Bagikan:

JAKARTA - Di balik pelayanan kesehatan, tenaga medis sering kali memikul beban yang tidak terlihat seperti tekanan emosional, kelelahan fisik, dan stres psikologis yang terus-menerus. Rutinitas yang penuh tuntutan, terutama di Instalasi Gawat Darurat (IGD), dapat berdampak serius pada kondisi mental mereka.

Dalam jangka panjang, tekanan ini dapat memicu burnout suatu kondisi kelelahan parah secara emosional, mental, dan fisik, yang bukan hanya merugikan petugas medis, tetapi juga bisa membahayakan kualitas layanan kepada pasien.

Pemerhati kesehatan masyarakat Hadi Filino Gunarto, yang juga merupakan mantan CEO PT Pindad Medika Utama, menyoroti fenomena burnout ini sebagai sinyal bahaya bagi sistem layanan kesehatan Indonesia.

"Saya menyaksikan sendiri bagaimana IGD bisa berubah secara ekstrem dalam waktu singkat—mulai dari kasus keracunan massal hingga kecelakaan besar. Semua harus ditangani dengan kecepatan tinggi, tanpa ruang untuk kesalahan," ungkap Hadi dalam pernyataan tertulis yang diterima VOI.

Ia menegaskan di balik kemampuan luar biasa tenaga medis dalam merespons kondisi darurat, terdapat risiko kelelahan kronis yang mengintai. Burnout, menurut Hadi, bukan hanya sekadar rasa lelah biasa, melainkan kondisi serius yang memengaruhi kesehatan mental dan emosional akibat tekanan kerja yang terus-menerus.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mengategorikan burnout sebagai ancaman terhadap kualitas pelayanan dan keselamatan pasien.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) menunjukkan bahwa beban kerja berlebih serta kurangnya dukungan sosial di tempat kerja merupakan faktor dominan penyebab stres kerja di kalangan tenaga kesehatan.

"Masalah ini bukan hanya soal jam kerja panjang, tapi soal minimnya kesempatan untuk pemulihan,” tegas Hadi yang juga menjabat di Yayasan Komunikasi Literasi Kesehatan Masyarakat.

Beberapa rumah sakit memang telah mulai mengambil langkah untuk menanggulangi masalah ini. Hadi mencontohkan beberapa inisiatif sederhana yang pernah ia terapkan, seperti mengadakan olahraga sore, menyediakan kantin yang nyaman, hingga kegiatan spiritual seperti pengajian rutin sebagai bentuk dukungan kesejahteraan mental.

Pendekatan ini sejalan dengan temuan dari Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga, yang menyatakan bahwa keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi terbukti efektif dalam mengurangi risiko burnout.

Meski demikian, Hadi menekankan bahwa belum semua fasilitas kesehatan, terutama di wilayah pelosok, memiliki sistem yang berpihak pada kesejahteraan tenaga medis. “Para perawat muda atau dokter internship sering merasa mereka harus kuat dan tidak boleh menunjukkan kelemahan. Padahal, justru mereka yang paling rentan,” ujarnya.

Dalam hal ini, ia menggarisbawahi pentingnya gaya kepemimpinan yang empatik dan suportif di rumah sakit.

"Pemimpin yang mampu membangun kepercayaan dan memahami tekanan tim bisa menjadi penyelamat. Mereka bukan hanya memberi perintah, tapi juga hadir sebagai penyangga mental,” tutur Hadi, mengacu pada riset dari salah satu rumah sakit pendidikan yang mendukung pendekatan kepemimpinan transformasional.

"Burnout di kalangan tenaga medis bukan masalah individu. Ini adalah cerminan sistem yang mulai kewalahan,” tutup Hadi.

Ia mengajak semua pihak manajemen rumah sakit, pemangku kebijakan, dan pemimpin sektor kesehatan untuk membuka mata bahwa tenaga kesehatan, yang selama ini merawat orang lain, juga berhak mendapatkan perhatian dan perawatan mental yang layak. Sebab, sistem kesehatan yang tangguh hanya bisa bertahan jika dijalankan oleh individu yang sehat secara holistik—baik fisik maupun mental.