Pediatrician Warns Formula Milk Should Not Beacoused Carelessly In Refugees, Why?

JAKARTA - Dalam situasi bencana di Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Subar), dan Aceh, penanganan kebutuhan bayi menjadi perhatian kritis yang membutuhkan kebijakan tegas serta kehati-hatian.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan pemberian susu formula bagi terdampak bencana tidak boleh dilakukan sembarangan, terutama karena tingginya risiko kesehatan akibat keterbatasan air bersih.

Wakil Ketua IDAI Cabang Sumatera Utara, Dr. dr. Eka Airlangga, MKed(Ped), Sp.A menjelaskan secara rinci kebijakan IDAI selalu mengutamakan ASI eksklusif, khususnya untuk bayi berusia di bawah 6 bulan.

Menjawab banyaknya pertanyaan masyarakat mengenai pemberian susu formula di lokasi bencana, dr. Eka menegaskan bahwa kebijakan IDAI tidak berubah.

"Kebijakannya memang kita tetap mengedepankan ASI, terutama yang 6 bulan ke bawah," ujar dr. Eka melalui live Instagram @idai_ig pada Senin, 1 Desember 2025.

Ia menekankan dalam kondisi bencana, mempertahankan ASI justru menjadi upaya paling aman dan paling melindungi bayi dari risiko penyakit.

Situasi bencana hampir selalu disertai dengan kerusakan sarana air bersih. Ini berdampak langsung terhadap keamanan penggunaan susu formula.

"Konsumsi susu formula saat pengungsian dengan krisis air bersih seperti ini sangat berisiko," ujarnya.

Menurutnya, air untuk mengolah susu formula harus benar-benar bersih dan dimasak pada suhu yang memadai, sesuatu yang hampir mustahil dipastikan di lokasi bencana.

"Mendapatkan air yang sudah dimasak untuk dicampurkan ke susu formula sangat berisiko menimbulkan diare," ucapnya.

IDAI mencatat kasus diare meningkat setelah bencana dan sering terjadi pada bayi yang diberikan susu formula dengan persiapan yang tidak aman.

"Kasus-kasus bencana terutama dengan kerusakan sumber air bersih, kasus diare termasuk sering kami jumpai," ujarnya.

Maka dari itu, ia kembali memberi peringatan keras, "Kami wanti-wanti, hati-hati sekali menggunakan susu formula bagi bayi di daerah bencana, terutama yang 6 bulan ke bawah. Tetap diupayakan ASI,"

Dalam penjelasan lebih lanjut, dr. Eka mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa distribusi susu formula tidak boleh dilakukan bebas.

Ia menjelaskan bahwa memberi susu formula sembarangan pada bayi justru dapat membahayakan, terutama karena bayi seharusnya tetap mendapatkan ASI. Oleh karena itu, semua distribusi susu formula harus melewati jalur resmi.

"Pembagiannya itu dari Dinas Kesehatan, bukan langsung dibagi kepada para pengungsi," ucapnya.

Pendataan diperlukan untuk memastikan hanya bayi yang benar-benar tidak bisa disusui yang menerima susu formula.

"Perlu adanya pendataan dulu kalau misalkan ada bayi-bayi yang sudah minum susu formula. Kalau masih bisa relaktasi, relaktasi. Kalau tidak bisa, barulah diberikan melalui alur yang benar," imbuhnya.

Agar bayi dapat terus disusui, IDAI juga memprioritaskan dukungan bagi ibu. Dr. Eka menjelaskan bahwa stres dan kekurangan gizi dapat menghambat produksi ASI.

"Kami memberikan nutrisi layak pakai ke ibunya supaya ibunya tidak stres, juga supaya ASI-nya tetap lancar," bebernya.

Ia juga meminta agar dapur umum menyediakan makanan yang bergizi bagi para ibu.

"Dapur umum juga menyediakan makanan yang baik untuk ibunya." paparnya.

Dukungan ini penting karena kondisi bencana sering kali membuat ibu kelelahan dan kurang asupan makanan yang dapat menurunkan kemampuan menyusui.

JAKARTA - Dalam situasi bencana di Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Subar), dan Aceh, penanganan kebutuhan bayi menjadi perhatian kritis yang membutuhkan kebijakan tegas serta kehati-hatian.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan pemberian susu formula bagi terdampak bencana tidak boleh dilakukan sembarangan, terutama karena tingginya risiko kesehatan akibat keterbatasan air bersih.

Wakil Ketua IDAI Cabang Sumatera Utara, Dr. dr. Eka Airlangga, MKed(Ped), Sp.A menjelaskan secara rinci kebijakan IDAI selalu mengutamakan ASI eksklusif, khususnya untuk bayi berusia di bawah 6 bulan.

