JAKARTA - Campak dikenal sebagai salah satu penyakit menular yang sangat cepat menyebar, terutama di lingkungan dengan interaksi tinggi. Penularannya tidak hanya terjadi melalui percikan saat batuk atau bersin, tetapi juga bisa melalui partikel kecil yang bertahan di udara dan terhirup oleh orang lain.
Kondisi ini membuat campak menjadi penyakit yang perlu diwaspadai, terutama karena seseorang bisa menularkan virus bahkan sebelum gejala khas muncul.
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menjelaskan penularan campak dapat terjadi melalui droplet maupun airborne. Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Adityo Susilo, menyebut virus campak mampu bertahan di udara dalam waktu tertentu sehingga meningkatkan risiko penyebaran.
"Penularannya bisa melalui percikan liur, tapi juga bisa airborne. Artinya virus dapat bertahan di udara dan terhirup oleh orang lain," ujarnya dalam PAPDI Forum dan Konferensi Pers dengan tema 'Campak pada Dewasa: Tanda Bahaya dan Penanganan yang Tepat serta Peran Vaksinasi' di Jakarta, Selasa, 31 Maret.
Selain itu, penularan juga bisa terjadi secara tidak langsung, misalnya melalui benda yang terkontaminasi virus, kemudian tersentuh dan masuk ke dalam tubuh melalui hidung atau mulut. Setelah masuk, virus akan menyerang saluran pernapasan sebelum akhirnya menyebar ke seluruh tubuh dan memicu gejala.
Pada tahap awal, gejala campak sering kali tidak spesifik, seperti demam, batuk, pilek, dan mata merah. Kondisi ini dikenal sebagai "tiga C", yaitu cough, coryza, dan conjunctivitis. Karena mirip dengan infeksi saluran pernapasan lainnya, campak kerap sulit dikenali pada fase awal.
"Kalau masih demam, batuk, pilek, itu bisa macam-macam. Kita baru curiga campak ketika muncul ruam yang khas,” jelasnya.
BACA JUGA:
Ruam berupa bercak kemerahan biasanya muncul beberapa hari setelah gejala awal. Menariknya, dalam periode sebelum ruam muncul, pasien sebenarnya sudah dapat menularkan virus ke orang lain meski belum terdiagnosis.
"Di situ ada window di mana pasien sudah sakit dan bisa menularkan, tapi belum terdeteksi sebagai campak,” kata Adityo.
Melihat tingginya tingkat penularan tersebut, PAPDI menekankan pentingnya pemahaman terhadap gejala awal dan pola penyebaran campak agar deteksi dini dapat dilakukan. Selain itu, perlindungan tidak hanya penting bagi anak-anak, tetapi juga orang dewasa, terutama yang belum memiliki kekebalan.
Vaksinasi campak pada orang dewasa menjadi salah satu langkah pencegahan yang dapat dipertimbangkan, khususnya bagi mereka yang belum pernah divaksin atau tidak memiliki riwayat imunisasi yang jelas.
Dalam kesempatan yang sama, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD-KAI, FINASIM, dokter spesialis penyakit dalam konsultan alergi imunologi klinik mengatakan, vaksin campak pada orang dewasa itu bertujuan untuk menghindari penularan lebih jauh kepada orang-orang yang berisiko di lingkungannya.
"Kita sebagai orang dewasa sehat mungkin berpikiran buat apa vaksin campak. Tapi manfaatnya lebih dari itu, kita perlu mengingat kalau kita sebagai carrier atau pembawa penyakit, virus penyebab campak itu bisa menular ke bayi yang ada di rumah, ibu hamil atau lansia di sekitar kita yang daya tahan tubuhnya tidak seperti kita," ungkapnya.
Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI ini pun mengatakan jika kita orang dewasa sudah memiliki perlindungan yang tepat, maka risiko penularan dapat ditekan dan potensi komplikasi serius akibat campak dapat dihindari.