JAKARTA - Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia membuka Forum Perdamaian Dunia ke-9 (World Peace Forum/WPF) dengan jamuan makan malam multikultural bertajuk Harmony in Culture: Embracing Diversity, Celebrating Unity di Galeri Nasional, Jakarta, Sabtu, 9 November. Acara ini menjadi simbol dimulainya forum internasional yang digelar pada 9–11 November 2025, diikuti oleh lebih dari 60 tokoh dari 24 negara dan 110 tokoh nasional lintas iman, akademisi, serta aktivis perdamaian.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa budaya harus menjadi bahasa utama perdamaian dunia. “Perdamaian harus ditumbuhkan. Ia tidak hadir begitu saja, melainkan tumbuh melalui dialog, saling menghargai, dan keberanian memahami satu sama lain,” ujarnya.

Fadli menyoroti tema besar forum bertajuk Considering Wasatiyyat Islam and Tionghua for Global Collaboration. Ia menekankan bahwa nilai-nilai Wasatiyyat Islam seperti tawasuth (moderasi), tawazun (keseimbangan), dan tasamuh (toleransi) selaras dengan falsafah Tionghoa He, Ren, dan Li yang menekankan harmoni, kebajikan, dan penghormatan moral. “Kesatuan bukan berarti tanpa perbedaan. Kebijaksanaan terletak pada kemampuan menumbuhkan pengertian di tengah keberagaman,” tegasnya.

Jamuan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh dunia, di antaranya Ketua WPF dan Chairman CDCC Din Syamsuddin, Presiden ke-4 Republik Kosovo Madame Atifete Jahjaga, Pendiri Cheng Ho Multicultural Education Trust Tan Sri Lee Kim Yew, Penasihat Al-Azhar Mesir Abbas Shuman dan Nahla Shabri Elsiedy, serta duta besar dari Mesir dan Iran.

Din Syamsuddin menilai tema Harmony in Culture sejalan dengan visi utama WPF yang mengusung semangat One Humanity, One Destiny, One Responsibility. “Perdamaian dunia hanya bisa terwujud jika menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa sejak pertama kali digelar pada 2006, forum ini konsisten menjadi ruang dialog global lintas keyakinan dan budaya.

Sementara itu, Tan Sri Lee Kim Yew menyebut Indonesia sebagai “jantung Asia” yang menampilkan keindahan persatuan dalam keberagaman. “Kebudayaan bukan hanya warisan, tetapi bahasa hidup dari perdamaian, jembatan antara bangsa dan hati manusia,” tuturnya.

Forum Perdamaian Dunia ke-9 digagas oleh Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) bekerja sama dengan Cheng Ho Multicultural Education Trust (Malaysia), Muhammadiyah, dan Global Fulcrum of Wasatiyyat Islam (GFWI). Acara puncak akan berlangsung di Hotel Grand Sahid Jaya, Kompleks Parlemen MPR/DPR Senayan, dan ditutup di Balai Kota DKI Jakarta.

Menutup pidatonya, Fadli Zon berharap forum ini memperkuat semangat dialog lintas bangsa. “Semoga jamuan malam ini menjadi awal persahabatan yang nyata dan berkembang menjadi kolaborasi konkret. Mari jadikan budaya sebagai bahasa utama perdamaian di antara kita semua,” ujarnya.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+