Menjawab banyaknya pertanyaan masyarakat mengenai pemberian susu formula di lokasi bencana, dr. Eka menegaskan bahwa kebijakan IDAI tidak berubah.

"Kebijakannya memang kita tetap mengedepankan ASI, terutama yang 6 bulan ke bawah," ujar dr. Eka melalui live Instagram @idai_ig pada Senin, 1 Desember 2025.

Ia menekankan dalam kondisi bencana, mempertahankan ASI justru menjadi upaya paling aman dan paling melindungi bayi dari risiko penyakit.

Situasi bencana hampir selalu disertai dengan kerusakan sarana air bersih. Ini berdampak langsung terhadap keamanan penggunaan susu formula.

"Konsumsi susu formula saat pengungsian dengan krisis air bersih seperti ini sangat berisiko," ujarnya.

Menurutnya, air untuk mengolah susu formula harus benar-benar bersih dan dimasak pada suhu yang memadai, sesuatu yang hampir mustahil dipastikan di lokasi bencana.

"Mendapatkan air yang sudah dimasak untuk dicampurkan ke susu formula sangat berisiko menimbulkan diare," ucapnya.

IDAI mencatat kasus diare meningkat setelah bencana dan sering terjadi pada bayi yang diberikan susu formula dengan persiapan yang tidak aman.

"Kasus-kasus bencana terutama dengan kerusakan sumber air bersih, kasus diare termasuk sering kami jumpai," ujarnya.

Maka dari itu, ia kembali memberi peringatan keras, "Kami wanti-wanti, hati-hati sekali menggunakan susu formula bagi bayi di daerah bencana, terutama yang 6 bulan ke bawah. Tetap diupayakan ASI,"

Dalam penjelasan lebih lanjut, dr. Eka mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa distribusi susu formula tidak boleh dilakukan bebas.

Ia menjelaskan bahwa memberi susu formula sembarangan pada bayi justru dapat membahayakan, terutama karena bayi seharusnya tetap mendapatkan ASI. Oleh karena itu, semua distribusi susu formula harus melewati jalur resmi.

"Pembagiannya itu dari Dinas Kesehatan, bukan langsung dibagi kepada para pengungsi," ucapnya.

Pendataan diperlukan untuk memastikan hanya bayi yang benar-benar tidak bisa disusui yang menerima susu formula.

"Perlu adanya pendataan dulu kalau misalkan ada bayi-bayi yang sudah minum susu formula. Kalau masih bisa relaktasi, relaktasi. Kalau tidak bisa, barulah diberikan melalui alur yang benar," imbuhnya.

Agar bayi dapat terus disusui, IDAI juga memprioritaskan dukungan bagi ibu. Dr. Eka menjelaskan bahwa stres dan kekurangan gizi dapat menghambat produksi ASI.

"Kami memberikan nutrisi layak pakai ke ibunya supaya ibunya tidak stres, juga supaya ASI-nya tetap lancar," bebernya.

Ia juga meminta agar dapur umum menyediakan makanan yang bergizi bagi para ibu.

"Dapur umum juga menyediakan makanan yang baik untuk ibunya." paparnya.

Dukungan ini penting karena kondisi bencana sering kali membuat ibu kelelahan dan kurang asupan makanan yang dapat menurunkan kemampuan menyusui.

JAKARTA - Dalam situasi bencana di Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Subar), dan Aceh, penanganan kebutuhan bayi menjadi perhatian kritis yang membutuhkan kebijakan tegas serta kehati-hatian.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan pemberian susu formula bagi terdampak bencana tidak boleh dilakukan sembarangan, terutama karena tingginya risiko kesehatan akibat keterbatasan air bersih.

Wakil Ketua IDAI Cabang Sumatera Utara, Dr. dr. Eka Airlangga, MKed(Ped), Sp.A menjelaskan secara rinci kebijakan IDAI selalu mengutamakan ASI eksklusif, khususnya untuk bayi berusia di bawah 6 bulan.

Menjawab banyaknya pertanyaan masyarakat mengenai pemberian susu formula di lokasi bencana, dr. Eka menegaskan bahwa kebijakan IDAI tidak berubah.

"Kebijakannya memang kita tetap mengedepankan ASI, terutama yang 6 bulan ke bawah," ujar dr. Eka melalui live Instagram @idai_ig pada Senin, 1 Desember 2025.

Ia menekankan dalam kondisi bencana, mempertahankan ASI justru menjadi upaya paling aman dan paling melindungi bayi dari risiko penyakit.

Situasi bencana hampir selalu disertai dengan kerusakan sarana air bersih. Ini berdampak langsung terhadap keamanan penggunaan susu formula.

"Konsumsi susu formula saat pengungsian dengan krisis air bersih seperti ini sangat berisiko," ujarnya.

Menurutnya, air untuk mengolah susu formula harus benar-benar bersih dan dimasak pada suhu yang memadai, sesuatu yang hampir mustahil dipastikan di lokasi bencana.

