JAKARTA - Virus hanta termasuk jenis virus zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia, terutama melalui paparan kotoran, urin, atau air liur tikus yang terinfeksi.
Penularan biasanya terjadi ketika partikel kecil (aerosol) dari bahan-bahan tersebut terhirup manusia, terutama di lingkungan yang kurang bersih atau memiliki ventilasi buruk.
Meskipun kasusnya relatif jarang, infeksi virus hanta dapat menimbulkan penyakit serius pada manusia, khususnya yang menyerang sistem pernapasan.
Epidemiolog dari Dicky Budiman menjelaskan bahwa salah satu mekanisme utama penularan virus ini adalah melalui inhalasi aerosol yang berasal dari urin tikus yang telah mengering atau air liur tikus yang terinfeksi, khususnya oleh virus Andes yang berpotensi menyebabkan sindrom paru.
“Hanta virus pulmonary syndrom ini adalah penyakit zoonosis dari keluarga virus hantavirus. Cara penularan utamanya itu inhalasi aerosol, jadi terhirup dari debu urin yang mengering, feses tikus ataupun air liur tikus yang sakit itu,” kata Dicky dalam percakapan daring dengan ANTARA, Rabu, 6 Mei.
Ia juga menjelaskan bahwa seseorang dapat terpapar virus hanta ketika bersentuhan dengan permukaan yang terkontaminasi kotoran atau urin tikus. Namun, penularan tidak selalu terjadi secara langsung, melainkan bergantung pada jenis strain virus tertentu, seperti virus Andes yang dalam kondisi terbatas dapat menular antar manusia melalui kontak erat.
BACA JUGA:
Pada individu yang telah terinfeksi, gejala awal biasanya meliputi demam, nyeri tubuh, dan kelemahan otot. Jika kondisi berkembang ke tahap lebih serius, dapat terjadi kerusakan pada pembuluh darah paru yang menyebabkan kebocoran cairan. Hal ini berujung pada edema paru dan gagal napas akut.
“Biasanya kematian bisa sampai 40 persen dengan mekanisme utama adanya vascular leakage syndrome, sehingga paru terisi cairan dan ini terjadi hipoksia berat,” ujar Dicky.
Perburukan kondisi dapat berlangsung cepat, bahkan dalam hitungan hari. Oleh karena itu, deteksi dini dan penanganan yang tepat sangat penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan dan mencegah komplikasi berat.
Hingga kini, belum tersedia obat antivirus spesifik untuk mengatasi infeksi virus hanta. Penanganan yang dilakukan umumnya bersifat suportif, seperti pemberian oksigen menggunakan ventilator serta pengaturan cairan tubuh secara ketat.
Meski demikian, potensi virus ini untuk menyebabkan pandemi global dinilai sangat kecil karena pola penularannya yang bukan melalui interaksi antar manusia secara luas.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan, terutama di area dengan risiko tinggi seperti kapal laut atau ruangan tertutup dengan ventilasi yang minim.