Bagikan:

JAKARTA - Tak sedikit orang merasakan nyeri justru semakin terasa saat malam hari, meski di siang hari masih bisa ditoleransi. Kondisi ini kerap membuat istirahat terganggu dan kualitas tidur menurun, terutama bagi mereka yang mengalami nyeri kronis.

Fenomena tersebut ternyata memiliki penjelasan ilmiah. Penelitian terbaru dari tim ilmuwan China mengungkap adanya mekanisme saraf yang memengaruhi perubahan intensitas nyeri sepanjang hari.

Studi yang dipimpin oleh Zhang Zhi dari University of Science and Technology of China ini dipublikasikan dalam jurnal Science.

Selama ini, para ilmuwan telah mengetahui bahwa nyeri mengikuti ritme sirkadian—yakni lebih ringan saat tubuh aktif dan meningkat saat beristirahat. Namun, mekanisme di baliknya belum sepenuhnya dipahami.

Pusat pengatur ritme tubuh atau “jam biologis” berada di bagian otak yang disebut suprachiasmatic nucleus (SCN). Area ini diketahui mengontrol siklus tidur dan hormon, tetapi hubungannya dengan rasa nyeri sebelumnya belum jelas.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan menggunakan teknologi pelacakan virus untuk memetakan jalur saraf antara SCN dan sumsum tulang belakang pada tikus. Hasilnya menunjukkan bahwa aktivitas saraf tersebut dipengaruhi oleh ritme harian yang diatur oleh SCN.

Karena tikus merupakan hewan nokturnal, pola aktivitasnya berlawanan dengan manusia. Saat tikus beristirahat di siang hari, aktivitas SCN meningkat dan memperkuat sinyal nyeri di sumsum tulang belakang.

Sebaliknya, saat malam hari ketika tikus aktif, aktivitas SCN menurun sehingga intensitas sinyal nyeri ikut berkurang.

“Penemuan ini menjelaskan mengapa sensitivitas nyeri mengikuti ritme harian,” ujar Zhang Zhi.

Temuan ini membuka peluang baru dalam penanganan nyeri, khususnya dengan menyesuaikan waktu pengobatan berdasarkan jam biologis tubuh agar hasilnya lebih optimal.