"Mendapatkan air yang sudah dimasak untuk dicampurkan ke susu formula sangat berisiko menimbulkan diare," ucapnya.

IDAI mencatat kasus diare meningkat setelah bencana dan sering terjadi pada bayi yang diberikan susu formula dengan persiapan yang tidak aman.

"Kasus-kasus bencana terutama dengan kerusakan sumber air bersih, kasus diare termasuk sering kami jumpai," ujarnya.

Maka dari itu, ia kembali memberi peringatan keras, "Kami wanti-wanti, hati-hati sekali menggunakan susu formula bagi bayi di daerah bencana, terutama yang 6 bulan ke bawah. Tetap diupayakan ASI,"

Dalam penjelasan lebih lanjut, dr. Eka mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa distribusi susu formula tidak boleh dilakukan bebas.

Ia menjelaskan bahwa memberi susu formula sembarangan pada bayi justru dapat membahayakan, terutama karena bayi seharusnya tetap mendapatkan ASI. Oleh karena itu, semua distribusi susu formula harus melewati jalur resmi.

"Pembagiannya itu dari Dinas Kesehatan, bukan langsung dibagi kepada para pengungsi," ucapnya.

Pendataan diperlukan untuk memastikan hanya bayi yang benar-benar tidak bisa disusui yang menerima susu formula.

"Perlu adanya pendataan dulu kalau misalkan ada bayi-bayi yang sudah minum susu formula. Kalau masih bisa relaktasi, relaktasi. Kalau tidak bisa, barulah diberikan melalui alur yang benar," imbuhnya.

Agar bayi dapat terus disusui, IDAI juga memprioritaskan dukungan bagi ibu. Dr. Eka menjelaskan bahwa stres dan kekurangan gizi dapat menghambat produksi ASI.

"Kami memberikan nutrisi layak pakai ke ibunya supaya ibunya tidak stres, juga supaya ASI-nya tetap lancar," bebernya.

Ia juga meminta agar dapur umum menyediakan makanan yang bergizi bagi para ibu.

"Dapur umum juga menyediakan makanan yang baik untuk ibunya." paparnya.

Dukungan ini penting karena kondisi bencana sering kali membuat ibu kelelahan dan kurang asupan makanan yang dapat menurunkan kemampuan menyusui.

JAKARTA - Dalam situasi bencana di Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Subar), dan Aceh, penanganan kebutuhan bayi menjadi perhatian kritis yang membutuhkan kebijakan tegas serta kehati-hatian.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan pemberian susu formula bagi terdampak bencana tidak boleh dilakukan sembarangan, terutama karena tingginya risiko kesehatan akibat keterbatasan air bersih.

Wakil Ketua IDAI Cabang Sumatera Utara, Dr. dr. Eka Airlangga, MKed(Ped), Sp.A menjelaskan secara rinci kebijakan IDAI selalu mengutamakan ASI eksklusif, khususnya untuk bayi berusia di bawah 6 bulan.

Menjawab banyaknya pertanyaan masyarakat mengenai pemberian susu formula di lokasi bencana, dr. Eka menegaskan bahwa kebijakan IDAI tidak berubah.

"Kebijakannya memang kita tetap mengedepankan ASI, terutama yang 6 bulan ke bawah," ujar dr. Eka melalui live Instagram @idai_ig pada Senin, 1 Desember 2025.

Ia menekankan dalam kondisi bencana, mempertahankan ASI justru menjadi upaya paling aman dan paling melindungi bayi dari risiko penyakit.

Situasi bencana hampir selalu disertai dengan kerusakan sarana air bersih. Ini berdampak langsung terhadap keamanan penggunaan susu formula.

"Konsumsi susu formula saat pengungsian dengan krisis air bersih seperti ini sangat berisiko," ujarnya.

Menurutnya, air untuk mengolah susu formula harus benar-benar bersih dan dimasak pada suhu yang memadai, sesuatu yang hampir mustahil dipastikan di lokasi bencana.

"Mendapatkan air yang sudah dimasak untuk dicampurkan ke susu formula sangat berisiko menimbulkan diare," ucapnya.

IDAI mencatat kasus diare meningkat setelah bencana dan sering terjadi pada bayi yang diberikan susu formula dengan persiapan yang tidak aman.

"Kasus-kasus bencana terutama dengan kerusakan sumber air bersih, kasus diare termasuk sering kami jumpai," ujarnya.

Maka dari itu, ia kembali memberi peringatan keras, "Kami wanti-wanti, hati-hati sekali menggunakan susu formula bagi bayi di daerah bencana, terutama yang 6 bulan ke bawah. Tetap diupayakan ASI,"

Dalam penjelasan lebih lanjut, dr. Eka mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa distribusi susu formula tidak boleh dilakukan bebas.

