Garda Revolusi Tangkap Mata-mata Mossad Israel yang Diduga Terkait Kerusuhan Unjuk Rasa di Iran

JAKARTA - Unit khusus pada Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), menangkap dua orang di Provinsi Khorasan Utara, timur Iran yang diyakini terkait dengan badan intelijen Israel Mossad.

Kantor berita Tasnim mengutip sebuahs umber melaporkan, para tersangka memainkan "peran kunci dalam mengorganisir kerusuhan massal di negara itu," seperti dikutip dari TASS (12/1).

Sumber tersebut juga mencatat, sejumlah alat bukti antara lain seperti alat komunikasi, senjata ringan, dan amunisi disita dari para tersangka selama penggeledahan.

Diketahui, protes meletus pada 28 Desember di Grand Bazaar Teheran terkait depresiasi tajam rial Iran dan memburuknya kondisi ekonomi, yang kemudian menyebar ke beberapa kota.

Pada 30 Desember, mahasiswa bergabung dalam kerusuhan. Kerusuhan menyebar ke sebagian besar kota besar.

Protes mencapai puncaknya pada malam 8 Januari, ketika setidaknya 13 warga sipil, termasuk seorang anak, tewas akibat tindakan para perusuh. Pihak berwenang melaporkan kematian 38 petugas penegak hukum.

Wali Kota Teheran, Alireza Zakani, menyatakan para perusuh membakar 25 masjid, merusak 26 bank, tiga pusat kesehatan, 10 gedung pemerintahan, lebih dari 100 truk pemadam kebakaran, bus, dan ambulans, serta 24 apartemen.

Sementara itu, kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS, HRANA, melaporkan kematian 490 demonstran dan 48 personel keamanan, dengan lebih dari 10.600 orang ditangkap, meskipun belum ada perkiraan resmi jumlah korban.

Otoritas Iran menyebut para perusuh sebagai teroris dan menyalahkan Israel dan AS karena mengatur kerusuhan tersebut.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam wawancara televisi mengatakan Israel dan AS adalah dalang destabilisasi, dengan musuh-musuh Iran telah membawa masuk "teroris yang membakar masjid, menyerang bank, dan properti publik," melansir Al Arabiya dari Reuters.

"Keluarga-keluarga, saya mohon kepada Anda: jangan biarkan anak-anak kecil Anda bergabung dengan para perusuh dan teroris yang memenggal kepala orang dan membunuh orang lain," katanya, menambahkan pemerintah siap mendengarkan rakyat dan menyelesaikan masalah ekonomi.