Tak Sekadar Pameran, Fadli Zon Inginkan Museum Jadi Kekuatan Budaya Dunia

JAKARTA – Keberadaan museum selama ini boleh dikatakan pasif. Hanya menjadi tempat untuk memamerkan koleksi benda bersejarah dan warisan budaya. Padahal, lebih dari itu fungsi museum bisa dieksplorasi lebih luas.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan Indonesia tak boleh lagi jadi penonton dalam forum kebudayaan dunia. Melalui penguatan Komite Nasional ICOM Indonesia, Fadli menegaskan Indonesia harus menjadi pemain utama dalam jejaring museum internasional dan menentukan arah kebijakan global terkait warisan budaya.

Pernyataan itu disampaikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat menerima kunjungan Komite Nasional ICOM Indonesia di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Rabu (26/3). Pertemuan ini menjadi momentum penting, menandai pengakuan resmi ICOM Indonesia dalam kancah internasional setelah berbadan hukum sejak 2023.

Dalam pertemuan tersebut hadir Ketua ICOM Indonesia Budi Trinovari, Dirjen Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah Tjahjani Dwirini R, Direktur Sejarah dan Permuseuman Agus Mulyana, serta para staf ahli dan perwakilan anggota ICOM Indonesia.

Fadli Zon menegaskan, Indonesia sebagai negara besar dengan kekayaan budaya yang luar biasa, tidak boleh lagi hanya menjadi pengikut dalam organisasi internasional. “Kita adalah negara keempat terbesar di dunia. Sudah saatnya kita ikut menentukan arah kebijakan kebudayaan global, termasuk dalam hal permuseuman,” tegasnya.

ICOM (International Council of Museums) adalah organisasi global yang berdiri sejak 1946 dan memiliki status konsultatif di UNESCO. Keanggotaannya tersebar di 142 negara, mencakup museum, institusi budaya, profesional, hingga donatur. Dengan pengakuan resmi terhadap Komite Nasional ICOM Indonesia, komunikasi dengan ICOM pusat di Paris kini bisa dilakukan secara langsung dan formal.

Selama beberapa tahun terakhir, ICOM Indonesia aktif berpartisipasi dalam forum internasional. Termasuk dalam peringatan Hari Museum Internasional di Filipina pada Mei 2024, forum diskusi kelompok (FGD) tentang peran museum dalam pendidikan dan karakter bangsa, serta konferensi dan general assembly ICOM.

Fadli Zon mengapresiasi langkah-langkah tersebut. Namun ia menegaskan bahwa Indonesia harus lebih berani bertransformasi. “Museum Nasional Indonesia harus kita jadikan benchmark. Kita perlu mulai dari reinventarisasi koleksi, sistem penyimpanan, hingga tata pamer. Museum kita harus menarik, punya narasi kuat, dan bisa jadi tempat belajar sekaligus destinasi budaya,” ujarnya.

Ia juga menyoroti perlunya pelatihan berkelanjutan bagi kurator, edukator, dan manajer museum. Menurutnya, transformasi museum tidak hanya soal bangunan fisik atau koleksi, tetapi juga soal kapasitas sumber daya manusianya.

Fadli mendorong adanya sinergi antara Kementerian Kebudayaan dan Komite Nasional ICOM Indonesia dalam menyusun program peningkatan mutu museum secara menyeluruh. Termasuk dalam hal standardisasi, perawatan koleksi, hingga desain kuratorial yang selaras dengan kebutuhan publik.

Ia juga mengungkapkan dukungannya terhadap rencana pembentukan Museum ASEAN di Sekretariat ASEAN. “Museum ini penting sebagai pusat dokumentasi dan sejarah ASEAN. Kita harus proaktif dalam mendorong realisasinya, bersama Kementerian Luar Negeri,” ungkapnya.

Di akhir pertemuan, Menteri Kebudayaan Fadli Zon kembali menekankan pentingnya keterlibatan Indonesia di forum budaya dunia. “Kita tidak boleh hanya jadi penonton. Kita harus punya posisi tawar dan peran aktif dalam membentuk ekosistem budaya global, termasuk lewat ICOM Indonesia,” tandasnya.