JAKARTA - Harga minyak naik melampaui 90 dolar AS per barel untuk pertama kalinya dalam lebih dari sebulan seiring meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang mengakibatkan tewasnya tiga anggota militer AS dan serangan terhadap kapal tanker.
Dilansir dari CNN, Senin, 20 Juli, minyak mentah Brent, acuan harga minyak global, sempat naik ke level tertinggi sejak 11 Juni sebelum akhirnya sedikit terkoreksi dan diperdagangkan sekitar 1% lebih tinggi di angka 88,24 dolar AS per barel. West Texas Intermediate (WTI), acuan harga minyak AS, naik kurang dari 1% menjadi 82,26 dolar AS per barel.
Menurut Deutsche Bank, harga Brent melonjak hampir 16% pada pekan lalu—kenaikan mingguan terbesar sejak April—sementara harga acuan gas alam Eropa mencatat penutupan tertinggi sejak Maret.
Harga energi global terus merangkak naik setelah serangan AS terhadap Iran berlangsung selama sembilan malam berturut-turut. Menurut otoritas maritim Inggris, awak kapal terpaksa meninggalkan kapal yang terkena serangan pada Senin di dekat Selat Hormuz. Meluasnya serangan dalam beberapa hari terakhir telah memperparah kekhawatiran akan terjadinya perang yang lebih luas.
VOIR éGALEMENT:
"Nota Kesepahaman (MoU) di Selat Hormuz praktis sudah tidak berlaku lagi, dan infrastruktur energi di kawasan Teluk kini kembali menjadi sasaran serangan, disertai dengan segala risiko pasar yang menyertainya," tulis Neil Wilson, seorang ahli strategi di bank investasi Saxo.
"Risiko saat ini tampaknya lebih condong pada skenario harga energi yang tetap tinggi dalam waktu lama, serta tekanan inflasi dan suku bunga,” sambungnya.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)