JAKARTA - Potensi pariwisata desa di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya minat wisatawan terhadap pengalaman autentik, budaya lokal, serta keindahan alam yang masih alami.

Setiap desa memiliki daya tarik unik mulai dari lanskap, kuliner, tradisi, hingga kerajinan yang dapat dikemas menjadi destinasi menarik bila dipromosikan dengan cara yang tepat.

Salah satu medium yang kini semakin efektif untuk mengenalkan potensi tersebut adalah film, karena mampu menghadirkan visual yang kuat, emosional, dan mudah menjangkau khalayak luas.

Dalam konteks itu, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) mengajak masyarakat desa menjadikan Festival Film Desa 2025 sebagai sarana untuk memperlihatkan kekayaan potensi desa, termasuk sektor wisata.

Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kemendes PDT, Samsul Widodo, menilai film dapat menjadi bentuk promosi halus yang mampu memperkuat citra desa wisata tanpa terasa mengiklankan.

Mengutip laman ANTARA, Ia mencontohkan fenomena film Laskar Pelangi yang sukses mengangkat nama Pulau Belitung sehingga mengundang banyak wisatawan datang. Menurutnya, film dapat menjadi pintu masuk yang efektif untuk menarik perhatian publik terhadap kekayaan suatu daerah.

Samsul berharap Festival Film Desa mampu memunculkan lebih banyak talenta muda dari desa. Ia menegaskan bahwa kreator film tidak harus berlatar pendidikan tinggi; kesempatan belajar kini sangat terbuka melalui pelatihan, workshop, serta jejaring komunitas yang disediakan dalam rangkaian festival.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa penyelenggaraan festival film ini lahir dari inisiatif kepala desa dan para aktivis desa yang selama ini aktif memproduksi film pendek bertema sosial dan budaya lokal. Melalui festival ini, pemerintah ingin memperluas jejaring film desa agar tidak hanya berhenti di lingkup komunitas kecil, tetapi berkembang menjadi gerakan nasional.

Festival Film Desa juga diharapkan menjadi ruang bagi masyarakat desa untuk menyalurkan kreativitas melalui medium film. Dengan teknologi yang semakin mudah diakses, pembuatan film kini dapat dilakukan hanya dengan perangkat sederhana, sehingga warga desa memiliki kesempatan lebih besar untuk berkarya.

Tak hanya mendorong kreativitas, Kemendes PDT melihat potensi ekonomi dari tumbuhnya aktivitas perfilman di desa. Proses produksi film dapat menghidupkan berbagai sektor, mulai dari penyewaan peralatan, jasa dokumentasi, konsumsi, hingga pariwisata lokal ketika lokasi syuting menarik perhatian publik.

Festival Film Desa 2025 dijadwalkan mencapai puncaknya pada 15 Januari 2026 di Kabupaten Boyolali, bertepatan dengan Hari Desa. Pemenang akan memperoleh Piala Menteri Desa, sertifikat, serta hadiah hiburan berupa perangkat elektronik untuk mendukung aktivitas kreatif mereka ke depan.

JAKARTA - Potensi pariwisata desa di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya minat wisatawan terhadap pengalaman autentik, budaya lokal, serta keindahan alam yang masih alami.

Setiap desa memiliki daya tarik unik mulai dari lanskap, kuliner, tradisi, hingga kerajinan yang dapat dikemas menjadi destinasi menarik bila dipromosikan dengan cara yang tepat.

Salah satu medium yang kini semakin efektif untuk mengenalkan potensi tersebut adalah film, karena mampu menghadirkan visual yang kuat, emosional, dan mudah menjangkau khalayak luas.

Dalam konteks itu, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) mengajak masyarakat desa menjadikan Festival Film Desa 2025 sebagai sarana untuk memperlihatkan kekayaan potensi desa, termasuk sektor wisata.

Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kemendes PDT, Samsul Widodo, menilai film dapat menjadi bentuk promosi halus yang mampu memperkuat citra desa wisata tanpa terasa mengiklankan.

