JAKARTA - Ketegangan antara pelatih Xabi Alonso dan pemain Real Madrid bocor. Sumber di klub membeberkan bila pemain bintang setengah mengejek Alonso yang merasa dirinya bak Pep Guardiola.
Tensi tinggi di tim Madrid terkuak tak lama setelah mengalahkan Barcelona 2-1 di El Clasico di Santiago Bernabeu, akhir pekan lalu.
Kemenangan penting itu mengukuhkan posisi Madrid di puncak klasemen La Liga Spanyol. Dengan memiliki poin 27, Madrid juga sudah unggul lima poin dengan Barca yang menempati peringkat dua.
Madrid juga mematahkan rekor buruk selalu kalah pada empat laga terakhir di El Clasico. Termasuk bagaimana Los Merengues dibantai 4-0 di kandang sendiri di kompetisi domestik.
Meski El Clasico berakhir happy ending bagi Madrid, namun itu tidak berlaku bagi Vinicius Junior. Pemain tim nasional Brasil ini terlihat sangat kecewa saat ditarik keluar di menit 72. Vinicius Jr bahkan seperti mempertanyakan keputusan Alonso mengeluarkan dia.
Sikap Vinicius Jr yang kecewa dengan keputusan Alonso secara tidak langsung mengungkapkan adanya ketegangan di antara pemain dan pelatih. Sang pemain dikabarkan kian tak betah dan mempertimbangkan masa depannya di Madrid. Sementara, Alonso terlihat mencoba menahan amarah usai konferensi pers.
Hanya menurut The Athletic yang dikutip Daily Mail, ternyata tidak hanya Vinicius Jr yang mempertanyakan metode Alonso. Sejumlah pemain yang menyandang status bintang disebut-sebut kurang menyukai dengan gaya eks pelatih Bayer Leverkusen.
Terutama mereka yang sudah terbiasa dengan manajerial pelatih lama, Carlo Ancelotti. Mereka dinilai kesulitan menyesuaikan diri dengan gaya baru dari Alonso.
Apalagi sang pelatih menerapkan disiplin ketat terhadap pemain. Alonso dikabarkan terkejut saat baru pertama kali datang ke Santiago Bernabeu dan mendapati kebiasaan buruk pemain di ruang ganti.
Buntutnya, mantan pemain Madrid dan Liverpool ini mengumpulkan pemain dan memberikan briefing soal aturan-aturan baru.
Dia menekankan pentingnya tepat waktu. Artinya pemain harus datang tepat waktu. Begitu pula soal intensitas dan dedikasi saat latihan. Dia juga mengingatkan kepada pemain bahwa tidak ada satu pun yang mendapat jaminan sebagai starter.
Pemain Bintang Frustrasi
Adanya perubahan menjadi lebih disiplin ditambah dengan gaya bermain ala Alonso membuat pemain bintang frustrasi.
Status mereka sebagai pemain yang tak tersentuh, hal yang dilakukan Ancelotti saat menyusun 11 pemain pertama, juga sudah tak berlaku. Mereka tak lagi menjadi pilihan pertama sehingga frustrasi dan berujung kecewa pada Alonso.
“Beberapa di antara mereka sudah memenangi banyak trofi tanpa perlu melakukan hal-hal seperti yang diminta pelatih. Ini yang membuat mereka komplain,” kata sumber yang dekat dengan pemain.
“Ini sesungguhnya sudah bukan rahasia lagi. Beberapa kasus malah sudah muncul ke publik. Ini hal yang wajar, terutama bagi mereka yang selama ini tak tersentuh,” ucapnya.
Tak hanya itu, perubahan yang dilakukan Alonso dengan melarang membeberkan informasi apa pun dari ruang ganti kepada media. Di era Ancelotti hal yang biasa tim menyampaikan informasi atau berita kepada media hanya beberapa jam sebelum kick-off pertandingan.
Kini semuanya berubah. Informasi yang keluar dari ruang ganti hanya daftar susunan pemain yang dirilis di media sosial dua jam sebelum pertandingan.
Alonso juga melarang keluarga dan teman pemain berada di sekitar tempat latihan tim. Sebelumnya mereka bisa bebas berkeliaran di tempat latihan tim di Real Madrid Sports City.
Hanya saja sikap disiplin dan gaya melatih Alonso malah mengundang cibiran pemain. Mereka mengejek Alonso yang merasa dirinya seperti Guardiola.
“Dia berpikir kalau dia itu Pep Guardiola, tetapi dia hanya Xabi,” kata seorang pemain yang disampaikan kepada sahabatnya yang kemudian bercerita kepada The Athletic.
Meski adanya ketegangan dengan pemain, namun Alonso termasuk berhasil melakoni transisi sebagai pelatih anyar dari klub terbesar di Eropa dan dunia.
Dirinya pun menyadari adanya ketidakpuasan pemain bila tak dimainkan karena ditarik keluar di tengah pertandingan. Namun Alonso yang membawa Liverpool memenangi Liga Champions 2005 ini menilai sebagai hal yang wajar.
“Ada banyak perbedaan karakter pemain. Soal Vinicius, hanya satu kegagalannya, yaitu mencetak gol. Namun harus diakui saat meninggalkan lapangan, dia merasa dalam kondisi terbaik. Saya juga menunggu beberapa saat sebelum menarik dia," kata Alonso.
"Vinicius ingin tetap bermain karena dia dalam kondisi terbaik, tetapi kami butuh pemain dengan kondisi lebih bugar untuk mempertahankan penguasaan permainan,” ucap dia.
“Tidak hanya Vini tetapi pemain lain seperti Franco (Mastantuono) yang juga ingin bermain. Dia saja bertanya kepada saya, ‘Anda tak memainkan saya?’ Lalu saya katakan, ‘Ya.’ Situasi sama dengan Vini. Dia kecewa ketika ditarik keluar. Begitu pula Franco yang tidak dimainkan. Itu dialami siapa saja. Tetapi saya puas dengan performa ini,” katanya lagi.
また読む:
Madrid akan menghadapi Valencia di Bernabeu dalam lanjutan kompetisi La Liga, akhir pekan ini.
Selanjutnya, mereka bertemu Liverpool di Liga Champions di Anfield. Laga yang sarat emosi bagi bek Madrid Trent Alexander-Arnold yang sebelumnya merupakan pilar pertahanan Liverpool.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)