Bagikan:

JAKARTA - Postur tubuh anak yang semakin membungkuk kini kerap menjadi pemandangan sehari-hari. Ternyata, kondisi ini bisa disebabkan oleh kebiasaan menatap layar gawai dalam waktu lama.

Perubahan postur tubuh itu biasanya terjadi akibat anak yang terlalu sering membungkuk baik saat bermain gim maupun menonton, tanpa disadari memengaruhi cara duduk hingga posisi leher.

Jika dibiarkan, kondisi ini bukan hanya berdampak pada penampilan fisik, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan anak secara keseluruhan.

Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Tuty Herawati, mengingatkan penggunaan gawai secara berlebihan dalam jangka panjang tidak bisa dianggap sepele.

"Kalau dilihat sekilas mungkin hanya perubahan postur seperti membungkuk. Tapi, di dalamnya bisa berkaitan dengan sistem saraf, sehingga ini bukan hal yang bisa dianggap ringan," ujarnya dalam sebuah kegiatan di Jakarta.

Ia menjelaskan, paparan gawai yang terlalu intens terutama pada usia lima hingga 15 tahun fase penting dalam pertumbuhan anak dapat memengaruhi proses tumbuh kembang.

Menurutnya, dampak yang muncul sangat bergantung pada durasi penggunaan serta keseimbangan antara waktu layar dan aktivitas lainnya. Anak yang tetap aktif bergerak, bermain di luar, dan berolahraga cenderung memiliki risiko lebih rendah dibandingkan mereka yang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan gawai.

Penggunaan gawai tanpa pengawasan dalam jangka panjang juga dapat meningkatkan risiko gangguan pada postur tubuh, otot, hingga fungsi saraf. Bahkan, dalam beberapa kasus, dampaknya bisa bertahan hingga anak beranjak dewasa.

Selain faktor fisik, aspek perkembangan otak juga menjadi perhatian. Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, menjelaskan bahwa otak anak membutuhkan beragam stimulasi untuk berkembang secara optimal.

"Pada masa golden age, otak anak sangat terbuka terhadap berbagai rangsangan. Tapi jika yang diterima hanya itu-itu saja, maka kemampuan lain tidak terstimulasi," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa stimulasi yang monoton, seperti paparan konten digital yang berulang, dapat membuat perkembangan koneksi antar-saraf tidak maksimal. Kondisi ini bahkan dapat memicu apa yang disebut sebagai brain drop, yaitu penurunan optimalisasi fungsi otak akibat kurangnya variasi pengalaman.

"Yang membuat otak berkembang bukan ukuran, tetapi banyaknya koneksi antar-saraf. Koneksi itu terbentuk dari variasi pengalaman dan stimulasi," katanya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya memberikan anak pengalaman yang beragam, mulai dari aktivitas fisik, interaksi sosial, hingga eksplorasi lingkungan sekitar.

Sebenarnya kecanggihan teknologi tetap bisa dimanfaatkan sebagai salah satu sumber belajar. Namun, penggunaannya perlu dibatasi agar tidak menjadi satu-satunya bentuk stimulasi bagi anak.

Upaya perlindungan juga diperkuat melalui kebijakan pemerintah, salah satunya lewat Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak.

Meski demikian, peran keluarga tetap menjadi kunci utama. Orang tua diharapkan dapat mengatur durasi penggunaan gawai, mendampingi anak saat mengakses konten digital, serta mendorong aktivitas lain yang lebih variatif demi mendukung tumbuh kembang yang optimal.