Bagikan:

JAKARTA - Kentut adalah hal yang sangat normal. Bahkan, menurut penelitian, rata-rata orang bisa kentut hingga 15 kali sehari. Namun kalau frekuensinya jauh lebih sering disertai bau menyengat, perut terasa kembung, atau rasa sakit, bisa jadi tubuh sedang memberi sinyal ada masalah di sistem pencernaan Anda.

Gas dalam perut terbentuk dari beberapa hal. Bisa karena udara yang ikut tertelan saat makan, proses pencernaan normal, hingga makanan tinggi serat yang difermentasi oleh bakteri usus.

"Gas dalam usus bisa terbentuk karena udara yang kita telan, proses pencernaan, makanan tinggi serat, dan aktivitas bakteri usus," bunyi laporan dari laman Better Health.

Makanan seperti kacang-kacangan, kol, bawang, atau susu pada orang yang intoleran laktosa sering kali jadi biang kerok.

Meski kentut adalah hal yang normal, ada beberapa tanda yang tidak boleh diabaikan. Misalnya, ketika frekuensinya terlalu sering hingga puluhan kali sehari, bau yang muncul sangat menyengat meski pola makan sudah dijaga, perut terasa kembung dan tidak nyaman, atau muncul sakit perut dan kram.

Perubahan kebiasaan buang air besar, baik berupa sembelit maupun diare, juga bisa menjadi sinyal adanya masalah. Begitu pula jika terdapat darah pada feses atau berat badan turun tanpa sebab yang jelas. Jika gejala-gejala tersebut muncul, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.

Kentut berlebihan bisa menandakan adanya masalah seperti irritable bowel syndrome (IBS), intoleransi laktosa, atau intoleransi FODMAP (karbohidrat rantai pendek yang sulit dicerna). Jika ada gejala lain selain kentut seperti sakit perut berkepanjangan, makan jangan dianggap remeh.

Untuk memastikan penyebabnya, dokter mungkin akan melakukan tes napas hidrogen atau bahkan biopsi usus kecil bila dicurigai intoleransi laktosa.

Jika kentut yang dialami masih tergolong normal dan tidak disertai keluhan lain, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba. Kurangi konsumsi makanan pemicu gas seperti kacang-kacangan, kol, atau minuman bersoda.

Usahakan juga untuk tidak makan terburu-buru agar tidak terlalu banyak udara yang ikut tertelan. Batasi produk susu apabila perut terasa tidak nyaman setelah mengonsumsinya, dan perkenalkan makanan tinggi serat secara bertahap, bukan dalam jumlah banyak sekaligus.