JAKARTA - Di antara sembilan proyek yang dipresentasikan pada Jakarta Scholars Symposium (JSS) Volume V – Catalysts for Change, stan bertuliskan `The Business Blueprint` menjadi salah satu yang paling ramai dikunjungi di Soehanna Hall, Energy Building, SCBD. Di baliknya, berdiri Nasya Mapaye, siswi Jakarta Intercultural School (JIS), yang merancang dan menjalankan lokakarya wirausaha sepekan khusus untuk remaja pengungsi di Jakarta.
Inisiatif ini lahir dari kesadaran Nasya akan realitas yang dihadapi sekitar 9.000 keluarga pengungsi di Indonesia: hidup bertahun-tahun tanpa akses kerja legal maupun pendidikan formal. Alih-alih melihat kondisi ini sebagai jalan buntu, Nasya mengubahnya menjadi titik berangkat.
Dari Kelas ke Bisnis Nyata
The Business Blueprint dirancang sebagai lokakarya intensif selama satu pekan yang menyesuaikan materi dengan keterbatasan hukum yang dihadapi peserta. Program ini tidak hanya mengajarkan teori — melainkan mendorong peserta untuk langsung mempraktikkan konsep bisnis dalam konteks kehidupan mereka.
Materi inti yang diajarkan meliputi:
• Analisis pitch ala Shark Tank — melatih peserta menyampaikan ide secara ringkas dan meyakinkan
• Identifikasi masalah pelanggan dan dasar-dasar perhitungan biaya serta harga
• Pembangunan identitas merek sederhana: logo, slogan, dan kemasan awal
• Strategi pemasaran yang relevan dan mudah diterapkan
• Komunikasi bisnis dalam bahasa Inggris untuk membangun kepercayaan diri peserta
Di akhir program, setiap tim peserta berhasil menghasilkan konsep usaha mikro, draf kit branding, serta pitch singkat yang mereka presentasikan di hadapan teman sebaya dan mentor. Fasilitator mencatat peningkatan nyata dalam kolaborasi, kepercayaan diri, dan kejernihan ide di antara para peserta.
Di Panggung JSS: Dari Presentasi ke Klinik Mini
Dalam sesi talk-nya di hadapan audiens JSS, Nasya menegaskan bahwa martabat tidak hanya lahir dari hak, tetapi juga dari agensi — dan agensi bisa dimulai dari usaha kecil yang aman dan sesuai aturan. Pesan ini disambut antusias oleh peserta maupun pengunjung umum yang hadir di acara bertajuk `seperti TED, tapi lebih berdampak` tersebut.

Seusai sesi, stan The Business Blueprint berubah menjadi klinik mini interaktif. Pengunjung dapat mencicipi produk prototipe yang dibuat peserta, memindai QR code untuk mengakses kurikulum lengkap, serta menanyakan langsung cara menjadi relawan atau sponsor program. Dokumentasi foto di stan --mulai dari papan proyek, uji harga, hingga desain kemasan awal-- menjadi bukti visual perjalanan belajar yang otentik dan menggugah.
Mengapa Ini Relevan Sekarang
Meski regulasi ketenagakerjaan bagi pengungsi di Indonesia belum mengalami perubahan signifikan, keterampilan wirausaha yang diajarkan The Business Blueprint mampu membuka celah pendapatan kecil yang dapat menstabilkan keluarga. Lebih dari itu, pelatihan ini membekali remaja pengungsi dengan keterampilan lunak yang transferable --perencanaan, kerja tim, dan pitching-- yang akan tetap relevan ketika peluang pendidikan atau penempatan ulang kelak terbuka.
"Martabat tumbuh bersama agensi — dan agensi bisa dimulai dari usaha kecil, aman, dan rumahan yang sesuai aturan."
— Nasya Mapaye, inisiator The Business Blueprint
Langkah Selanjutnya: Memperluas Dampak
Nasya telah merancang peta jalan untuk mengembangkan The Business Blueprint menjadi program yang lebih sistematis dan berkelanjutan:
• Perluasan kohort: bermitra dengan pusat belajar komunitas untuk menjalankan siklus rutin bertema kuliner, kerajinan, dan layanan digital
• Hibah mikro: menyediakan modal awal kecil bagi ide usaha yang paling siap jalan, disertai pendampingan bertahap
• Jaringan mentor: merekrut pelaku usaha Indonesia dan klub kampus untuk melatih branding, pembukuan, dan penjualan
• Toolkit terbuka: menerbitkan lembar kerja dwibahasa (Indonesia–Inggris) agar komunitas dapat menjalankan program secara mandiri
Cara Mendukung

Mitra dari sektor swasta, lembaga pendidikan, maupun individu dapat berkontribusi dalam tiga cara: menjadi tuan rumah satu siklus lokakarya, membimbing satu tim peserta, atau mendanai hibah mikro. Ketiga langkah ini merupakan jalur konkret untuk mengubah inisiatif siswa menjadi program berkelanjutan bagi remaja pengungsi di Jakarta.