Bagikan:

JAKARTA - Di tengah derasnya arus informasi global, isu perang dan konflik bersenjata kerap memicu rasa cemas berlebihan. Paparan berita yang terus-menerus, apalagi dari sumber yang belum tentu akurat, dapat memperburuk kondisi psikologis seseorang.

Karena itu, kemampuan menyaring informasi menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental agar tidak terjebak overthinking.

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, M.Psi, mengingatkan masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih sumber berita terkait isu perang dunia atau serangan militer.

“Carilah sumber yang tepat, benar, untuk pemberitaan mengenai adanya perang dan sebagainya atau serangan. Jangan diambil dari semua sosial media yang mungkin bukan intinya lagi tapi dimasukin oleh informasi-informasi tambahan yang membuat kita makin bingung,” ujar Prof. Rose, yang akrab disapa Romi, di Jakarta.

Menurutnya, kecenderungan overthinking dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari tekanan hidup, stres, hingga kondisi sosial ekonomi. Kepribadian tertentu, seperti perfeksionis dan kurang percaya diri, juga membuat seseorang lebih rentan terhadap pikiran berlebihan ketika menghadapi situasi yang terasa mengancam.

“Tiap manusia punya rencana, pada waktu rencananya itu kemungkinan akan gagal bila terjadi sesuatu, maka dia bisa berpikir sehingga membuat menjadi was-was. Apabila hal ini terjadi, maka informasi-informasi yang sifatnya sampah itu akan memperparah situasi dan memperparah tentang kesehatan mental seseorang,” tuturnya.

Ia menjelaskan, tanda-tanda stres atau kecemasan yang patut diwaspadai antara lain kesulitan berkonsentrasi, rasa takut yang meningkat, serta kebiasaan mempersiapkan hal-hal yang sebenarnya belum tentu terjadi. Bahkan, kecemasan bisa memicu gejala fisik seperti jantung berdebar hingga perilaku menghindar, misalnya enggan keluar rumah atau menjalani aktivitas rutin.

Dalam situasi seperti ini, dukungan dari keluarga dan orang terdekat sangat dibutuhkan agar individu tidak terperangkap dalam pikiran negatif.

“Kalau ada seperti ini, maka orang-orang di sekelilingnya, significant others-nya, itu harus memberikan satu dukungan untuk bisa dia kembali kepada realita. Jadi jangan terlalu berpikir negatif tentang segala macamnya,” katanya.

Lebih lanjut, Prof. Romi menyarankan agar setiap orang belajar mengenali kapasitas diri serta membatasi paparan informasi yang tidak perlu. Pendekatan spiritual juga dinilai dapat membantu meredakan kecemasan.

“Kita harus belajar untuk melihat kemampuan diri kita, membaca memang sedikit tentang apa yang ada di lingkungan. Tapi yang paling penting, percaya pada Allah atau Tuhan dengan cara dan ibadah dari tiap agama masing-masing,” ujarnya.

Sikap bijak dalam mengonsumsi informasi dan dukungan lingkungan yang positif, kesehatan mental dapat tetap terjaga meskipun di tengah isu global yang memicu kekhawatiran.