Bagikan:

JAKARTA - Kanker payudara masih menjadi salah satu penyakit dengan tingkat kecemasan tinggi di kalangan perempuan. Namun, langkah awal seperti biopsi justru menjadi pintu penting untuk menentukan arah pengobatan yang paling sesuai dengan kondisi tiap pasien.

Di balik rasa takut terhadap prosedur ini, terdapat manfaat besar dalam memastikan diagnosis dan strategi medis yang akurat.

Menurut dr. Farida Briani Sobri, SpB(K)Onk, Dokter Spesialis Bedah Onkologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), biopsi tidak hanya digunakan untuk mengonfirmasi keberadaan sel kanker, tetapi juga untuk mengenali karakter biologis dari kanker tersebut.

“Melalui biopsi, kami bisa melihat apakah sel bersifat ganas, serta mengidentifikasi penanda biologis seperti ER, PR, HER2, dan KI67,” jelasnya seperti dikutip ANTARA, 11 Juni.

Hasil pemeriksaan ini memungkinkan dokter mengklasifikasikan kanker payudara ke dalam tipe-tipe seperti Luminal A, Luminal B, HER2-positive, maupun triple-negative (TNBC). Setiap tipe memiliki respons terapi yang berbeda, sehingga langkah pengobatan harus dipersonalisasi.

Ia mengingatkan bahwa tidak semua benjolan di payudara adalah kanker. “Hanya sekitar 10 persen dari kelainan di payudara yang bersifat ganas. Oleh karena itu, penting untuk tetap tenang namun tidak mengabaikan gejalanya,” ujarnya.

Farida juga menekankan dalam perjalanan pengobatan, biopsi ulang atau rebiopsi mungkin diperlukan. Ini dilakukan jika terdapat perubahan pada kondisi pasien atau ketika respons terhadap terapi tidak sesuai harapan.

“Kami perlu memastikan apakah karakteristik kanker masih sama atau telah berubah, karena perubahan tersebut bisa memengaruhi arah pengobatan selanjutnya,” tambahnya.

Rasa takut terhadap prosedur ini pun sebaiknya tidak menjadi penghalang. Berkat teknologi medis yang semakin canggih, sebagian besar biopsi kini dapat dilakukan dengan metode minimal invasif, seperti penggunaan jarum halus dengan bantuan pencitraan USG, mamografi, atau MRI. Ini membuat prosedurnya lebih nyaman dan cepat.

Dari sisi biaya, prosedur biopsi minimal invasif juga lebih hemat dibandingkan operasi terbuka, bahkan bisa hanya seperempat dari total biaya pembedahan.

Menurut National Breast Cancer Foundation, jenis biopsi yang umum digunakan meliputi fine-needle aspiration, core-needle biopsy, surgical biopsy, dan skin punch biopsy. Pemilihannya disesuaikan dengan kondisi klinis masing-masing pasien, termasuk ukuran dan lokasi benjolan, riwayat kesehatan, serta hasil pencitraan sebelumnya.

Pendiri Yayasan Smart Pink Indonesia itu juga menegaskan bahwa sebagian besar benjolan yang ditemukan di payudara bersifat jinak. Mengacu pada data dari Breast Cancer Research Foundation, hanya sekitar 3–6 persen benjolan yang bersifat kanker. Sementara menurut Stony Brook Cancer Center, hingga 80 persen benjolan yang diperiksa melalui biopsi ternyata tidak berbahaya.

Untuk itu, saat menemui kelainan pada payudara, langkah yang paling bijak bukanlah panik atau menunda pemeriksaan, melainkan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Evaluasi medis yang tepat akan memberikan kepastian, mengurangi rasa cemas, dan membuka jalan bagi pengobatan yang efektif.

Sebagai penutup, dr. Farida mengajak para pasien untuk memahami dasar-dasar kanker payudara—dari jenis dan subtipenya hingga opsi terapi yang tersedia. Dengan informasi yang cukup, pasien akan merasa lebih siap, lebih percaya diri, dan bisa terlibat secara aktif dalam proses pengobatannya.

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+