JAKARTA - Konsumsi makanan olahan dan minuman manis kini semakin diminati oleh masyarakat Indonesia. Hal ini menuai sorotan karena berpotensi membuat asupan gula harian melampaui batas yang dianjurkan.
Dosen Departemen Gizi Masyarakat IPB University, Dr. Zuraidah Nasution, mengatakan bahwa konsumsi minuman berpemanis atau sugar sweetend beverages (SSB) terus meningkat dalam dua dekade terakhir.
Batas asupan gula harian yang dianjurkan sekitar 50 gram atau setara dengan empat sendok makan. Namun, Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa konsumsi gula dari minuman saja sudah mencapai sekitar 50 persen dari batas tersebut.
“Batas asupan gula yang dianjurkan per hari adalah sekitar 10 persen dari kebutuhan energi harian,” kata Zuraidah, dikutip dari laman resmi IPB University, pada Senin, 20 April 2026.
Meningkatnya konsumsi minuman manis tersebut salah satunya dikarenakan kemudahan akses. Berbagai minuman kemasan hingga minuman kekinian seperti teh susu, kopi susu, dan boba mudah ditemukan.
Banyak juga produk yang tidak mencantumkan informasi kandungan gula secara jelas. Ini membuat masyarakat sulit menyadari bahwa jumlah gula yang dikonsumsi dalam sehari sudah melebihi batas yang dianjurkan.
BACA JUGA:
Selain minuman manis, makanan ultra-processed food (UPF) juga menjadi perhatian. Dokter Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr.dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, mengatakan bahwa UPF merupakan makanan yang telah melalui proses pengolahan sangat intensif.
“Makanan UPF itu mengalami pengolahan yang sangat banyak, sehingga bentuk aslinya sudah tidak bisa kita lihat,” tutur dr. Karina.
Makanan tersebut pada umumnya mengandung gula, garam, dan lemak dalam jumlah yang tinggi, dengan rendah nutrisi penting. Konsumsi berlebihan dapat menyebabkan kelebihan kalori tanpa diimbangi asupan serat, vitamin, dan mineral.
“Jika dikonsumsi berlebihan, berisiko kelebihan kalori tetapi kekurangan zat gizi penting,” jelasnya.
Dampak buruk konsumsi minuman manis dengan gula berlebih dan makanan olahan dapat dirasakan dalam jangka pendek maupun panjang.
Pada jangka pendek, makanan dan minuman tersebut dapat memicu masalah karies gigi dan gangguan pencernaan. Sementara dalam jangka panjang, risiko penyakit seperti obesitas, diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung kian meningkat.
“Dengan sekumpulan risiko tersebut, dalam jangka panjang bisa berkembang menjadi penyakit degeneratif,” tegasnya.
Oleh karena itu, diingatkan agar masyarakat, terutama anak-anak dan remaja untuk dibatasi konsumsi makanan olahan dan minuman manis. Tidak harus dihindari sepenuhnya, tetapi konsumsinya diatur dengan bijak dan diseimbangkan dengan makanan yang sehat.
“Boleh sekali-sekali, tetapi tidak setiap hari. Kita harus menyeimbangkan dengan makanan utuh,” pungkas dr. Karina.