Ia menjelaskan bahwa memberi susu formula sembarangan pada bayi justru dapat membahayakan, terutama karena bayi seharusnya tetap mendapatkan ASI. Oleh karena itu, semua distribusi susu formula harus melewati jalur resmi.

"Pembagiannya itu dari Dinas Kesehatan, bukan langsung dibagi kepada para pengungsi," ucapnya.

Pendataan diperlukan untuk memastikan hanya bayi yang benar-benar tidak bisa disusui yang menerima susu formula.

"Perlu adanya pendataan dulu kalau misalkan ada bayi-bayi yang sudah minum susu formula. Kalau masih bisa relaktasi, relaktasi. Kalau tidak bisa, barulah diberikan melalui alur yang benar," imbuhnya.

Agar bayi dapat terus disusui, IDAI juga memprioritaskan dukungan bagi ibu. Dr. Eka menjelaskan bahwa stres dan kekurangan gizi dapat menghambat produksi ASI.

"Kami memberikan nutrisi layak pakai ke ibunya supaya ibunya tidak stres, juga supaya ASI-nya tetap lancar," bebernya.

Ia juga meminta agar dapur umum menyediakan makanan yang bergizi bagi para ibu.

"Dapur umum juga menyediakan makanan yang baik untuk ibunya." paparnya.

Dukungan ini penting karena kondisi bencana sering kali membuat ibu kelelahan dan kurang asupan makanan yang dapat menurunkan kemampuan menyusui.

JAKARTA - Dalam situasi bencana di Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Subar), dan Aceh, penanganan kebutuhan bayi menjadi perhatian kritis yang membutuhkan kebijakan tegas serta kehati-hatian.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan pemberian susu formula bagi terdampak bencana tidak boleh dilakukan sembarangan, terutama karena tingginya risiko kesehatan akibat keterbatasan air bersih.

Wakil Ketua IDAI Cabang Sumatera Utara, Dr. dr. Eka Airlangga, MKed(Ped), Sp.A menjelaskan secara rinci kebijakan IDAI selalu mengutamakan ASI eksklusif, khususnya untuk bayi berusia di bawah 6 bulan.

Menjawab banyaknya pertanyaan masyarakat mengenai pemberian susu formula di lokasi bencana, dr. Eka menegaskan bahwa kebijakan IDAI tidak berubah.

"Kebijakannya memang kita tetap mengedepankan ASI, terutama yang 6 bulan ke bawah," ujar dr. Eka melalui live Instagram @idai_ig pada Senin, 1 Desember 2025.

Ia menekankan dalam kondisi bencana, mempertahankan ASI justru menjadi upaya paling aman dan paling melindungi bayi dari risiko penyakit.

Situasi bencana hampir selalu disertai dengan kerusakan sarana air bersih. Ini berdampak langsung terhadap keamanan penggunaan susu formula.

"Konsumsi susu formula saat pengungsian dengan krisis air bersih seperti ini sangat berisiko," ujarnya.

Menurutnya, air untuk mengolah susu formula harus benar-benar bersih dan dimasak pada suhu yang memadai, sesuatu yang hampir mustahil dipastikan di lokasi bencana.

"Mendapatkan air yang sudah dimasak untuk dicampurkan ke susu formula sangat berisiko menimbulkan diare," ucapnya.

IDAI mencatat kasus diare meningkat setelah bencana dan sering terjadi pada bayi yang diberikan susu formula dengan persiapan yang tidak aman.

"Kasus-kasus bencana terutama dengan kerusakan sumber air bersih, kasus diare termasuk sering kami jumpai," ujarnya.

Maka dari itu, ia kembali memberi peringatan keras, "Kami wanti-wanti, hati-hati sekali menggunakan susu formula bagi bayi di daerah bencana, terutama yang 6 bulan ke bawah. Tetap diupayakan ASI,"

Dalam penjelasan lebih lanjut, dr. Eka mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa distribusi susu formula tidak boleh dilakukan bebas.

Ia menjelaskan bahwa memberi susu formula sembarangan pada bayi justru dapat membahayakan, terutama karena bayi seharusnya tetap mendapatkan ASI. Oleh karena itu, semua distribusi susu formula harus melewati jalur resmi.

"Pembagiannya itu dari Dinas Kesehatan, bukan langsung dibagi kepada para pengungsi," ucapnya.

Pendataan diperlukan untuk memastikan hanya bayi yang benar-benar tidak bisa disusui yang menerima susu formula.

"Perlu adanya pendataan dulu kalau misalkan ada bayi-bayi yang sudah minum susu formula. Kalau masih bisa relaktasi, relaktasi. Kalau tidak bisa, barulah diberikan melalui alur yang benar," imbuhnya.