Mengutip laman ANTARA, Ia mencontohkan fenomena film Laskar Pelangi yang sukses mengangkat nama Pulau Belitung sehingga mengundang banyak wisatawan datang. Menurutnya, film dapat menjadi pintu masuk yang efektif untuk menarik perhatian publik terhadap kekayaan suatu daerah.

Samsul berharap Festival Film Desa mampu memunculkan lebih banyak talenta muda dari desa. Ia menegaskan bahwa kreator film tidak harus berlatar pendidikan tinggi; kesempatan belajar kini sangat terbuka melalui pelatihan, workshop, serta jejaring komunitas yang disediakan dalam rangkaian festival.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa penyelenggaraan festival film ini lahir dari inisiatif kepala desa dan para aktivis desa yang selama ini aktif memproduksi film pendek bertema sosial dan budaya lokal. Melalui festival ini, pemerintah ingin memperluas jejaring film desa agar tidak hanya berhenti di lingkup komunitas kecil, tetapi berkembang menjadi gerakan nasional.

Festival Film Desa juga diharapkan menjadi ruang bagi masyarakat desa untuk menyalurkan kreativitas melalui medium film. Dengan teknologi yang semakin mudah diakses, pembuatan film kini dapat dilakukan hanya dengan perangkat sederhana, sehingga warga desa memiliki kesempatan lebih besar untuk berkarya.

Tak hanya mendorong kreativitas, Kemendes PDT melihat potensi ekonomi dari tumbuhnya aktivitas perfilman di desa. Proses produksi film dapat menghidupkan berbagai sektor, mulai dari penyewaan peralatan, jasa dokumentasi, konsumsi, hingga pariwisata lokal ketika lokasi syuting menarik perhatian publik.

Festival Film Desa 2025 dijadwalkan mencapai puncaknya pada 15 Januari 2026 di Kabupaten Boyolali, bertepatan dengan Hari Desa. Pemenang akan memperoleh Piala Menteri Desa, sertifikat, serta hadiah hiburan berupa perangkat elektronik untuk mendukung aktivitas kreatif mereka ke depan.

JAKARTA - Potensi pariwisata desa di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya minat wisatawan terhadap pengalaman autentik, budaya lokal, serta keindahan alam yang masih alami.

Setiap desa memiliki daya tarik unik mulai dari lanskap, kuliner, tradisi, hingga kerajinan yang dapat dikemas menjadi destinasi menarik bila dipromosikan dengan cara yang tepat.

Salah satu medium yang kini semakin efektif untuk mengenalkan potensi tersebut adalah film, karena mampu menghadirkan visual yang kuat, emosional, dan mudah menjangkau khalayak luas.

Dalam konteks itu, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) mengajak masyarakat desa menjadikan Festival Film Desa 2025 sebagai sarana untuk memperlihatkan kekayaan potensi desa, termasuk sektor wisata.

Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kemendes PDT, Samsul Widodo, menilai film dapat menjadi bentuk promosi halus yang mampu memperkuat citra desa wisata tanpa terasa mengiklankan.

Mengutip laman ANTARA, Ia mencontohkan fenomena film Laskar Pelangi yang sukses mengangkat nama Pulau Belitung sehingga mengundang banyak wisatawan datang. Menurutnya, film dapat menjadi pintu masuk yang efektif untuk menarik perhatian publik terhadap kekayaan suatu daerah.

Samsul berharap Festival Film Desa mampu memunculkan lebih banyak talenta muda dari desa. Ia menegaskan bahwa kreator film tidak harus berlatar pendidikan tinggi; kesempatan belajar kini sangat terbuka melalui pelatihan, workshop, serta jejaring komunitas yang disediakan dalam rangkaian festival.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa penyelenggaraan festival film ini lahir dari inisiatif kepala desa dan para aktivis desa yang selama ini aktif memproduksi film pendek bertema sosial dan budaya lokal. Melalui festival ini, pemerintah ingin memperluas jejaring film desa agar tidak hanya berhenti di lingkup komunitas kecil, tetapi berkembang menjadi gerakan nasional.

