JAKARTA - Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal JAMA mengungkapkan kesehatan anak-anak mengalami penurunan sejak tahun 2007.
Peneliti melaporkan bahwa pada tahun 2023, seorang anak memiliki kemungkinan 15% hingga 20% lebih besar untuk mengalami kondisi kronis dibandingkan anak pada tahun 2011.
Anak-anak sekarang lebih rentan meninggal saat masih bayi akibat kelahiran prematur, sindrom kematian bayi mendadak (SIDS), kelainan bawaan, dan infeksi saluran pernapasan, lebih tinggi dibandingkan 17 tahun yang lalu.
Sementara itu, anak-anak yang lebih besar menghadapi risiko kematian yang lebih tinggi akibat kekerasan senjata api, kecelakaan lalu lintas, dan penyalahgunaan zat adiktif. Tingkat depresi, kecemasan, obesitas, dan sleep apnea juga meningkat, begitu pula kasus autisme, keterlambatan perkembangan, dan ADHD.
Penelitian juga menunjukkan anak-anak di AS 80% lebih mungkin meninggal dibandingkan anak-anak sebaya mereka di negara-negara Eropa. Untuk anak di bawah usia 12 bulan, penyebab utama kematian adalah kelahiran prematur dan SIDS. Sedangkan pada anak di atas satu tahun, penyebab terbesar adalah kekerasan bersenjata dan kecelakaan kendaraan bermotor.
“Temuan ini adalah panggilan untuk bertindak, untuk menangani akar masalah dan kembali memfokuskan perhatian pada upaya mempromosikan kesehatan seluruh populasi,” kata Dr. Alex Kemper, Kepala Divisi Pediatri Perawatan Primer di Nationwide Children’s Hospital, dikutip dari laman Parents.
Menurut Dr. Kemper, kesehatan anak tidak bisa dilihat secara terpisah karena mencerminkan kondisi kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Misalnya, penyebab utama kematian bayi adalah kelahiran prematur. Jadi, meningkatkan kesehatan ibu dapat mengurangi risiko tersebut.
“Untuk anak-anak yang lebih besar, penyebab utama kematian adalah senjata api dan ini harus kita tangani,” jelas Dr. Kemper.
Faktor lain yang memperburuk kesehatan anak termasuk akses yang rendah terhadap makanan bergizi dan ruang terbuka hijau. Studi lain menunjukkan anak-anak dari keluarga yang mengalami ketidakamanan pangan lebih mungkin mengalami obesitas.
Banyak faktor sosial yang kompleks ikut memengaruhi ketimpangan kesehatan ini. Selain mengatasi hal-hal tersebut, Dr. Kemper menegaskan bahwa anak-anak dan remaja juga perlu akses ke layanan kesehatan agar bisa mencegah atau menangani masalah kesehatan lebih dini.
"Ada juga ancaman baru yang mengintai. Saat ini kita menghadapi jumlah kasus campak tertinggi dalam lebih dari 25 tahun, padahal vaksin yang aman dan efektif sangat mudah diakses. Keraguan terhadap vaksin kemungkinan akan berdampak buruk jangka panjang. Pemotongan akses terhadap layanan medis juga akan memperburuk tren ini," kata Dr. Kemper.
BACA JUGA:
Penembakan di sekolah mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah, menurut studi yang dipublikasikan tahun lalu dalam Pediatrics. Dalam 10 tahun terakhir, jumlah korban tewas dan luka meningkat dibandingkan 15 tahun sebelumnya.
“Kekerasan senjata api kini menjadi penyebab kematian nomor satu pada anak dan remaja,” kata Dr. Heather Felton, dokter anak di Norton Children's, Kentucky.
“Ini adalah kematian yang bisa dicegah, dan ini adalah krisis yang sangat khas Amerika," lanjutnya.
Sebagian besar masalah ini terkait dengan kemudahan akses terhadap senjata api, terutama di rumah, dan kurangnya kebijakan pengaturan yang memadai.
“Kenaikan angka kematian akibat senjata api sangat mengkhawatirkan,” ujar Dr. Jomarie Rivera, dokter anak di IWS Children’s Clinic, Illinois.
"Saat saya kuliah dulu, kecelakaan lalu lintas adalah penyebab utama kematian. Namun sejak 2009, senjata api mengambil alih posisi tersebut dan hingga kini masih menjadi penyebab utama," lanjutnya.
Menurut Dr. Kemper, permasalahan ini berkembang dalam waktu yang lama, dan tidak akan ada solusi instan, terutama di tingkat individu. Ia menegaskan bahwa perlu adanya kebijakan publik untuk mengatasi akar permasalahan ini.
“Kita tidak hanya harus mencegah anak-anak dan remaja dari masalah kesehatan, tapi juga harus memastikan mereka bisa tumbuh dengan baik dan sukses di masa dewasa. Ini adalah pekerjaan rumit dan berat, tapi sangat penting bagi masa depan kita," imbuhnya.
Dr. Rivera menambahkan perbaikan harus dilakukan secara kolektif, melibatkan pemimpin politik, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
"Kita harus fokus pada pencegahan, mulai dari memastikan ibu hamil mendapatkan perawatan prenatal berkualitas hingga orang tua punya akses ke layanan kesehatan anak, termasuk imunisasi dan pemeriksaan rutin,” jelasnya.
Ia juga menyoroti menurunnya jumlah mahasiswa kedokteran yang tertarik masuk ke bidang pediatri, sebagian karena bidang ini dikenal sebagai salah satu yang bergaji paling rendah di dunia medis.
Keluarga dan pengasuh disarankan berbicara dengan tenaga medis anak mengenai hal-hal yang bisa dilakukan agar anak tumbuh sehat. Ini termasuk praktik tidur aman, penggunaan car seat dan sabuk pengaman yang benar, imunisasi, penyimpanan senjata api yang aman, serta pola makan dan aktivitas fisik yang sehat.
Namun lebih dari itu, orang tua dan anggota komunitas juga perlu berdiskusi dan bekerja sama untuk menerapkan solusi berbasis bukti demi kebaikan bersama.
Berikut beberapa saran dari Dr. Felton dan Dr. Rivera agar anak tetap sehat dan tren buruk ini bisa diperbaiki:
- Rutin melakukan pemeriksaan dan kunjungan kesehatan anak
- Biarkan dokter anak memantau kondisi kesehatan dan memberikan panduan pencegahan
- Cari tahu layanan komunitas yang tersedia
- Ikuti panduan tidur aman untuk bayi
- Prioritaskan tidur yang cukup, makanan sehat, dan olahraga rutin
- Batasi waktu anak menggunakan media sosial dan layar
- Pantau kesehatan mental anak dan dukung akses ke layanan terkait.
- Simpan senjata api dengan aman, dan ajak anak berdiskusi soal senjata, meski Anda tidak memilikinya
- Dorong anak untuk bermain lebih banyak, karena ini baik untuk kesehatan mental dan fisik
- Libatkan anak dalam kegiatan atau olahraga terorganisir
- Hubungi anggota legislatif untuk mendorong regulasi senjata api yang lebih baik
- Dukung dana tambahan untuk program intervensi dini dan kegiatan setelah sekolah
“Layanan kesehatan mental untuk anak sering kali masih sangat terbatas,” kata Dr. Felton.
“Dukungan sekolah dan komunitas, legislasi keamanan senjata, serta program untuk mengatasi ketimpangan dalam akses makanan sehat, tempat belajar dan bermain yang aman, pendidikan, dan layanan kesehatan bisa membantu mengatasi masalah ini.” lanjutnya.