Agar bayi dapat terus disusui, IDAI juga memprioritaskan dukungan bagi ibu. Dr. Eka menjelaskan bahwa stres dan kekurangan gizi dapat menghambat produksi ASI.

"Kami memberikan nutrisi layak pakai ke ibunya supaya ibunya tidak stres, juga supaya ASI-nya tetap lancar," bebernya.

Ia juga meminta agar dapur umum menyediakan makanan yang bergizi bagi para ibu.

"Dapur umum juga menyediakan makanan yang baik untuk ibunya." paparnya.

Dukungan ini penting karena kondisi bencana sering kali membuat ibu kelelahan dan kurang asupan makanan yang dapat menurunkan kemampuan menyusui.

JAKARTA - Dalam situasi bencana di Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Subar), dan Aceh, penanganan kebutuhan bayi menjadi perhatian kritis yang membutuhkan kebijakan tegas serta kehati-hatian.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan pemberian susu formula bagi terdampak bencana tidak boleh dilakukan sembarangan, terutama karena tingginya risiko kesehatan akibat keterbatasan air bersih.

Wakil Ketua IDAI Cabang Sumatera Utara, Dr. dr. Eka Airlangga, MKed(Ped), Sp.A menjelaskan secara rinci kebijakan IDAI selalu mengutamakan ASI eksklusif, khususnya untuk bayi berusia di bawah 6 bulan.

Menjawab banyaknya pertanyaan masyarakat mengenai pemberian susu formula di lokasi bencana, dr. Eka menegaskan bahwa kebijakan IDAI tidak berubah.

"Kebijakannya memang kita tetap mengedepankan ASI, terutama yang 6 bulan ke bawah," ujar dr. Eka melalui live Instagram @idai_ig pada Senin, 1 Desember 2025.

Ia menekankan dalam kondisi bencana, mempertahankan ASI justru menjadi upaya paling aman dan paling melindungi bayi dari risiko penyakit.

Situasi bencana hampir selalu disertai dengan kerusakan sarana air bersih. Ini berdampak langsung terhadap keamanan penggunaan susu formula.

"Konsumsi susu formula saat pengungsian dengan krisis air bersih seperti ini sangat berisiko," ujarnya.

Menurutnya, air untuk mengolah susu formula harus benar-benar bersih dan dimasak pada suhu yang memadai, sesuatu yang hampir mustahil dipastikan di lokasi bencana.

"Mendapatkan air yang sudah dimasak untuk dicampurkan ke susu formula sangat berisiko menimbulkan diare," ucapnya.

IDAI mencatat kasus diare meningkat setelah bencana dan sering terjadi pada bayi yang diberikan susu formula dengan persiapan yang tidak aman.

"Kasus-kasus bencana terutama dengan kerusakan sumber air bersih, kasus diare termasuk sering kami jumpai," ujarnya.

Maka dari itu, ia kembali memberi peringatan keras, "Kami wanti-wanti, hati-hati sekali menggunakan susu formula bagi bayi di daerah bencana, terutama yang 6 bulan ke bawah. Tetap diupayakan ASI,"

Dalam penjelasan lebih lanjut, dr. Eka mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa distribusi susu formula tidak boleh dilakukan bebas.

Ia menjelaskan bahwa memberi susu formula sembarangan pada bayi justru dapat membahayakan, terutama karena bayi seharusnya tetap mendapatkan ASI. Oleh karena itu, semua distribusi susu formula harus melewati jalur resmi.

"Pembagiannya itu dari Dinas Kesehatan, bukan langsung dibagi kepada para pengungsi," ucapnya.

Pendataan diperlukan untuk memastikan hanya bayi yang benar-benar tidak bisa disusui yang menerima susu formula.

"Perlu adanya pendataan dulu kalau misalkan ada bayi-bayi yang sudah minum susu formula. Kalau masih bisa relaktasi, relaktasi. Kalau tidak bisa, barulah diberikan melalui alur yang benar," imbuhnya.

Agar bayi dapat terus disusui, IDAI juga memprioritaskan dukungan bagi ibu. Dr. Eka menjelaskan bahwa stres dan kekurangan gizi dapat menghambat produksi ASI.

"Kami memberikan nutrisi layak pakai ke ibunya supaya ibunya tidak stres, juga supaya ASI-nya tetap lancar," bebernya.

Ia juga meminta agar dapur umum menyediakan makanan yang bergizi bagi para ibu.

"Dapur umum juga menyediakan makanan yang baik untuk ibunya." paparnya.

Dukungan ini penting karena kondisi bencana sering kali membuat ibu kelelahan dan kurang asupan makanan yang dapat menurunkan kemampuan menyusui.

JAKARTA - Dalam situasi bencana di Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Subar), dan Aceh, penanganan kebutuhan bayi menjadi perhatian kritis yang membutuhkan kebijakan tegas serta kehati-hatian.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan pemberian susu formula bagi terdampak bencana tidak boleh dilakukan sembarangan, terutama karena tingginya risiko kesehatan akibat keterbatasan air bersih.

