Kebal Hukum, Israel Serang Pangkalan Militer di Suriah Meski Diperingatkan UE
JAKARTA - Setidaknya lima orang tewas akibat serangan militer Israel di Kota Kuwayya, Provinsi Daraa, Suriah selatan pada Selasa 25 Maret waktu setempat.
Mengutip AFP, Otoritas Provinsi Daraa dalam pernyataannya yang diunggah di Telegram melaporkan, jumlah korban tewas sementara lima orang imbas pemboman Israel di Kota Kuwayya, di sebelah barat Daraa.
Akibatnya penduduk setempat panik melarikan diri dari dampak penembakan tank Israel. Serangan Israel kemudian menargetkan dua pangkalan militer di Suriah tengah.
"Beberapa saat yang lalu, IDF menyerang kemampuan militer yang masih berada di pangkalan militer Suriah di Tadmur dan T4," tulis pernyataan militer Israel, merujuk pada pangkalan di Palmyra dan 50 kilometer (30 mil) di sebelah barat kota.
"IDF akan terus bertindak untuk menghilangkan ancaman apa pun yang ditimbulkan bagi warga negara Israel," sambung pernyataan.
Pada Senin 24 Maret, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa (UE) Kaja Kallas memperingatkan bahwa serangan Israel terhadap Suriah dan Lebanon berisiko tinggi meningkatkan ketegangan dan memperburuk situasi.
"Tindakan militer harus proporsional, dan serangan Israel ke Suriah dan Lebanon berisiko meningkatkan eskalasi lebih lanjut," kata Kallas pada konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar saat berkunjung ke Yerusalem.
"Kami merasa bahwa hal-hal ini tidak perlu karena Suriah saat ini tidak menyerang Israel dan itu memicu lebih banyak radikalisasi yang juga ditujukan terhadap Israel," kata Kallas kepada wartawan.
SEE ALSO:
Di Suriah, Israel telah melancarkan ratusan serangan terhadap lokasi militer sejak pemberontak menggulingkan Bashar Assad pada bulan Desember 2024.
Israel berdalih ingin mencegah senjata jatuh ke tangan otoritas baru yang dianggapnya militan.
Meskipun telah menyepakati gencatan senjata, Israel juga terus melakukan serangan terhadap Lebanon — dengan kedua belah pihak berulang kali menuduh pihak lain melanggar gencatan senjata.
Israel melancarkan serangan udara di Lebanon selatan pada hari Sabtu pekan kemarin, menewaskan delapan orang, sebagai tanggapan atas tembakan roket yang menghantam wilayahnya untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata berlaku pada tanggal 27 November.