Bagikan:

JAKARTA - Bisakah suatu hubungan bertahan tanpa seks? Seks merupakan bagian penting dalam hubungan yang sehat. Penting tidaknya seks bisa berbeda-beda bagi setiap pasangan. Beberapa pasangan mungkin merasa bahwa aktivitas seksual sangatlah penting. Bisa jadi ada juga yang merasa bahwa jenis keintiman dan koneksi lain lebih penting.

Beberapa alasan mengapa pasangan merasa seks itu penting yaitu;

  • Merasa lebih dekat dengan pasangan
  • Menunjukkan kasih sayang kepada pasangan
  • Menemukan seks menyenangkan dan menyenangkan
  • Keinginan untuk memiliki anak
  • Merasa percaya diri dan seksi
  • Meringankan stress

Sebuah penelitian melansir Very Well Mind, Rabu, 20 Agustus, menunjukkan bahwa berhubungan seks secara sering dapat memengaruhi kesejahteraan seseorang secara keseluruhan. Sering berhubungan seks dikaitkan dengan lebih banyak kasih sayang. Ketika pasangan merasakan lebih banyak kasih sayang, mereka juga cenderung lebih sering berhubungan seks.

Frekuensi Ideal untuk Berhubungan Seks

Ketika mempertimbangkan seberapa sering pasangan seharusnya berhubungan seks, sebuah studi tahun 2015 menemukan bahwa kesejahteraan umum berkaitan dengan frekuensi seksual, tetapi hanya sampai batas tertentu. Kepuasan hubungan meningkat secara progresif dari tidak berhubungan seks hingga berhubungan seks seminggu sekali, tetapi tidak meningkat lebih lanjut (dan malah sedikit menurun) setelah titik ini.

Satu kali hubungan seksual per minggu cukup konsisten dengan rata-rata saat ini. Namun, kesibukan hidup saat ini bisa saja menghalangi Anda untuk lebih sering berhubungan seks. Dibandingkan dengan frekuensi seks pada tahun 1990-an, orang dewasa pada tahun 2010 berhubungan seks sembilan kali lebih sedikit per tahun.

Frekuensi Seksual Rata-rata

Rata-rata orang dewasa: 54 kali per tahun (sekitar sekali per minggu)

Orang dewasa usia 20-an: Sekitar 80 kali per tahun

Orang dewasa usia 60-an: 20 kali per tahun

Meskipun frekuensinya sering menurun seiring bertambahnya usia, aktivitas seksual pada lansia tetap penting. Secara umum, pasangan lansia cenderung berhubungan seks lebih sering daripada rekan-rekan yang belum menikah dalam kelompok usia yang sama.

Risiko Potensial dari Sering Berhubungan Seks

Dulu, seks diyakini meningkatkan risiko kanker prostat. Namun, sebuah studi tahun 2016 menemukan bahwa pria yang mengalami lebih banyak ejakulasi (21 kali atau lebih per bulan) lebih kecil kemungkinannya untuk terkena penyakit ini dibandingkan pria yang mengalami lebih sedikit ejakulasi (tujuh kali atau kurang per bulan). Karena kanker prostat merupakan penyebab kematian akibat kanker kedua pada pria sehingga alasan ini patut dipertimbangkan.

Bagi sebagian orang, seks dapat meningkatkan risiko serangan jantung. Terlepas dari risiko ini, frekuensi seks yang lebih tinggi dapat membantu. Sebuah studi tahun 2011 menemukan bahwa aktivitas seksual yang teratur mengurangi risiko serangan jantung. Seks, bersama dengan bentuk aktivitas fisik lainnya, bersifat protektif. Namun, aktivitas yang jarang dan intensitasnya tinggi justru menambah beban pada jantung. Diskusikan aktivitas seksual Anda dengan dokter untuk mengevaluasi risiko Anda.

Tantangan Seks Teratur

Meskipun seks bisa menjadi hal penting dalam suatu hubungan, ada berbagai faktor yang dapat membuat hubungan seksual menjadi lebih menantang. Usia, hormon, anak-anak, stres, kondisi medis, dan masalah hubungan, semuanya dapat berperan dalam seberapa sering pasangan berhubungan seks.

Usia seringkali berperan dalam frekuensi seks, terutama karena penurunan kadar hormon seks seiring bertambahnya usia. Terkadang, mempertahankan kehidupan seks yang aktif sulit atau bahkan mustahil karena kondisi fisik atau psikologis.

Manusia pada dasarnya mendambakan keintiman seks. Kurangnya seks dapat membuat seseorang menjadi menjauh dan mungkin, mencari pasangan lain. Bekerja sama dengan terapis pasangan berlisensi dapat membantu mengatasi kesenjangan ini dan mencegah masalah menyebar ke seluruh pernikahan Anda.