Bagikan:

JAKARTA — China kembali mendorong reformasi perusahaan negara. Kali ini, tekanannya bukan hanya efisiensi bisnis, tetapi juga energi bersih, ketahanan pasokan, kecerdasan buatan, dan pasar nasional yang lebih terpadu.

Disadur dari laporan China Daily, Jumat, 5 Juni, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China atau NDRC menggelar pertemuan dengan sejumlah BUMN pada Selasa. Agenda utamanya memperdalam reformasi korporasi, memperkuat pembangunan hijau, menjaga keamanan energi, dan mempercepat pembentukan pasar nasional terpadu.

Pertemuan itu dihadiri pimpinan tujuh BUMN besar. Di antaranya China COSCO Shipping Corp, China Coal Technology and Engineering Group, China Resource Recycling Group, China Logistics Group, China Shulian Logistics Information Co, Air China Cargo, dan China Shenhua Coal to Liquid and Chemical Co.

Para pimpinan perusahaan melaporkan kondisi produksi, operasional, dan kemajuan reformasi. Mereka juga menyampaikan masalah di lapangan serta usulan kebijakan kepada pemerintah.

Ketua NDRC Zheng Shanjie mengatakan tahun ini menjadi awal Rencana Lima Tahun ke-15 China periode 2026–2030. Karena itu, reformasi aset negara dan BUMN harus diperdalam sesuai arahan pemerintah pusat.

Zheng meminta BUMN lebih tajam dalam menata struktur usaha. Reformasi, kata Zheng, harus berorientasi pada tujuan dan masalah nyata.

Ia juga menekankan peran BUMN dalam inovasi teknologi, pengendalian industri, dan dukungan terhadap keamanan strategis. Peran itu dinilai penting untuk mendorong daya saing dan vitalitas perusahaan negara.

NDRC juga mendorong BUMN mendukung pasar nasional terpadu, yakni pasar dengan aturan, distribusi, dan arus barang yang lebih seragam di seluruh negeri. Perusahaan negara diminta membantu menjaga sistem pasar dasar dan membangun jaringan distribusi modern.

Isu energi menjadi bagian penting. Zheng menekankan pelaksanaan strategi “karbon ganda”, yakni target mencapai puncak emisi karbon dan netralitas karbon. BUMN juga diminta memperkuat ketahanan energi melalui pemanfaatan batu bara yang lebih bersih.

Selain itu, BUMN diminta memberi contoh dalam mendukung usaha kecil dan mikro swasta. Pemerintah China ingin pertumbuhan berbagai jenis kepemilikan usaha berjalan saling melengkapi.

Perusahaan yang hadir menyatakan akan menjalankan rencana nasional dan terus memperdalam reformasi. Mereka juga berkomitmen masuk lebih jauh ke pasar nasional terpadu, mempercepat pembangunan jaringan distribusi modern, dan menekan biaya logistik.

Biaya logistik menjadi isu penting karena berpengaruh langsung pada efisiensi ekonomi. Makin mahal distribusi barang, makin berat biaya yang ditanggung industri dan konsumen.

Sejalan dengan target karbon China, perusahaan-perusahaan itu juga berjanji memperkuat daur ulang sumber daya, mendorong pemanfaatan batu bara yang lebih bersih dan rendah karbon, mengembangkan industri kimia batu bara, serta menjamin pasokan energi penting.

Para ahli menilai reformasi BUMN kini tidak lagi sebatas urusan tata kelola perusahaan. Reformasi itu sudah menjadi bagian dari strategi negara dalam menghadapi persaingan global, terutama di bidang teknologi baru seperti kecerdasan buatan atau AI.

Shu Wenqi, Wakil Direktur China Institute for Urban Development, mengatakan pertemuan itu memberi sinyal bahwa modal negara harus lebih banyak diarahkan ke industri strategis dan berorientasi masa depan.

Menurut Shu, sektor seperti AI, manufaktur maju, serta integrasi energi dan teknologi digital penting untuk memperkuat posisi BUMN sebagai penggerak inovasi teknologi.

Laporan China Daily menyebutkan, kemampuan BUMN dalam inovasi dan pengendalian industri dinilai penting untuk menjaga ketahanan ekonomi China di tengah persaingan global yang makin rumit.

Shu juga menilai China perlu memperbaiki sistem penilaian dan insentif, memperbesar investasi riset dan pengembangan, serta membangun konsorsium inovasi yang terbuka dan kolaboratif.

Menurut Shu, modal negara baru benar-benar bisa memperkuat pembangunan jika mampu memimpin penguasaan teknologi baru seperti AI, mendukung pasar nasional terpadu, dan memperkokoh dasar daya saing strategis China.