JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis, 4 Juni.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.45 WIB, rupiah berada di level Rp18.029 per dolar AS, melemah 62,50 poin atau 0,35 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Sebagai perbandingan, pada penutupan perdagangan Rabu, 3 Juni 2026, kurs rupiah spot tercatat melemah 0,71 persen ke posisi Rp17.967 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia juga turun 0,31 persen ke level Rp17.931 per dolar AS.
Pelemahan ini semakin mendekatkan rupiah ke level psikologis baru dan menjadi salah satu posisi terlemah sepanjang sejarah perdagangannya terhadap dolar AS, sebagai gambaran, pasca pelantikan Presiden Prabowo Subianto pada Senin, 21 Oktober 2024, rupiah masih berada di kisaran Rp15.503 per dolar AS. Artinya, dibandingkan level tersebut, nilai tukar rupiah kini telah terdepresiasi lebih dari Rp2.500 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong, menilai rupiah masih berpotensi melanjutkan pelemahan seiring penguatan dolar AS yang didorong meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Selain itu, ia menyampaikan data ketenagakerjaan AS melalui ADP Employment Change dan indeks ISM Jasa yang lebih baik dari ekspektasi turut memberikan dukungan bagi mata uang Negeri Paman Sam.
BACA JUGA:
"Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat di tengah tensi geopolitik yang meningkat di timur tengah. Data pekerjaan AS ADP dan ISM Jasa yang lebih kuat dari perkiraan juga ikut mendukung dolar AS," ujarnya kepada VOI, Kamis, 4 Juni.
Ia menambahkan dari dalam negeri, sentimen pasar dinilai masih belum cukup kuat untuk menopang rupiah.
Menurutnya dengan pelemahan tersebut, Bank Indonesia akan melakukan intervensi yang lebih agresif guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Lukman memperkirakan untuk perdagangan hari ini, rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS.