Tekanan Modal Asing dan Ketidakpastian Global Bayangi Pergerakan Rupiah Hari Ini
JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat, 24 Oktober diperkirakan akan bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Untuk diketahui mengutip Bloomberg, pada hari Kamis, 23 Oktober, Kurs rupiah spot ditutup melemah 0,27 persen ke level Rp16.585 per dolar AS. Sementara itu, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup turun 0,17 persen di level harga Rp16.645 per dolar AS.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan penutupan pemerintah AS memasuki hari ke-22, menandai hari terpanjang kedua dalam sejarah, dengan negosiasi antara Gedung Putih dan Kongres masih menemui jalan buntu.
"Presiden Trump menegaskan kembali bahwa Partai Republik tidak akan diperas, karena diskusi mengenai kesepakatan pendanaan masih mandek," ujarnya dalam keterangannya, dikutip Jumat, 24 Oktober.
Selain itu, ia menambahkan pasar saat ini memperkirakan penurunan suku bunga 25 basis point oleh The Fed sebagai sesuatu yang hampir pasti pada pertemuan kebijakan moneternya pada 29-30 Oktober, meskipun data inflasi masih dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan The Fed ke depannya.
Ibrahim menambahkan data ekonomi AS minggu ini cukup ringan, dengan fokus pada Indeks Harga Konsumen (IHK) hari dan pembacaan awal Indeks Manajer Pembelian (PMI) Global S&P untuk bulan Oktober yang akan dirilis hari Jumat.
Sementara dari dalam negeri, Ibrahim menyampaikan pasar merespon negatif terhadap pernyataan Bank Indonesia bahwa aliran modal asing yang terus keluar dari Indonesia membuat pihaknya terus mengandalkan cadangan devisa (cadev), lantaran tekanan terhadap aliran modal asing itu turut mengganggu stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Adapun sejak bulan September 2025 hingga 20 Oktober 2025, investasi portofolio tercatat net outflows sebesar 5,26 miliar dolar AS yang mengharuskan Bank Indonesia untuk melakukan intervensi dalam rangka stabilisasi nilai tukar Rupiah.
SEE ALSO:
Ibrahim menyampaikan kondisi tekanan aliran modal asing itulah yang pada akhirnya membuat cadangan devisa Indonesia terus mengalami penurunan saat ini.
Sebagaimana diketahui, posisi cadev Indonesia sempat ke level 157 miliar dolar AS pada Maret 2025, namun ambles ke level 149 miliar dolar AS per September 2025.
Menurutnya hal ini terjadi karena outlflow yang terlalu besar akibat adanya pembayaran untuk dividen, repatriasi, dan juga untuk pinjaman, sehingga BI harus menggunakan dana cadangan devisa untuk melakukan intervensi dipasar baik pasar DNDF maupun pasar NDF tujuannya untuk menstabilkan mata uang rupiah.
Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah pada perdagangan Jumat, 24 Oktober 2025 dalam rentang harga Rp16.620 - Rp16.680 per dolar AS.