Festival Film Desa juga diharapkan menjadi ruang bagi masyarakat desa untuk menyalurkan kreativitas melalui medium film. Dengan teknologi yang semakin mudah diakses, pembuatan film kini dapat dilakukan hanya dengan perangkat sederhana, sehingga warga desa memiliki kesempatan lebih besar untuk berkarya.

Tak hanya mendorong kreativitas, Kemendes PDT melihat potensi ekonomi dari tumbuhnya aktivitas perfilman di desa. Proses produksi film dapat menghidupkan berbagai sektor, mulai dari penyewaan peralatan, jasa dokumentasi, konsumsi, hingga pariwisata lokal ketika lokasi syuting menarik perhatian publik.

Festival Film Desa 2025 dijadwalkan mencapai puncaknya pada 15 Januari 2026 di Kabupaten Boyolali, bertepatan dengan Hari Desa. Pemenang akan memperoleh Piala Menteri Desa, sertifikat, serta hadiah hiburan berupa perangkat elektronik untuk mendukung aktivitas kreatif mereka ke depan.

JAKARTA - Potensi pariwisata desa di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya minat wisatawan terhadap pengalaman autentik, budaya lokal, serta keindahan alam yang masih alami.

Setiap desa memiliki daya tarik unik mulai dari lanskap, kuliner, tradisi, hingga kerajinan yang dapat dikemas menjadi destinasi menarik bila dipromosikan dengan cara yang tepat.

Salah satu medium yang kini semakin efektif untuk mengenalkan potensi tersebut adalah film, karena mampu menghadirkan visual yang kuat, emosional, dan mudah menjangkau khalayak luas.

Dalam konteks itu, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) mengajak masyarakat desa menjadikan Festival Film Desa 2025 sebagai sarana untuk memperlihatkan kekayaan potensi desa, termasuk sektor wisata.

Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kemendes PDT, Samsul Widodo, menilai film dapat menjadi bentuk promosi halus yang mampu memperkuat citra desa wisata tanpa terasa mengiklankan.

Mengutip laman ANTARA, Ia mencontohkan fenomena film Laskar Pelangi yang sukses mengangkat nama Pulau Belitung sehingga mengundang banyak wisatawan datang. Menurutnya, film dapat menjadi pintu masuk yang efektif untuk menarik perhatian publik terhadap kekayaan suatu daerah.

Samsul berharap Festival Film Desa mampu memunculkan lebih banyak talenta muda dari desa. Ia menegaskan bahwa kreator film tidak harus berlatar pendidikan tinggi; kesempatan belajar kini sangat terbuka melalui pelatihan, workshop, serta jejaring komunitas yang disediakan dalam rangkaian festival.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa penyelenggaraan festival film ini lahir dari inisiatif kepala desa dan para aktivis desa yang selama ini aktif memproduksi film pendek bertema sosial dan budaya lokal. Melalui festival ini, pemerintah ingin memperluas jejaring film desa agar tidak hanya berhenti di lingkup komunitas kecil, tetapi berkembang menjadi gerakan nasional.

Festival Film Desa juga diharapkan menjadi ruang bagi masyarakat desa untuk menyalurkan kreativitas melalui medium film. Dengan teknologi yang semakin mudah diakses, pembuatan film kini dapat dilakukan hanya dengan perangkat sederhana, sehingga warga desa memiliki kesempatan lebih besar untuk berkarya.

Tak hanya mendorong kreativitas, Kemendes PDT melihat potensi ekonomi dari tumbuhnya aktivitas perfilman di desa. Proses produksi film dapat menghidupkan berbagai sektor, mulai dari penyewaan peralatan, jasa dokumentasi, konsumsi, hingga pariwisata lokal ketika lokasi syuting menarik perhatian publik.

Festival Film Desa 2025 dijadwalkan mencapai puncaknya pada 15 Januari 2026 di Kabupaten Boyolali, bertepatan dengan Hari Desa. Pemenang akan memperoleh Piala Menteri Desa, sertifikat, serta hadiah hiburan berupa perangkat elektronik untuk mendukung aktivitas kreatif mereka ke depan.

JAKARTA - Potensi pariwisata desa di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya minat wisatawan terhadap pengalaman autentik, budaya lokal, serta keindahan alam yang masih alami.