Wakil Ketua IDAI Cabang Sumatera Utara, Dr. dr. Eka Airlangga, MKed(Ped), Sp.A menjelaskan secara rinci kebijakan IDAI selalu mengutamakan ASI eksklusif, khususnya untuk bayi berusia di bawah 6 bulan.

Menjawab banyaknya pertanyaan masyarakat mengenai pemberian susu formula di lokasi bencana, dr. Eka menegaskan bahwa kebijakan IDAI tidak berubah.

"Kebijakannya memang kita tetap mengedepankan ASI, terutama yang 6 bulan ke bawah," ujar dr. Eka melalui live Instagram @idai_ig pada Senin, 1 Desember 2025.

Ia menekankan dalam kondisi bencana, mempertahankan ASI justru menjadi upaya paling aman dan paling melindungi bayi dari risiko penyakit.

Situasi bencana hampir selalu disertai dengan kerusakan sarana air bersih. Ini berdampak langsung terhadap keamanan penggunaan susu formula.

"Konsumsi susu formula saat pengungsian dengan krisis air bersih seperti ini sangat berisiko," ujarnya.

Menurutnya, air untuk mengolah susu formula harus benar-benar bersih dan dimasak pada suhu yang memadai, sesuatu yang hampir mustahil dipastikan di lokasi bencana.

"Mendapatkan air yang sudah dimasak untuk dicampurkan ke susu formula sangat berisiko menimbulkan diare," ucapnya.

IDAI mencatat kasus diare meningkat setelah bencana dan sering terjadi pada bayi yang diberikan susu formula dengan persiapan yang tidak aman.

"Kasus-kasus bencana terutama dengan kerusakan sumber air bersih, kasus diare termasuk sering kami jumpai," ujarnya.

Maka dari itu, ia kembali memberi peringatan keras, "Kami wanti-wanti, hati-hati sekali menggunakan susu formula bagi bayi di daerah bencana, terutama yang 6 bulan ke bawah. Tetap diupayakan ASI,"

Dalam penjelasan lebih lanjut, dr. Eka mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa distribusi susu formula tidak boleh dilakukan bebas.

Ia menjelaskan bahwa memberi susu formula sembarangan pada bayi justru dapat membahayakan, terutama karena bayi seharusnya tetap mendapatkan ASI. Oleh karena itu, semua distribusi susu formula harus melewati jalur resmi.

"Pembagiannya itu dari Dinas Kesehatan, bukan langsung dibagi kepada para pengungsi," ucapnya.

Pendataan diperlukan untuk memastikan hanya bayi yang benar-benar tidak bisa disusui yang menerima susu formula.

"Perlu adanya pendataan dulu kalau misalkan ada bayi-bayi yang sudah minum susu formula. Kalau masih bisa relaktasi, relaktasi. Kalau tidak bisa, barulah diberikan melalui alur yang benar," imbuhnya.

Agar bayi dapat terus disusui, IDAI juga memprioritaskan dukungan bagi ibu. Dr. Eka menjelaskan bahwa stres dan kekurangan gizi dapat menghambat produksi ASI.

"Kami memberikan nutrisi layak pakai ke ibunya supaya ibunya tidak stres, juga supaya ASI-nya tetap lancar," bebernya.

Ia juga meminta agar dapur umum menyediakan makanan yang bergizi bagi para ibu.

"Dapur umum juga menyediakan makanan yang baik untuk ibunya." paparnya.

Dukungan ini penting karena kondisi bencana sering kali membuat ibu kelelahan dan kurang asupan makanan yang dapat menurunkan kemampuan menyusui.

JAKARTA - Dalam situasi bencana di Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Subar), dan Aceh, penanganan kebutuhan bayi menjadi perhatian kritis yang membutuhkan kebijakan tegas serta kehati-hatian.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan pemberian susu formula bagi terdampak bencana tidak boleh dilakukan sembarangan, terutama karena tingginya risiko kesehatan akibat keterbatasan air bersih.

Wakil Ketua IDAI Cabang Sumatera Utara, Dr. dr. Eka Airlangga, MKed(Ped), Sp.A menjelaskan secara rinci kebijakan IDAI selalu mengutamakan ASI eksklusif, khususnya untuk bayi berusia di bawah 6 bulan.

Menjawab banyaknya pertanyaan masyarakat mengenai pemberian susu formula di lokasi bencana, dr. Eka menegaskan bahwa kebijakan IDAI tidak berubah.

"Kebijakannya memang kita tetap mengedepankan ASI, terutama yang 6 bulan ke bawah," ujar dr. Eka melalui live Instagram @idai_ig pada Senin, 1 Desember 2025.

