Bagikan:

JAKARTA - Menstruasi merupakan bagian alami dari siklus reproduksi perempuan. Meskipun setiap wanita bisa memiliki pola menstruasi yang berbeda, ada beberapa ciri umum yang menandakan bahwa menstruasi berjalan secara sehat.

Pertama, siklus menstruasi yang teratur, yaitu berkisar antara 21 hingga 35 hari. Kedua, durasi perdarahan yang normal berkisar antara dua hingga sepuluh hari. Terakhir, volume darah yang keluar tidak berlebihan, umumnya setara dengan tiga hingga lima pembalut normal per hari.

Memahami dan mencatat ketiga aspek ini sangat penting agar perempuan bisa mengenali bila terjadi gangguan dan segera mencari bantuan medis.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Boy Abidin, SpOG, Subsp. FER, menekankan pentingnya pemantauan siklus menstruasi secara sadar. Menurutnya, masih banyak perempuan yang tidak mencatat siklus haidnya dan cenderung mengabaikan perubahan-perubahan yang mungkin menjadi tanda awal masalah kesehatan.

"Sering kali saya temui pasien yang tidak tahu pasti kapan terakhir menstruasi atau berapa lama berlangsungnya. Mereka hanya mengira-ngira. Padahal, ada tiga indikator yang bisa menjadi acuan," ujar dr. Boy dalam acara temu media di Jakarta, baru-baru ini, seperti dikutip ANTARA.

Indikator pertama, jelasnya, adalah durasi siklus. Siklus menstruasi yang sehat biasanya berkisar antara 21 sampai 35 hari. Perhitungan dimulai dari hari pertama darah keluar dalam jumlah banyak—bukan dari bercak awal—hingga hari pertama siklus berikutnya.

Indikator kedua adalah lama perdarahan. Normalnya, darah menstruasi keluar selama dua hingga sepuluh hari. "Kalau hanya satu hari saja, itu tidak termasuk menstruasi. Tapi kalau sampai dua minggu dan darah yang keluar banyak, maka perlu diperiksa lebih lanjut karena bisa jadi ada gangguan," jelasnya.

Yang ketiga adalah jumlah darah yang keluar. Idealnya, volume darah haid berkisar antara tiga hingga lima pembalut normal per hari. Jika lebih dari itu atau justru terlalu sedikit, bisa menjadi pertanda adanya kelainan.

Dr. Boy juga mengungkapkan bahwa masih banyak perempuan di Indonesia yang menganggap keluhan seperti nyeri haid hebat atau perdarahan yang sangat banyak sebagai sesuatu yang wajar. Hal ini sering kali diturunkan secara turun-temurun atau akibat minimnya edukasi serta stigma yang masih melekat pada isu menstruasi.

Ia mengimbau agar perempuan tidak mengabaikan gejala-gejala tidak normal selama menstruasi, seperti nyeri haid yang mengganggu aktivitas atau perdarahan yang berlangsung lebih dari 14 hari. Dalam kasus seperti itu, konsultasi dengan dokter sangat dianjurkan agar bisa segera dilakukan penanganan sebelum berdampak pada kesehatan lebih lanjut, misalnya anemia.

"Stigma yang menganggap semua bentuk menstruasi adalah normal justru bisa berbahaya. Penting bagi perempuan untuk memahami batasan-batasan yang dianggap sehat dalam siklus haidnya," pungkasnya.