JAKARTA - Demam sering kali dianggap sebagai keluhan ringan yang bisa diatasi dengan istirahat atau obat penurun panas. Namun, anggapan ini tidak selalu benar. Pada kasus demam dengue misalnya, kesalahan mengenali gejala sejak awal dapat berujung pada penanganan yang tidak tepat dan berdampak fatal.
Demam dengue kerap menyerupai demam biasa pada fase awal, padahal penyakit ini dapat berkembang cepat dan menyebabkan komplikasi serius seperti perdarahan hebat, syok, hingga kematian bila terlambat ditangani.
Mengenali ciri khas demam dengue menjadi kunci agar pasien tidak terlambat mendapatkan pertolongan medis. Jika gejala-gejala ini disalahartikan sebagai demam biasa dan hanya diobati secara mandiri, risiko perburukan kondisi akan meningkat, terutama saat memasuki fase kritis penyakit.
Kewaspadaan sejak demam hari pertama sangat penting agar dengue dapat dikenali lebih dini dan ditangani secara tepat sebelum berkembang menjadi kondisi yang mengancam nyawa.
Dokter penyakit dalam, Dr. dr. Adityo Susilo, SpPD, K-P.T.I, FINASIM, menjelaskan dengue merupakan infeksi virus yang dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia, tempat tinggal, maupun gaya hidup. Penyakit ini sering kali dimulai secara tiba-tiba dan ekstrem.
"Dengue disebabkan oleh virus yang menimbulkan peradangan hebat dalam waktu singkat. Demamnya bisa naik sangat cepat, kurang dari 12 jam suhu tubuh melonjak hingga 39–40 derajat Celsius. Ini berbeda dengan demam pada umumnya yang biasanya meningkat secara bertahap,"
Demikian kata dr. Adityo dalam edukasi media bertajuk “Musim Hujan Risiko Dengue Meningkat: Saatnya Perkuat Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak dan Dewasa”, dengan didukung oleh PT Takeda Innovative Medicines di Jakarta, Rabut, 4 Februari 2026.
Ia menambahkan, kondisi demam yang ekstrem ini sering kali membuat pasien tampak masih beraktivitas normal di pagi hari, namun mendadak lemas atau bahkan terbaring tak berdaya pada malam harinya. Perubahan kondisi yang drastis ini seharusnya menjadi tanda peringatan.
Selain demam tinggi mendadak, dengue juga disertai berbagai gejala penyerta yang khas, seperti sakit kepala hebat, nyeri di belakang bola mata, nyeri ulu hati, mual, hingga penurunan nafsu makan yang signifikan.
Menurut dr. Adityo, virus dengue turut memengaruhi saluran cerna, sehingga keluhan tidak nafsu makan bisa sangat berat.
"Padahal saat sakit, tubuh justru membutuhkan asupan nutrisi. Kalau ketemu gejala ekstrem yang muncul tiba-tiba disertai keluhan pencernaan berat, itu harus sangat hati-hati," tegasnya.
Dr. Adityo juga mengingatkan dengue tidak dapat dipastikan hanya dari pemeriksaan klinis. Diagnosis perlu ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium, antara lain dengan melihat tanda kebocoran plasma, salah satunya melalui peningkatan kadar hematokrit.
Dokter juga akan menilai ada tidaknya cairan bebas di rongga perut atau paru-paru sebagai tanda keparahan penyakit.
"Demam dengue dan demam biasa baru bisa dibedakan secara pasti dari hasil pemeriksaan laboratorium,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya mengenali tanda bahaya dengue yang membutuhkan pertolongan medis segera. Tanda-tanda tersebut meliputi demam tinggi disertai nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, lemas berat, hingga penurunan kesadaran.
Keterlambatan mengenali tanda bahaya dapat berakibat fatal. Perlu dipahami juga seseorang bisa terinfeksi dengue lebih dari satu kali, dan pada infeksi berikutnya risikonya justru bisa lebih berat.
Selain itu, orang dewasa yang terinfeksi dengue tanpa gejala pun tetap berpotensi berperan dalam penularan. Jika orang tersebut digigit nyamuk, nyamuk dapat membawa virus dan menularkannya ke orang lain.
"Hingga saat ini belum ada obat yang secara spesifik dapat menyembuhkan dengue. Karena itu, pencegahan tetap menjadi langkah paling penting melalui perlindungan diri dan pengendalian risiko secara konsisten,” papar dr. Adityo.
BACA JUGA:
Gejala dengue pada anak yang perlu diwaspadai

Sementara itu, Prof. DR. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp. TKPS, Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Indonesia (IDAI), menyoroti kewaspadaan terhadap demam dengue pada anak.
Ia menjelaskan fase kritis dengue umumnya terjadi pada hari ketiga hingga keempat pada anak, sedangkan pada orang dewasa bisa berlangsung antara hari ketiga hingga keenam.
"Pada fase ini, risiko komplikasi meningkat dan perlu pemantauan ketat," jelas Prof. Hartono.
Salah satu parameter penting yang harus diperhatikan adalah kadar trombosit. Pada infeksi dengue, terjadi kerusakan pembuluh darah yang cukup hebat, sehingga trombosit banyak terpakai untuk menutup kebocoran tersebut.
"Jika trombosit mulai turun drastis, risiko perdarahan akan meningkat. Trombosit di bawah 50 ribu harus ekstra hati-hati karena perannya sangat penting dalam mencegah perdarahan,” ujarnya.
Dengue dapat menyerang siapa saja, terutama anak-anak yang menjadi kelompok dengan risiko tertinggi. Karena itu, orang tua perlu mengenali tanda bahaya dan segera mencari pertolongan medis bila muncul gejala seperti nyeri perut hebat atau perdarahan.
"Orang tua tidak boleh menganggap remeh demam pada anak. Jika gejalanya mengarah ke tanda bahaya dengue, penanganan harus segera dilakukan,” tambahnya.
Upaya pencegahan perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penerapan 3M Plus hingga konsultasi dengan dokter mengenai imunisasi dengue yang kini direkomendasikan bagi anak usia 4–18 tahun.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menegaskan pentingnya kolaborasi semua pihak.
"Beban dengue di Indonesia sangat besar. Karena itu, pencegahan harus menjadi prioritas melalui langkah yang konsisten, kolaboratif, dan inovatif," pungkasnya.