Ia menekankan dalam kondisi bencana, mempertahankan ASI justru menjadi upaya paling aman dan paling melindungi bayi dari risiko penyakit.

Situasi bencana hampir selalu disertai dengan kerusakan sarana air bersih. Ini berdampak langsung terhadap keamanan penggunaan susu formula.

"Konsumsi susu formula saat pengungsian dengan krisis air bersih seperti ini sangat berisiko," ujarnya.

Menurutnya, air untuk mengolah susu formula harus benar-benar bersih dan dimasak pada suhu yang memadai, sesuatu yang hampir mustahil dipastikan di lokasi bencana.

"Mendapatkan air yang sudah dimasak untuk dicampurkan ke susu formula sangat berisiko menimbulkan diare," ucapnya.

IDAI mencatat kasus diare meningkat setelah bencana dan sering terjadi pada bayi yang diberikan susu formula dengan persiapan yang tidak aman.

"Kasus-kasus bencana terutama dengan kerusakan sumber air bersih, kasus diare termasuk sering kami jumpai," ujarnya.

Maka dari itu, ia kembali memberi peringatan keras, "Kami wanti-wanti, hati-hati sekali menggunakan susu formula bagi bayi di daerah bencana, terutama yang 6 bulan ke bawah. Tetap diupayakan ASI,"

Dalam penjelasan lebih lanjut, dr. Eka mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa distribusi susu formula tidak boleh dilakukan bebas.

Ia menjelaskan bahwa memberi susu formula sembarangan pada bayi justru dapat membahayakan, terutama karena bayi seharusnya tetap mendapatkan ASI. Oleh karena itu, semua distribusi susu formula harus melewati jalur resmi.

"Pembagiannya itu dari Dinas Kesehatan, bukan langsung dibagi kepada para pengungsi," ucapnya.

Pendataan diperlukan untuk memastikan hanya bayi yang benar-benar tidak bisa disusui yang menerima susu formula.

"Perlu adanya pendataan dulu kalau misalkan ada bayi-bayi yang sudah minum susu formula. Kalau masih bisa relaktasi, relaktasi. Kalau tidak bisa, barulah diberikan melalui alur yang benar," imbuhnya.

Agar bayi dapat terus disusui, IDAI juga memprioritaskan dukungan bagi ibu. Dr. Eka menjelaskan bahwa stres dan kekurangan gizi dapat menghambat produksi ASI.

"Kami memberikan nutrisi layak pakai ke ibunya supaya ibunya tidak stres, juga supaya ASI-nya tetap lancar," bebernya.

Ia juga meminta agar dapur umum menyediakan makanan yang bergizi bagi para ibu.

"Dapur umum juga menyediakan makanan yang baik untuk ibunya." paparnya.

Dukungan ini penting karena kondisi bencana sering kali membuat ibu kelelahan dan kurang asupan makanan yang dapat menurunkan kemampuan menyusui.

JAKARTA - Dalam situasi bencana di Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Subar), dan Aceh, penanganan kebutuhan bayi menjadi perhatian kritis yang membutuhkan kebijakan tegas serta kehati-hatian.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan pemberian susu formula bagi terdampak bencana tidak boleh dilakukan sembarangan, terutama karena tingginya risiko kesehatan akibat keterbatasan air bersih.

Wakil Ketua IDAI Cabang Sumatera Utara, Dr. dr. Eka Airlangga, MKed(Ped), Sp.A menjelaskan secara rinci kebijakan IDAI selalu mengutamakan ASI eksklusif, khususnya untuk bayi berusia di bawah 6 bulan.

Menjawab banyaknya pertanyaan masyarakat mengenai pemberian susu formula di lokasi bencana, dr. Eka menegaskan bahwa kebijakan IDAI tidak berubah.

"Kebijakannya memang kita tetap mengedepankan ASI, terutama yang 6 bulan ke bawah," ujar dr. Eka melalui live Instagram @idai_ig pada Senin, 1 Desember 2025.

Ia menekankan dalam kondisi bencana, mempertahankan ASI justru menjadi upaya paling aman dan paling melindungi bayi dari risiko penyakit.

Situasi bencana hampir selalu disertai dengan kerusakan sarana air bersih. Ini berdampak langsung terhadap keamanan penggunaan susu formula.

"Konsumsi susu formula saat pengungsian dengan krisis air bersih seperti ini sangat berisiko," ujarnya.

Menurutnya, air untuk mengolah susu formula harus benar-benar bersih dan dimasak pada suhu yang memadai, sesuatu yang hampir mustahil dipastikan di lokasi bencana.

"Mendapatkan air yang sudah dimasak untuk dicampurkan ke susu formula sangat berisiko menimbulkan diare," ucapnya.

IDAI mencatat kasus diare meningkat setelah bencana dan sering terjadi pada bayi yang diberikan susu formula dengan persiapan yang tidak aman.

