Indonesia Desak Dewan Keamanan PBB Ambil Tindakan Hentikan Serangan Israel

JAKARTA - Indonesia mengecam serangan terbaru Israel ke Jalur Gaza, Palestina pada Hari Selasa yang menewaskan ratusan orang, mayoritas anak-anak dan perempuan, mendesak Perserikatan Bangsa Bangsa mengambil tindakan untuk menghentikan serangan tersebut.

Kementerian Luar Negeri RI dalam unggahannya di media sosial mengecam keras serangan yang terjadi di Bulan Ramadan tersebut.

"Serangan ini menambah rangkaian provokasi Israel yang mengancam gencatan senjata dan mengganggu prospek negosiasi perdamaian menuju Solusi Dua Negara," cuit Kementerian Luar Negeri RI di media sosial X seperti dikutip 19 Maret.

Serangan udara Israel menghantam Gaza, menewaskan lebih dari 400 orang, kata otoritas kesehatan Palestina pada Hari Selasa, dikutip dari Reuters 18 Maret, saat Israel bertekad menggunakan kekuatannya guna membebaskan seluruh sandera yang tersisa.

Serangan udara menghantam rumah-rumah dan perkemahan tenda dari utara ke selatan Jalur Gaza dan tank-tank Israel menembaki garis perbatasan ke timur dan selatan daerah kantong itu.

"Indonesia mendesak Dewan Keamanan PBB dan komunitas internasional untuk segera mengambil tindakan guna menghentikan serangan Israel, serta menyerukan semua pihak memulihkan gencatan senjata demi mencegah lebih banyak korban sipil," tulis Kemlu RI.

"Indonesia menegaskan kembali posisinya yang konsisten bahwa penghentian pendudukan ilegal Israel adalah satu-satunya jalan menuju perdamaian yang adil dan abadi di kawasan," tambah kementerian.

Serangan itu jauh lebih luas skalanya daripada serangan pesawat nirawak biasa yang menurut Israel telah dilakukan baru-baru ini terhadap tersangka militan, dan menyusul upaya yang gagal selama berminggu-minggu untuk menyetujui perpanjangan gencatan senjata yang disepakati pada 19 Januari.

Sumber medis Gaza mengatakan, sebagian besar korban serangan Israel adalah anak-anak dan wanita, dibawa ke rumah sakit di Jalur Gaza sejak fajar pada Hari Selasa.

Sementara itu, 660 lainnya terluka akibat serangkaian serangan udara dan sabuk api yang dilakukan oleh pesawat Israel. Sejumlah korban masih tertimbun reruntuhan.

Diketahui, Israel melanjutkan agresi mereka di Jalur Gaza saat fajar, setelah jeda lebih dari dua bulan, meluncurkan serangkaian serangan udara intensif dan sabuk api di beberapa wilayah di Jalur Gaza.

Kantor Perdana Menteri Israel mengonfirmasi dimulainya kembali perang di Jalur Gaza, dan cakupannya akan secara bertahap diperluas dalam beberapa jam mendatang.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan dia telah memberi tahu militer untuk mengambil "tindakan keras" terhadap Hamas sebagai tanggapan atas penolakan kelompok itu untuk membebaskan sandera yang tersisa dan karena penolakan mereka terhadap proposal gencatan senjata.

Hamas sendiri diperkirakan masih menahan 59 dari sekitar 250 sandera yang ditangkap dalam serangannya pada 7 Oktober 2023 di Israel, menuduh Israel melanggar gencatan senjata dan membahayakan upaya mediator untuk mengamankan gencatan senjata permanen.