JAKARTA - Ardhito Pramono (vokal, keytar), Hezky Joe (vokal, gitar), dan Erikson Jayanto (kibor) memilih gaya musik yang spesifik ketika mendebutkan Wijaya 80 pada September 2024.
Mereka konsisten dengan sound dari era 1980-an yang diinterpretasi ulang. Selain itu, gaya penulisan lirik hingga visual yang dihadirkan pun mencoba menampilkan kebesaran musik dari era tersebut.
Bicara mengenai referensi musik yang dirujuk Wijaya 80, Erikson menyebut banyak nama dari Indonesia. Namun, mereka juga terinspirasi musik city pop dan jazz-rock fusion yang berkembang di Jepang pada era 1980-an.
“Kalau gua pribadi banyak dengerin Indonesia Enam, lagu-lagu city pop, terus ada Candra Darusman, bahkan dengerin God Bless.selain itu, aa juga Yockie Suryo Prayogo, Casiopea, dan T Square,” kata Erikson saat ditemui di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu, 9 April.
Berbicara mengenai lagu-lagu city pop yang dipelopori Tatsuro Yamashita di Jepang, Erikson menyebut Wijaya 80 hanya mengambil sedikit dari genre tersebut. Mereka lebih mengutamakan musik Indonesia sebagai referensi.
SEE ALSO:
“Ada ngambil ke sana juga (city pop), cuma buat ornamennya sendiri banyak ambil dari musisi Indonesia tahun 1980-an,” ujar Erikson.
“Kita lebih dengerin ke Trans sih, bandnya Om Fariz RM sama Om Erwin Gutawa,” timpal Ardhito.
Lebih lanjut, Ardhito meyakini bahwa apa yang disebut sebagai city pop, sebenarnya sudah dimulai lebih dulu di Indonesia ketimbang Jepang.
“Kalau gua liat secara timeline, kayanya Trans duluan dari Tatsuro Yamashita. Trans itu lahir tahun 1978 di Bulungan, Tatsuro Yamashita baru merilis lagu tahun 1983. Jadi, city pop itu kayanya bukan Jepang yang menciptakan, tapi Fariz RM and the gang yang menciptakan,” pungkas Ardhito.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)