JAKARTA - Abu Dhabi menjadi lokasi pertama di dunia yang memberikan terapi personal kepada pasien kanker payudara stadium lanjut. Pengobatan ini memakai pemeriksaan genetik dan pemantauan molekuler agar terapi bisa disesuaikan dengan kondisi biologis pasien.
Melansir Philippine News Agency (PNA), Selasa, 30 Juni, yang mengutip laporan WAM, terapi itu diberikan di bawah pengawasan Department of Health Abu Dhabi kepada pasien perempuan berusia 40-an.
Pasien tersebut didiagnosis menderita kanker payudara stadium lanjut. Hasil tes genetik menemukan mutasi pada gen ESR1. Mutasi ini berkaitan dengan resistensi terhadap terapi hormon konvensional dan dapat mendorong perkembangan penyakit.
Tim medis memakai teknologi circulating tumor DNA atau ctDNA. Teknologi ini membaca jejak DNA tumor dari sampel darah untuk memantau perubahan molekuler dalam tubuh pasien.
Dengan cara ini, dokter dapat mendeteksi tanda resistensi terhadap pengobatan lebih awal. Bahkan sebelum perubahan terlihat lewat pencitraan medis atau muncul sebagai gejala klinis.
Noura Khamis Al Ghaithi, Wakil Menteri Department of Health Abu Dhabi, mengatakan masa depan layanan kesehatan akan makin bertumpu pada pencegahan, deteksi dini, dan intervensi lebih cepat.
BACA JUGA:
Ia menyebut terapi bertarget tersebut sejalan dengan upaya Abu Dhabi membangun layanan kesehatan maju berbasis teknologi dan akses pengobatan mutakhir.
Menurut PNA, Profesor Humaid Al Shamsi menilai diagnostik molekuler, kecerdasan buatan, dan alat analisis canggih penting diterapkan dalam praktik klinis.
Ia mengatakan pemantauan molekuler berkelanjutan membantu tenaga medis mengambil keputusan terapi yang lebih tepat sesuai karakter biologis tiap pasien.
Studi tersebut menemukan pendekatan terapi baru ini menurunkan risiko perkembangan penyakit hingga 56 persen dibandingkan melanjutkan terapi hormon konvensional.
Para ahli menilai pemantauan ctDNA berkala menjadi kemajuan penting dalam perawatan kanker payudara. Dokter dapat mengambil keputusan berdasarkan perubahan molekuler sebelum tanda penyakit terlihat dengan cara biasa.
Perkembangan ini diperkirakan ikut mendorong kemajuan onkologi personal dan pengobatan presisi, terutama dalam penggunaan data molekuler untuk menentukan terapi yang lebih sesuai bagi pasien.