Setiap desa memiliki daya tarik unik mulai dari lanskap, kuliner, tradisi, hingga kerajinan yang dapat dikemas menjadi destinasi menarik bila dipromosikan dengan cara yang tepat.

Salah satu medium yang kini semakin efektif untuk mengenalkan potensi tersebut adalah film, karena mampu menghadirkan visual yang kuat, emosional, dan mudah menjangkau khalayak luas.

Dalam konteks itu, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) mengajak masyarakat desa menjadikan Festival Film Desa 2025 sebagai sarana untuk memperlihatkan kekayaan potensi desa, termasuk sektor wisata.

Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kemendes PDT, Samsul Widodo, menilai film dapat menjadi bentuk promosi halus yang mampu memperkuat citra desa wisata tanpa terasa mengiklankan.

Mengutip laman ANTARA, Ia mencontohkan fenomena film Laskar Pelangi yang sukses mengangkat nama Pulau Belitung sehingga mengundang banyak wisatawan datang. Menurutnya, film dapat menjadi pintu masuk yang efektif untuk menarik perhatian publik terhadap kekayaan suatu daerah.

Samsul berharap Festival Film Desa mampu memunculkan lebih banyak talenta muda dari desa. Ia menegaskan bahwa kreator film tidak harus berlatar pendidikan tinggi; kesempatan belajar kini sangat terbuka melalui pelatihan, workshop, serta jejaring komunitas yang disediakan dalam rangkaian festival.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa penyelenggaraan festival film ini lahir dari inisiatif kepala desa dan para aktivis desa yang selama ini aktif memproduksi film pendek bertema sosial dan budaya lokal. Melalui festival ini, pemerintah ingin memperluas jejaring film desa agar tidak hanya berhenti di lingkup komunitas kecil, tetapi berkembang menjadi gerakan nasional.

Festival Film Desa juga diharapkan menjadi ruang bagi masyarakat desa untuk menyalurkan kreativitas melalui medium film. Dengan teknologi yang semakin mudah diakses, pembuatan film kini dapat dilakukan hanya dengan perangkat sederhana, sehingga warga desa memiliki kesempatan lebih besar untuk berkarya.

Tak hanya mendorong kreativitas, Kemendes PDT melihat potensi ekonomi dari tumbuhnya aktivitas perfilman di desa. Proses produksi film dapat menghidupkan berbagai sektor, mulai dari penyewaan peralatan, jasa dokumentasi, konsumsi, hingga pariwisata lokal ketika lokasi syuting menarik perhatian publik.

Festival Film Desa 2025 dijadwalkan mencapai puncaknya pada 15 Januari 2026 di Kabupaten Boyolali, bertepatan dengan Hari Desa. Pemenang akan memperoleh Piala Menteri Desa, sertifikat, serta hadiah hiburan berupa perangkat elektronik untuk mendukung aktivitas kreatif mereka ke depan.

JAKARTA - Potensi pariwisata desa di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya minat wisatawan terhadap pengalaman autentik, budaya lokal, serta keindahan alam yang masih alami.

Setiap desa memiliki daya tarik unik mulai dari lanskap, kuliner, tradisi, hingga kerajinan yang dapat dikemas menjadi destinasi menarik bila dipromosikan dengan cara yang tepat.

Salah satu medium yang kini semakin efektif untuk mengenalkan potensi tersebut adalah film, karena mampu menghadirkan visual yang kuat, emosional, dan mudah menjangkau khalayak luas.

Dalam konteks itu, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) mengajak masyarakat desa menjadikan Festival Film Desa 2025 sebagai sarana untuk memperlihatkan kekayaan potensi desa, termasuk sektor wisata.

Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kemendes PDT, Samsul Widodo, menilai film dapat menjadi bentuk promosi halus yang mampu memperkuat citra desa wisata tanpa terasa mengiklankan.

Mengutip laman ANTARA, Ia mencontohkan fenomena film Laskar Pelangi yang sukses mengangkat nama Pulau Belitung sehingga mengundang banyak wisatawan datang. Menurutnya, film dapat menjadi pintu masuk yang efektif untuk menarik perhatian publik terhadap kekayaan suatu daerah.

