JAKARTA – Presiden Anduril, Christian Brose, menyatakan bahwa perusahaan rintisan pertahanan berbasis kecerdasan buatan (AI) tersebut memiliki "vibes" yang baik terkait perubahan kebijakan pertahanan di bawah pemerintahan baru Donald Trump. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara di Australian International Air Show pada Rabu 26 Maret.
Brose, yang pernah bekerja untuk senator Partai Republik, John McCain, mengatakan bahwa pendekatan baru pemerintahan Trump terhadap sistem pertahanan selaras dengan visi Anduril dalam mengembangkan sistem pertahanan otonom berbiaya rendah.
"Kami melihat peluang besar dan tampaknya ada banyak keinginan dari pemerintahan Trump untuk melakukan perubahan signifikan dalam kebijakan pertahanan," ujar Brose.
Anduril, yang didirikan oleh Palmer Luckey—mantan eksekutif Facebook yang keluar dari perusahaan karena dukungannya terhadap Trump—menyatakan bahwa kerja sama mereka dengan OpenAI dalam menerapkan solusi AI canggih untuk misi keamanan nasional semakin memperkuat posisi mereka dalam industri pertahanan.
Brose secara terbuka mengkritik sistem pengadaan alutsista di AS dan mengungkapkan bahwa pemerintahan Trump memiliki ketidakpuasan serupa.
"Kami memiliki hubungan dengan pemerintahan saat ini—bukan rahasia lagi bahwa pendiri kami telah memberikan dukungan finansial kepada Trump dan mendukungnya dalam waktu yang lama," tambahnya.
Meski Pentagon baru-baru ini mengarahkan para pemimpin militer untuk menyusun daftar pemotongan anggaran pertahanan hingga 50 miliar dolar AS (Rp8289 triliun), Brose menilai bahwa pengurangan sebesar 8% tersebut bukan sekadar pemotongan belanja, melainkan strategi untuk mengalihkan dana ke pengembangan teknologi militer baru.
Ekspansi Anduril ke Australia
Anduril tengah membangun fasilitas manufaktur massal untuk sistem otonom mereka di Ohio, AS, dan berencana memperluas produksinya ke luar negeri, termasuk Australia jika terdapat peluang bisnis yang mendukung.
Di Australia, Anduril telah menguji perangkat lunak deteksi intrusi berbasis AI di Pangkalan Udara RAAF Darwin, yang menjadi tuan rumah bagi pasukan Marinir AS selama enam bulan setiap tahunnya.
VOIR éGALEMENT:
CEO Anduril Australia, David Goodrich, mengatakan bahwa perusahaan juga telah mengajukan penawaran untuk memproduksi roket berbahan bakar padat bagi Departemen Pertahanan Australia dalam proyek Guided Weapons and Explosive Ordnance Enterprise.
Selain itu, mereka telah mengembangkan mesin bawah laut otonom Ghost Shark bersama dengan Angkatan Pertahanan Australia, dan dalam waktu dekat akan mengumumkan produksi massal untuk teknologi ini.
Integrasi dengan AUKUS
Sebagai bagian dari perjanjian AUKUS, AS dan Inggris akan membantu Australia dalam transfer teknologi kapal selam bertenaga nuklir, yang diestimasi akan menelan biaya lebih dari 360 miliar dolar Australia dalam beberapa dekade mendatang.
Menurut Brose, investasi dalam kapal selam berawak dan sistem otonom bukanlah pilihan antara salah satu, melainkan kombinasi yang saling melengkapi.
"Keuntungan dari sistem otonom seperti Ghost Shark adalah waktu produksinya jauh lebih cepat, dapat dibuat dalam jumlah besar, dan dengan biaya yang jauh lebih rendah," tutup Brose
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)