Partager:

JAKARTA - Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan demonstrasi protes atas pemenjaraan wali kota Istanbul berubah menjadi "gerakan kekerasan”.

Dilansir Reuters, Senin, 24 Maret, Erdogan mengatakan partai oposisi utama akan dimintai pertanggungjawaban atas petugas polisi yang terluka dan kerusakan properti.

Penahanan Wali Kota Ekrem Imamoglu, pesaing politik utama Erdogan, pada Rabu lalu telah memicu protes jalanan terbesar di Turki dalam lebih dari satu dekade. Pada hari Minggu, pengadilan memenjarakannya, sambil menunggu persidangan, atas tuduhan korupsi yang dibantahnya.

Meskipun ada larangan berkumpul di jalan di banyak kota, demonstrasi antipemerintah yang sebagian besar berlangsung damai terus berlanjut selama lima malam berturut-turut pada Minggu, dengan ratusan ribu orang ikut serta dan partai oposisi Imamoglu, Partai Rakyat Republik (CHP), menyerukan agar protes nasional terus berlanjut.

Berbicara setelah rapat kabinet di Ankara, Erdogan mengatakan CHP harus berhenti "memprovokasi" warga.

Erdogan mengatakan "pertunjukan" mereka pada akhirnya akan berakhir dan mereka akan merasa malu atas "kejahatan" yang telah mereka lakukan terhadap negara.

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Ali Yerlikiaya menuduh para pengunjuk rasa "meneror" jalanan dan mengancam keamanan nasional. Ia mengatakan 1.133 orang telah ditahan selama lima hari protes dan 123 petugas polisi telah terluka. CHP menyebut penangkapan Imamoglu bermotif politik dan tidak demokratis. Pemerintah Erdogan membantah pernyataan ini dan mengatakan pengadilan Turki bersifat independen.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)