JAKARTA - Memencet jerawat sering dianggap hal sepele yang dilakukan banyak orang ketika melihat benjolan kecil muncul di wajah. Namun kebiasaan ini ternyata bisa berbahaya, terutama jika jerawat berada di area hidung dan sekitar mulut. Dokter kulit memperingatkan tindakan tersebut dapat menyebabkan infeksi serius yang berpotensi fatal.
Seorang wanita bernama Alisha Monaco mengalami kejadian yang cukup mengkhawatirkan setelah mencoba memencet jerawat di bawah lubang hidungnya. Dalam beberapa jam saja, salah satu sisi wajahnya mengalami pembengkakan parah hingga membuatnya harus mendapatkan perawatan medis.
Kasus tersebut menjadi pengingat area hidung hingga sudut mulut termasuk bagian wajah yang sensitif. Area ini sering disebut sebagai 'triangle of death' atau segitiga kematian.
Istilah ini merujuk pada wilayah wajah yang membentang dari pangkal hidung hingga ke kedua sudut mulut. Meski terdengar dramatis, dokter kulit menjelaskan bahwa memang ada alasan medis di balik sebutan tersebut.
Menurut Dr. Monica Li, dosen klinis di Departemen Dermatologi dan Ilmu Kulit Universitas British Columbia, area tersebut memiliki banyak pembuluh darah yang terhubung langsung dengan bagian penting di dalam kepala.
"Itu zona yang sangat rentan karena memiliki banyak pembuluh darah,” jelasnya, dikutip dari laman CTV News.
Ketika jerawat dipencet, lapisan pelindung kulit bisa rusak. Kondisi ini membuat bakteri dari luar lebih mudah masuk ke dalam jaringan kulit dan menyebabkan infeksi. Jika seseorang sudah membersihkan tangan atau alat yang digunakan, risiko infeksi tetap ada.
“Begitu isi jerawat dikeluarkan, akan terbentuk celah di kulit. Dari situ mikroba dari luar berpotensi masuk ke dalam jaringan,” ucap Dr. Li.
Dalam kasus Alisha Monaco, ia mengaku sudah mencoba memencet jerawat dengan hati-hati. Monaco membersihkan tangan dan alat yang digunakan dengan alkohol. Namun beberapa saat setelah jerawat tersebut ditekan, ia mulai merasakan sesuatu yang tidak normal.
Beberapa jam kemudian kondisinya semakin memburuk. Ia terbangun dari tidur dan menyadari bahwa sisi wajahnya terasa kaku hingga sulit tersenyum. Matanya mulai bengkak, penglihatan agak kabur, dan telinganya terasa seperti tersumbat.
Akhirnya Monaco harus mendapatkan perawatan medis dan diberikan beberapa jenis obat, termasuk antibiotik dan steroid untuk mengatasi infeksi yang terjadi. Pembengkakan di wajahnya cukup parah hingga ia hanya bisa tersenyum dengan satu sisi mulut saja. Dibutuhkan sekitar tiga hari sampai kondisinya benar-benar pulih.
Dokter kulit menjelaskan memencet jerawat tidak hanya menimbulkan rasa sakit sementara. Tindakan ini juga bisa memperparah peradangan pada kulit, yang kemudian dapat menyebabkan bekas luka permanen dan perubahan warna kulit.
Dalam kasus yang lebih serius, infeksi yang terjadi di area segitiga kematian berpotensi menyebar melalui pembuluh darah menuju otak. Hal inilah yang membuat kondisi tersebut dapat berakibat fatal bahkan hingga kematian, meskipun kasus seperti itu tergolong jarang. Karena itu, para ahli menyarankan agar jerawat tidak dipencet sendiri di rumah.
BACA JUGA:
Jika jerawat terasa sakit, meradang, atau sering muncul, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat.
“Jika seseorang memiliki jerawat, sebaiknya biarkan saja dan jangan dipencet,” ujar Dr. Li.
Ia juga menambahkan dokter memiliki metode yang lebih aman untuk menangani jerawat, termasuk perawatan medis atau suntikan khusus yang dapat membantu mengurangi pembengkakan dengan cepat.
Kisah Alisha Monaco menjadi pelajaran bagi banyak orang bahwa kebiasaan kecil seperti memencet jerawat ternyata bisa membawa risiko besar.
“Saya tidak akan pernah lagi menyentuh jerawat di wajah saya. Risikonya benar-benar tidak sepadan.” beber Dr. Li.