang ditanggung pasien dan keluarga.
"Kami berkomitmen untuk terus menjadi mitra jangka panjang dalam upaya pencegahan dengue di Indonesia, melalui kolaborasi, edukasi, dan penyediaan akses terhadap pencegahan inovatif kami," jelasnya.