"Kasus-kasus bencana terutama dengan kerusakan sumber air bersih, kasus diare termasuk sering kami jumpai," ujarnya.

Maka dari itu, ia kembali memberi peringatan keras, "Kami wanti-wanti, hati-hati sekali menggunakan susu formula bagi bayi di daerah bencana, terutama yang 6 bulan ke bawah. Tetap diupayakan ASI,"

Dalam penjelasan lebih lanjut, dr. Eka mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa distribusi susu formula tidak boleh dilakukan bebas.

Ia menjelaskan bahwa memberi susu formula sembarangan pada bayi justru dapat membahayakan, terutama karena bayi seharusnya tetap mendapatkan ASI. Oleh karena itu, semua distribusi susu formula harus melewati jalur resmi.

"Pembagiannya itu dari Dinas Kesehatan, bukan langsung dibagi kepada para pengungsi," ucapnya.

Pendataan diperlukan untuk memastikan hanya bayi yang benar-benar tidak bisa disusui yang menerima susu formula.

"Perlu adanya pendataan dulu kalau misalkan ada bayi-bayi yang sudah minum susu formula. Kalau masih bisa relaktasi, relaktasi. Kalau tidak bisa, barulah diberikan melalui alur yang benar," imbuhnya.

Agar bayi dapat terus disusui, IDAI juga memprioritaskan dukungan bagi ibu. Dr. Eka menjelaskan bahwa stres dan kekurangan gizi dapat menghambat produksi ASI.

"Kami memberikan nutrisi layak pakai ke ibunya supaya ibunya tidak stres, juga supaya ASI-nya tetap lancar," bebernya.

Ia juga meminta agar dapur umum menyediakan makanan yang bergizi bagi para ibu.

"Dapur umum juga menyediakan makanan yang baik untuk ibunya." paparnya.

Dukungan ini penting karena kondisi bencana sering kali membuat ibu kelelahan dan kurang asupan makanan yang dapat menurunkan kemampuan menyusui.

JAKARTA - In a disaster situation in North Sumatra (North Sumatra), West Sumatra (West Sumatra), and Aceh, handling baby needs is a critical concern that requires firm and careful policies.

The Indonesian Pediatrician Association (IDAI) emphasized that giving formulas for disaster-affected milk should not be done carelessly, especially because of the high health risks due to limited clean water.

Deputy Chairperson of IDAI North Sumatra Branch, Dr. dr. Eka Airlangga, MKed (Ped), Sp.A explained in detail the IDAI policy always prioritizes exclusive breast milk, especially for infants under 6 months of age.

Answering many questions from the public regarding the provision of formula milk at the disaster site, dr. Eka emphasized that the IDAI policy did not change.

"The policy is that we continue to prioritize breast milk, especially those 6 months and under," said dr. Eka via live Instagram @idai_ig on Monday, December 1, 2025.

He emphasized that in disaster conditions, maintaining breast milk is the safest effort and most protects babies from the risk of disease.

The disaster situation is almost always accompanied by damage to clean water facilities. This has a direct impact on the safety of using formula milk.

"Consumption of formula milk during evacuation with a clean water crisis like this is very risky," he said.

According to him, the water to process formula milk must be completely clean and cooked at adequate temperatures, something almost impossible to confirm at the disaster site.

"Getting cooked water to be mixed into formula milk is very risky to cause diarrhea," he said.

IDAI noted that cases of diarrhea increased after a disaster and often occurred in babies who were given formula milk with unsafe preparation.

"Disaster cases, especially with damage to clean water sources, cases of diarrhea, including often we encounter them," he said.

Therefore, he again gave a strong warning, "We warned, be very careful using formula milk for babies in disaster areas, especially those 6 months and under. Breast milk is still sought,"

In a further explanation, dr. Eka said that the public needs to understand that the distribution of formula milk should not be carried out freely.

He explained that giving baby milk formulas can actually be dangerous, especially because babies should still get breast milk. Therefore, all distributions of formula milk must go through official channels.

"The distribution is from the Health Service, not directly divided among the refugees," he said.

Data collection is needed to ensure that only babies that can't really be breastfed receive formula milk.

"There needs to be data collection first if for example there are babies who have taken formula milk. If they can still relax, relax. If they can't, then they will be given through the right flow," he added.

So that babies can continue to be breastfed, IDAI also prioritizes support for mothers. Dr. Eka explained that stress and malnutrition can inhibit breast milk production.

"We provide nutrition that is suitable for use to their mothers so that their mothers are not stressed, as well as so that their breast milk remains smooth," he explained.

He also asked the public kitchen to provide nutritious food for mothers.

"Public kitchens also provide good food for their mothers." he explained.

This support is important because disaster conditions often make mothers tired and lack of food intake that can reduce breastfeeding skills.