JAKARTA - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menemukan sejumlah masalah pada hunian sementara (huntara) yang dibangun bagi korban bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.
Hal tersebut terungkap usai Dody meninjau lokasi pada Sabtu, 6 Juni 2026. Dia mengungkapkan, masih terdapat titik-titik tanah yang belum sepenuhnya stabil.
Bahkan, pergerakan tanah kembali terjadi di ujung kawasan huntara, sehingga memicu keretakan pada sejumlah bangunan.
"Tadi lihat huntara di Tegal masih ada masalah. Di bagian ujung, tanahnya goyang lagi. Jadi, masih ada beberapa tempat yang tanahnya belum stabil. Sehingga bangunannya agak retak," ucap Dody dikutip dari keterangan tertulis, Senin, 8 Juni.
Temuan tersebut menjadi perhatian Kementerian PU karena huntara dibangun untuk menampung warga terdampak bencana tanah bergerak yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu.
Meski begitu, Dody memastikan pemerintah segera melakukan perbaikan terhadap unit-unit bangunan terdampak.
Kementerian PU menargetkan, enam unit huntara yang mengalami kerusakan dapat kembali dihuni dalam waktu dekat.
"Saat ini masih proses provisional hand over (PHO) atau pemeliharaan," katanya.
Dia menambahkan, perbaikan diperkirakan rampung dalam dua hari ke depan, sehingga warga dapat kembali menempati hunian tersebut dengan aman dan nyaman.
Menurut Dody, penanganan pascabencana tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata, tetapi juga harus memastikan faktor keselamatan jangka panjang bagi masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut.
Oleh karena itu, pemerintah akan terus melakukan evaluasi dan kajian teknis terhadap kondisi tanah di lokasi hunian guna mengantisipasi risiko pergerakan tanah susulan.
Saat ini, kawasan huntara yang dibangun Kementerian PU telah menampung sekitar 456 kepala keluarga (KK).
Hunian tersebut terdiri atas 38 blok, dengan masing-masing blok berisi 12 unit rumah sementara.
BACA JUGA:
Selain menyediakan tempat tinggal, kawasan huntara juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung.
Mulai dari jaringan listrik, pasokan air bersih, masjid, balai warga, pos kesehatan hingga lapangan mini soccer untuk mendukung aktivitas sosial masyarakat selama masa pemulihan pascabencana.
Temuan retakan akibat tanah yang kembali bergerak menjadi pengingat bahwa tantangan penanganan bencana tidak berhenti setelah hunian dibangun.
Stabilitas lahan dan mitigasi risiko jangka panjang tetap menjadi perhatian utama yang harus dipastikan agar warga terdampak dapat tinggal dengan aman.