Samsul berharap Festival Film Desa mampu memunculkan lebih banyak talenta muda dari desa. Ia menegaskan bahwa kreator film tidak harus berlatar pendidikan tinggi; kesempatan belajar kini sangat terbuka melalui pelatihan, workshop, serta jejaring komunitas yang disediakan dalam rangkaian festival.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa penyelenggaraan festival film ini lahir dari inisiatif kepala desa dan para aktivis desa yang selama ini aktif memproduksi film pendek bertema sosial dan budaya lokal. Melalui festival ini, pemerintah ingin memperluas jejaring film desa agar tidak hanya berhenti di lingkup komunitas kecil, tetapi berkembang menjadi gerakan nasional.

Festival Film Desa juga diharapkan menjadi ruang bagi masyarakat desa untuk menyalurkan kreativitas melalui medium film. Dengan teknologi yang semakin mudah diakses, pembuatan film kini dapat dilakukan hanya dengan perangkat sederhana, sehingga warga desa memiliki kesempatan lebih besar untuk berkarya.

Tak hanya mendorong kreativitas, Kemendes PDT melihat potensi ekonomi dari tumbuhnya aktivitas perfilman di desa. Proses produksi film dapat menghidupkan berbagai sektor, mulai dari penyewaan peralatan, jasa dokumentasi, konsumsi, hingga pariwisata lokal ketika lokasi syuting menarik perhatian publik.

Festival Film Desa 2025 dijadwalkan mencapai puncaknya pada 15 Januari 2026 di Kabupaten Boyolali, bertepatan dengan Hari Desa. Pemenang akan memperoleh Piala Menteri Desa, sertifikat, serta hadiah hiburan berupa perangkat elektronik untuk mendukung aktivitas kreatif mereka ke depan.

JAKARTA - The potential for village tourism in Indonesia continues to grow along with the increasing interest of tourists in authentic experiences, local culture, and natural beauty that are still natural.

Each village has unique attractions ranging from landscapes, culinary, traditions, to handicrafts that can be packaged into attractive destinations if promoted in the right way.

One medium that is now more effective in introducing this potential is the film, because it is able to present strong, emotional visuals, and easy to reach a wide audience.

In that context, the Ministry of Villages and Development of Disadvantaged Regions (Kemendes PDT) invites the village community to make the 2025 Village Film Festival a means to show the richness of village potential, including the tourism sector.

The Director General of Acceleration of Development of Disadvantaged Regions of the Ministry of Villages PDT, Samsul Widodo, assessed that films can be a form of smooth promotion that can strengthen the image of tourist villages without advertising.

Citing the ANTARA page, he gave an example of the Laskar Pelangi film phenomenon which successfully raised the name of Belitung Island so that it invited many tourists to come. According to him, films can be an effective entrance to attract public attention to the wealth of an area.

Samsul hopes that the Village Film Festival will be able to bring up more young talents from the village. He emphasized that film creators do not have to have a higher education background; learning opportunities are now very open through training, workshops, and community networks provided in a series of festivals.

Furthermore, he explained that the organization of this film festival was born from the initiative of village heads and village activists who had been actively producing short films with local social and cultural themes. Through this festival, the government wants to expand the village film network so that it not only stops in the small community, but develops into a national movement.

The Village Film Festival is also expected to be a space for rural communities to channel creativity through the film medium. With technology that is increasingly accessible, filmmaking can now be done only with simple tools, so that villagers have a greater opportunity to work.

Not only encouraging creativity, the Ministry of Villages PDT sees the economic potential of the growth of film activities in villages. The film production process can revive various sectors, ranging from equipment rental, documentation services, consumption, to local tourism when shooting locations attract public attention.

The 2025 Village Film Festival is scheduled to peak on January 15, 2026 in Boyolali Regency, to coincide with Village Day. Winners will receive the Village Minister's Cup, certificates, and entertainment prizes in the form of electronic devices to support their creative activities in the future.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)