Trump-Xi Jinping Bertemu Kamis Siang, China Ingin Hubungan Stabil dengan AS
JAKARTA - China mengonfirmasi Presiden Xi Jinping akan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Korea Selatan pada Kamis.
Pertemuan ini akan menjadi pertemuan yang sangat dinantikan dan diharapkan oleh para pedagang dan investor di kedua sisi Pasifik akan meredakan ketegangan perdagangan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
"Kedua kepala negara akan melakukan komunikasi mendalam mengenai isu-isu strategis dan jangka panjang," ujar Juru Vicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Guo Jiakun pada Rabu, 29 Oktober.
"Kami bersedia melakukan upaya bersama dengan Amerika Serikat untuk mendorong hasil positif dari pertemuan ini dan memberikan arahan serta dorongan baru bagi perkembangan hubungan Tiongkok-AS yang stabil," sambung Guo Jiakun dilansir Reuters.
Trump sebelumnya mengatakan ia dan Presiden Xi akan mencapai "kesepakatan yang baik" bagi kedua negara, di atas Air Force One dalam perjalanan ke Korea Selatan.
Ekspektasi Trump dan Xi akan bertemu telah membantu menstabilkan pasar selama sebulan terakhir setelah ketegangan yang kembali muncul menimbulkan kekhawatiran bahwa kedua pemimpin mungkin akan meninggalkan perundingan yang bertujuan untuk menyelesaikan perang tarif yang telah mengganggu rantai pasokan global.
Washington menyalahkan eskalasi perang dagang pada kontrol ekspor tanah jarang baru Beijing, sementara China bersikeras hal itu disebabkan oleh AS yang semakin membatasi kemampuan perusahaan Tiongkok untuk berinvestasi di Amerika.
اقرأ أيضا:
Xi akan berada di Korea Selatan dari Kamis hingga Sabtu untuk menghadiri pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (KTT APEC) dan kunjungan kenegaraan ke negara tersebut.
Trump tidak akan menghadiri pertemuan puncak regional tersebut.
Washington dan Beijing juga berselisih pendapat mengenai aliran fentanil, chip kelas atas, kontrol tanah jarang, dan kedelai.
COFCO, perusahaan milik negara China, membeli tiga kargo kedelai AS menjelang perundingan, menurut sumber perdagangan.
Ini merupakan pembelian pertama Tiongkok dari panen AS tahun ini, dan sebuah langkah yang menurut para analis kemungkinan merupakan isyarat niat baik menjelang perundingan.