JAKARTA - Selama ini kanker payudara sering dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang wanita. Padahal pria juga bisa terkena kanker payudara, meskipun kasusnya jauh lebih sedikit.
Hal ini dijelaskan oleh Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Dokter Konsultan Bedah Onkologi di Eka Hospital BSD.
“Wanita memang banyak sekali terkena kanker juga. Tapi itu jangan sombong, laki-laki juga bisa terkena kanker payudara juga. Mengapa? Pria itu punya kelenjar tapi kecil. Cuma sedikit,” ujar dr. Sonar saat ditemui di kawasan BSD, Tangerang pada Senin, 6 Oktober 2025.
Menurut dr. Sonar, meski jumlah kasusnya jarang, pria tetap memiliki risiko karena mereka juga memiliki jaringan kelenjar payudara, walaupun kecil. Ia menjelaskan bahwa perbandingan kasus kanker payudara antara perempuan dan laki-laki adalah sekitar 100 banding 1.
“Laki-laki kena itu 1 dibanding 100. 100 perempuan, 1 laki-laki,” jelasnya.
Kanker payudara pada pria biasanya muncul pada usia yang lebih tua dibanding wanita.
“Laki-laki jarang terkena di usia muda. Umumnya 50 tahun ke atas. Perempuan lebih banyak mengalami di usia 40 tahun-an,” tutur dr. Sonar.
dr. Sonar menegaskan bahwa kanker payudara pada pria tidak memiliki gejala khusus yang mudah dikenali.
“Ciri-cirinya apa? Iya enggak ada, enggak ada yang khusus. Itu juga dari bawaan, ada juga faktor CERDIK (Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dan seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres),” katanya.
SEE ALSO:
Ia menambahkan gaya hidup sehat menjadi kunci pencegahan kanker payudara, baik pada pria maupun wanita.
“Gaya hidup berpengaruh baik itu laki-laki maupun perempuan. Jadi CERDIK itu bukan buat perempuan saja, tapi semuanya sama,” ujarnya.
Meski terbilang jarang, pemeriksaan dini tetap perlu dilakukan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker.
“Biasanya tahunya dari pemeriksaan. Kita tidak hanya mengandalkan raba-raba saja. Jadi harus cek juga,” jelas dr. Sonar.
Menurutnya deteksi dini bisa dimulai sejak remaja. Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dilakukan dengan meraba dan melihat payudara sendiri guna melihat kemungkinan adanya perubahan fisik pada payudara.
“Artinya 15–16 tahun boleh mulai periksa. Sesekali saja, lalu mulai SADARI. Nanti bolehlah USG sekali-kali. Tidak perlu mamografi. Mamografi dilakukan di atas 40 tahun,” katanya.
Untuk usia di bawah 40 tahun, pemeriksaan cukup dilakukan dengan perabaan (SADARI) dan USG secara berkala.
“Di bawah 40 tahun pegang dulu. Nanti di usia 17–18 tahun boleh USG. Kalau hasilnya tidak apa-apa, nanti dilakukan lagi usia 20 tahun, 25 tahun, 30 tahun,” tutur dr. Sonar.
Ia juga mengungkapkan data kanker payudara pada usia di bawah 30 tahun hanya sekitar 1 persen, namun meningkat drastis di usia yang lebih tua.
“Karena kanker payudara di bawah 30 tahun itu kurang dari 1 persen. Nanti usia 30–35 naik 4 persen. Di atas 35 tahun naik lagi jadi 30 persen. Nanti usia 40–45 itu paling bahaya,” bebernya.
Bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara, pemeriksaan perlu dilakukan lebih sering.
“Kalau ada riwayat keluarga terkena kanker biasanya terkena usia muda. Mungkin cek USG juga jadi lebih sering seperti dua tahun sekali." ucap dr. Sonar.
Kanker payudara bukan hanya penyakit perempuan. Pria pun memiliki risiko, meski kecil. Kesadaran untuk melakukan pemeriksaan dini dan menerapkan pola hidup sehat sangat penting untuk mencegah penyakit ini.
Prinsip CERDIK yang disampaikan dr. Sonar menjadi pedoman sederhana namun efektif bagi siapa pun yang ingin menjaga kesehatan dan mencegah kanker.